Mei Hua duduk dengan dingin di bangku taman. Ia selalu begitu tiap pagi. Menahun. Membiarkan jari-jari cahaya yang menyelinap lewat celah daun beringin menyisir rambut sebahunya. Meloloskan kaki-kaki cahaya yang menyiram kulitnya dengan bau pagi.

DI taman itu Mei tidak sendiri. Ada belasan orang dengan beragam umur memandikan diri mereka di bawah langit pagi. Sebagian ada yang lebih tertarik bertelanjang kaki dan mencumbukan telapaknya dengan embun yang berbaring di rerumputan. Ada juga yang lebih memilih untuk berdiri di sepanjang koridor. Mengusir kantuk sambil menggigil. Yang lain ada yang tertawa, berbisik pada anggrek, bahkan menari.

Cuma Mei yang agak lain. Bukan saja buatku, tapi buat para pekerja di sini. Gadis manis yang pipinya berwarna apel muda ini sering terlihat bisu di tiap ritual pagi. Ia tidak berbicara, tersenyum, apalagi menangis. Tidak. Tidak semua itu. Ia nyaris tanpa ekspresi. Di taman seluas lapangan voli itu, yang dijejali puluhan pohon berbagai jenis – tanaman buah, hias, juga obat – Mei menatap jauh ke langit. Pandangannya lurus. Seakan sedang membaca sebuah pesan yang tergurat di langit yang awannya seperti berkejaran saling menggulung.

Bagiku pada waktu inilah Mei terlihat amat cantik. Matanya bening, bulat, dan teduh. Bibirnya seperti tomat mengkerut yang baru diperciki air. Dengan pipi yang berlesung sebelah seakan membuatku sadar bahwa aku terlalu cepat menikah. Dan dengan mengenakan pakaian terusan berwarna melati, rasanya sudah lengkap kesempurnaan Mei sebagi perempuan. Sebuah kehidupan kecil di hari yang pagi, yang menyita waktu bekerjaku untuk sejenak menikmati ritual Mei tiap pagi.

Bukan tanpa alasan aku bertingkah begitu tiap pagi. Mei memang tak pernah mengajakku bicara, tapi kehidupan Mei lah yang mengajakku bicara. Menuntunku untuk paham terhadap badai yang pernah digumuli Mei. Menemaniku untuk menemukan diri Mei dalam kehidupan yang lain.


Aku jadi ingat ketika pertama kali tiba di sini. Waktu itu persis seperti masa ini. Di satu pagi yang biasa, ketika aku diajak berkeliling oleh Bu Wid, seniorku, menyusuri gang-gang yang bersih dan ditempeli porselin. Melewati orang-orang yang sedang bermain di taman. Atau disapa oleh orang yang berdiri linglung di depan pintu, yang senang mendengarkan bunyi langkah sepatu hak Bu Wid yang teradu porselin dan menggaungkan bunyinya ke sepanjang gang. Di saat itu pulalah perhatianku tersedot pada seorang perempuan cantik bergaun warna melati yang duduk di bawah pohon beringin. Di bangku itu ia menekuni ritualnya untuk teguh memandangi langit. Nanarnya kosong tapi ada asa di dalamnya. Asa yang tak sempat tersuarakan.

“Selamat pagi, Mei. Apa kabar kamu hari ini?”, begitu Bu Wid memulai paginya dengan menyapa tiap orang di sini. Tak peduli apa statusnya.

Mei bergeming. Menoleh pun tidak. Ia tetap asik memeluk langit dengan matanya. Bahkan ketika tangan Bu Wid melambai di depan matanya, Mei hanya diam. Tak lama ia geser pandangannya agar tak terhalang tangan Bu Wid dalam memandangi langit. Kalau sudah begini Bu Wid hanya tersenyum dan menghela nafas. Kemudian mengelus pipi Mei dengan punggung tangannya yang gemuk. Sesekali Bu Wid merapihkan rambut Mei yang tersingkap karena dipukul angin yang merayap turun dari pohon beringin di atasnya.

“Onath, ini Mei”, kemudian lanjut Bu Wid, “Mei inilah yang membuat pekerja di sini betah, bahkan jatuh cinta pada pekerjaannya. Tapi bagiku mereka hanya mencintai Mei, bukan pekerjaan mereka”, cerita Bu Wid sambil menaikkan bingkai kacamatanya yg melorot.

Namun, setelah Bu Wid dipindahkan bekerja ke tempat lain, akulah yang menggantikan mengurusi semua pekerjaannya. Termasuk memperhatikan Mei tiap pagi.

***

“Aku titipkan harapanku padamu ya, Nath”, pesan Bu Wid di peron, ketika aku antar sampai stasiun. “Terutama Mei. Dulu sekali, ia berkata ingin mengusap langit dengan rambutnya. Namun kami, aku dan semua pekerja, tidak ada yang mengerti maksud tersebut. Sampai jumpa, Nath. Kirimi aku kabar”.

Belum sempat kutanya lebih jauh, peluit petugas stasiun sudah menjerit-jerit kencang. Mengalahkan pesanku pada Bu Wid, “Hati-hati, Bu”.

***

Kepergian Bu Wid yang teramat cepat – sebulan setelah kedatanganku – membuatku sedikit gugup. Dibanding Bu Wid, pengalamanku bukanlah apa-apa. Setelah lulus dari almamaterku lima tahun lalu, aku lebih banyak disibukkan dengan menekuni literatur-literatur tebal. Hingga aku sadar, teori tanpa praktek adalah mati.

Betul juga kata Bu Wid, Mei yang selalu sama di setiap pagi, memang penghuni paling istimewa. Pantas saja pekerja di sini lebih mencintai Mei dibanding pekerjaan mereka. Menyaksikan Mei dalam kesendiriannya, menjadi vitamin bagi semua pekerja untuk datang ke sini pagi-pagi. Pria dan wanita. Tua maupun muda.

Mei memang punya dunia sendiri. Ia tidak pernah mengenal orang-orang yang mencintainya. Namun ritual Mei tiap pagi mengeruk simpati para pekerja di sini. Mereka menginginkan suatu hari Mei menoleh ketika disapa atau tersenyum manis ketika berpapasan. Namun Mei tidak pernah tahu itu.

Jadi percuma saja jika para pekerja di sini ikut duduk di sebelah Mei tiap pagi. Membaca langit yang juga dibaca oleh Mei. Atau tingkah beberapa pekerja yang malu-malu melihat Mei dari kejauhan sambil menyeruput kopi. Lebih lucu lagi Pak Kirmin yang berlagak mengantar koran pagi ke ruanganku. Padahal ia ingin melihat Mei.

Pernah pada satu waktu, seperti biasa di pagi yang biasa, aku hampiri Mei yang tenggelam dalam ritual paginya. Aku beranikan diri untuk duduk berdampingan dengannya. Kebetulan bangku taman panjang yang diduduki Mei, menyisakan ruang untuk kupantati. Bangku kayu yang besi sandarannya sudah menua itu seperti meneriakiku, “Ngapain kamu mendekati Mei!”.

Seperti biasa, Mei tidak terganggu dengan kehadiran orang di dekatnya. Apa yang kuucapkan tak ada yang direspon olehnya. Aku bercerita tentang seekor kupu-kupu yang melupakan masa lalunya sebagai ulat dan kempompong yang menjijikan. Yang hanya bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Yang dengan puasnya bisa mengitari kebun. Dengan leluasanya mengunjungi bunga-bunga yang indah seperti dirinya. Kemudian menyapa putik dan mempertemukannya dengan benang sari. Kupu-kupu itu pun suatu hari mati. Namun apa yang ia tekuni tiap hari di kebun, menghiasi kehidupan di dalamnya. Kebun-kebun itu tidak lagi sepi. Tapi ramai oleh kuncup-kuncup bunga yang mekar berbarengan. Bunga-bunga yang tak pernah tahu, bahwa pernah ada seekor kupu-kupu cantik yang menjadikan mereka ada.

Aku sudah menebaknya, tentunya dengan pasrah, Mei tidak peduli. Baginya, menyaksikan langit yang direnangi oleh burung-burung pipit lebih menarik. Atau merenungi mengapa matahari tak pernah menyapa bumi pada waktu yang selalu sama. Ah, semua perandaian itu bagiku tidak menarik. Aku hanya tertarik pada Mei. Yang ketika ia memicingkan mata ketika matahari menyilaukan membuatnya begitu amat cantik.

Atau pada waktu yang sama sekali lain, aku pernah merasa jatuh cinta luar biasa kepada Mei karena satu peristiwa. Di pagi itu, aku bangun agak telat karena hujan lebat sejak semalam membuatku nyenyak di atas kasur. Namun betapa kuterkejut hebat ketika melakukan ritual pagiku dengan mengelilingi taman. Di taman itu, ketika semua penghuni memilih meringkuk diri di bawah selimut, namun di bawah pohon beringin itu, di kursi kayu itu, Mei duduk dengan tenang menyaksikan langit yang muram. Merelakan dirinya disetubuhi hujan pertama di bulan ini. Seakan Mei tidak pernah mengerti hujan. Atau karena terlalu sering menangis, sehingga sulit membedakan basah dengan kering bola matanya.

Kontan saja aku lari menggapai Mei di keheningannya. Kuloloskan stetoskop yang melingkar di leherku dan melemparnya ke entah. Satu kali aku terpeleset karena kakiku menginjak lumpur yang berkubang. Kuharap Mei menoleh ke arahku ketika itu. Memandang dan mengkhawatirkanku. Tapi harap itu tidak terwujud. Mei tetap santun memandang langit yang meneriakkan gemuruh dan memperlihatkan kilat yang menerangi taman dengan sekejap. Ketika kuambil pergelangan tangan Mei, seketika ia menoleh dan menatap dalam ke mataku dengan bengis dan benci. Selanjutnya meronta dan meraung. Ganas.

“Bangsat! Perkosa saja aku! Lepaskan orangtuaku! Bangsat kau!”

“Mei, tenang, Mei. Ini aku, dokter Onath.”

“Pergi kataku! Jangan ambil mamaku! Jangan bakar papaku! Ambillah tubuhku! Pakai sesuka hatimu, bangsat!”

“Mei!”, seketika sebuah tamparan melayang ke pipiku. Mula-mula sekali, kemudian dua, tiga, hingga berulang-ulang Mei menamparku. Aku hanya diam. Memberi diri. Hingga Mei selesai menunaikan kalapnya, ia lelah, dan menangis menjadi-jadi. Aku memeluknya. Mei membiarkan itu. Dan entah mengapa, seperih pipiku, perih pula hatiku. Mei yang membenamkan wajahnya di pundakku, seakan menyeretku pada kehidupan masa lalunya yang biadab karena manusia-manusia jalang. Mendadak ada perasaan begitu haru datang mengepung. Aku jatuh cinta pada Mei.

Setelah kejadian hari itu, Mei kembali pada ritualnya. Pada kebiasaan paginya yang sunyi. Yang tak pernah mengijinkan orang-orang masuk pada pikiran dan relung hatinya yang rumit, perih, gelap, dan sakit. Hingga para pekerja di sini pun hanya mengenal Mei dari berkas administrasi ketika masuk. Di sana hanya tertulis dengan sederhana: nama Mei Hua – lahir di Jakarta, 23 November 1980 – analisa penyakit akibat trauma diperkosa dan menyaksikan pembunuhan.

Pada hari-hari yang lain, cerita tentang kupu-kupu selalu kubawakan sebagai sarapan pagi kami berdua, aku dan Mei. Namun Mei tetap bisu. Ia tidak beranjak dari keheningannya. Daun-daun berterjunan dari dahan-dahan, menggumpal menjadi sampah yang mengotori taman. Buah di pohon ada yang jatuh karena digerogoti serangga. Semut-semut mengantri dengan sabar menyusuri lengan pohon cabai yang kurus. Semua berubah tiap hari. Tidak pernah sama.

Tapi tidak dengan Mei. Ia tetap seorang gadis cantik yang bergaun warna melati, yang tiap pagi duduk di bangku panjang yang memuati taman seluas lapangan voli. Di atas kepalanya, sebuah pohon beringin tua setia merangkul Mei dalam tiap ritual paginya. Ia – beringin itu – hanya memberikan sedikit celah bagi cahaya pagi untuk mengunjungi kulit kuning perempuan itu. Yang tak pernah tahu, di mana ayah-ibunya dikubur setelah mati terpanggang di toko mebel milik keluarga sepuluh tahun lalu, Mei 1998.

Petojo, 210208

Dimuat di Buku KUMPULAN CERPEN TERBAIK Lomba Menulis Cerpen 2008 INTI DKI Jakarta


Gambar diambil dari Flickr.com

selusuri

“Mochtar Lubis adalah sosok idola”, kalimat seperti ini beberapa kali terdengar dari orang-orang yang menghadiri Diskusi dan Peluncuran Buku Nirbaya karya Mochtar Lubis pada 7 Mei 2008 di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah. Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Yayasan Obor Indonesia, Open Society Institute, dan Bentara Budaya Jakarta ini dihadiri oleh banyak tokoh pers dan sastra. Maklum, Mochtar Lubis memang dikenal luas sebagai tokoh dari 2 kalangan tersebut.


Buku yang merupakan catatan harian Mochtar Lubis selama di penjara pada masa orde baru ini sebelumnya sudah diterbitkan dalam bahasa Belanda berjudul Kampdagboek pada tahun 1979. Diskusi yang dimoderatori oleh Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo ini menghadirkan beberapa pembicara seperti Masmimar Mangiang, Adnan Buyung Nasution, dan Ignatius Haryanto.

selusuri

Kalau bukan karena CCF (Centre Culturel Francais), mungkin publik musik klasik Indonesia sulit menemukan sajian musik Prancis dengan cita rasa yang khas orang Prancis.

AINSI la Nuit artinya Seperti Malam Ini. Begitu kira-kira terjemahannya. Judul inilah yang membuat penonton yang menghadiri konser kuartet gesek Quatuor Diotima, terpukau. Bertempat di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, pada tanggal 10 Mei 2008, kuartet yang terdiri dari Naaman Sluchin (biola), Zhao Yunpeng (biola), Franck Chevalier (biola alto), dan Pierre Morlet (cello) ini sebagian besar menyuguhkan musik-musik kontemporer Prancis dengan interpretasi mereka sebagai orang Prancis – kecuali Yunpeng yang orang Asia.

Karya pertama – setelah sebelumnya dibuka dengan penampilan yang gemilang dari pianis cilik Randy Ryan, yang membawakan karya Chopin dan Debussy – yang dimainkan sebagai pembuka, Ainsi la Nuit, adalah karya yang ditulis komposer Prancis Henri Dutilleux (1916) pada tahun 1976. Dengan memainkan ketujuh bagiannya, lagu ini memakan waktu kurang lebih 16 menit. Namun bukan jenuh yang tercipta dari pendengar, melainkan keterpesonaan yang begitu mendalam. Penonton mesti bersabar untuk siap-siap mendengar tingkah musikal yang baru dari para empat interpreter di atas panggung. Musik karya Dutilleux ini seperti seorang kembara yang berpetualang mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperbuat.

Maka penonton kala itu dikejutkan oleh warna musik yang lain dari kebanyakan musik klasik konvensional. Efek-efek musik ditimbulkan dengan menjarah habis-habisan kemungkinan yang bisa didengungkan keempat instrumen gesek tersebut. Segala teknik seperti pizzicato, harmonic, dan glissando dieksplorasi sedemikian luas demi melayani kebutuhan ide musikal sang komposer.

Tak percuma empat pemuda lulusan konservatori Paris dan Lyon ini datang dari jauh ke Indonesia, sebuah negara yang masih sulit menerima musik ‘sastra’ macam ini. Karena apa yang diinginkan sang komposer, berhasil dituangkan dengan amat baik oleh Quatour Diotima. Tiap bagian diolah menjadi sajian bunyi yang amat teliti. Mereka juga berhasil mengolah register nada yang jumpalitan (jarak nada amat ekstrim) menjadi satu kemasan yang punya keindahan tersendiri. Perubahan dinamika suara yang amat kontras memperpanjang daftar keterpukauan penonton ketika karya ini rampung digarap.

Musik Duttilleux ini memang masih hijau di telinga publik musik Indonesia. Lewat Ainsi la Nuit, kita bisa mendengar nuansa milik Claude Debussy atau Maurice Ravel tapi ditampilkan dengan wajah yang sama sekali baru. Kejeniusan dan sikap perfeksionis Duttilleux inilah yang membawanya menjadi seorang komponis yang disegani bukan saja di Prancis, tapi di seluruh dunia.

Belum usai merekam dalam memori musikal dengan baik karya Duttileux tadi, penonton langsung diserang dengan musik Debussy (1862 – 1918) yang tak kalah magisnya. Setelah sebelumnya, selesai memainkan karya pertama, Franck Chevalier, pemain biola alto, ‘rela’ turun ‘takhta’ (baca: panggung) untuk menegur penonton yang duduk di bangku terdepan yang sedari tadi sibuk bermain musik juga: mengeluarkan minuman dari plastik kresek berulang kali sepanjang karya pertama digelar.

Pada karya kedua ini, nuansa agak lain dari sebelumnya. Karakter Prancis yang impresif amat menonjol lewat permainan liris pada kalimat-kalimat musik. Dengan amat rinci tiap frase yang ada dibahasakan dengan amat cermat dan fasih. Intensitas suara biola 1 dari Zhao Yunpeng amat mengagumkan. Begitu pula ketiga rekannya yang secara teknik tidak perlu diragukan lagi.

Formasi mereka berubah ketika menyuguhkan karya ketiga milik Ludwig van Beethoven (1775 – 1882) berjudul Quartet in A minor No. 15 Opus 132. Posisi biola satu digawangi oleh Naaman Sluchin yang sebelumnya diisi Yunpeng. Karya yang ditulis pada tahun 1825 ini berisi lima bagian. Karya Beethoven ini amat fluktuatif, dan karenanya mengejutkan. Justru itulah yang menjadi kekuatan musik Beethoven. Dia mendobrak kebakuan bermusik pada zamannya. Pada saat penonton dibuai dengan alunan yang espresif, tiba-tiba saja perubahan tonalitas terjadi tanpa persiapan.

Kuartet yang memilih nama Diotima sebagai penghormatan terhadap komponis Luigi Nono atas karyanya berjudul Fragmente Stille, an Diotima ini memang lebih cocok membawakan lagu-lagu modern kontemporer. Hal ini terlihat dari pembawaan musik Beethoven yang kurang mendekati semangat pada zaman itu. Gaya rubato yang harusnya kental malah tidak terlihat begitu alami. Tidak semanis pembawaan mereka pada dua karya sebelumnya. Suara biola satu pun nadanya sering goyang ketika bermain dalam pianissimo.

Sebagai encore, sajian musik milik Antonin Dvorak (1841 – 1904) memang pantas menjadi pelengkap dan menjadi klimaks konser malam itu. Dvorak yang dikenal dengan simfoninya The New World, memberikan sentuhan lewat karyanya yang lain, Quartet in F Major atau yang lebih dikenal dengan nama American Quartet. Dengan hanya memainkan bagian terakhir, lagu ini dibawakan dengan amat virtuoso. Musik milik komposer Cekoslovakia inilah yang rupanya mengembangkan senyum penonton semakin lebar malam itu.

selusuri

Dulu,

waktu aku masih bocah,

ketika mengisap puting ibu berdiam di hari-hariku,

dan kukencingi, tak hanya di ranjang, dalam peluk ibu,

kupikir aku menanyai-Mu

hanya dalam malam kering,

dan malam basah kuisi dengan tarian kegirangan.

Tarian yang kuyup ketenangan,

kutimba dari sumur cintaku,

atau pompa tanah di pekarangan tetangga.


Sekarang keadaan berubah.

Kering atau basah sama saja buatku,

karena hari dan detik sama-sama mengejarku.

Mimpi-mimpi yang Kau pajang pada pagiku yang bau nanah,

tak menjawab risauku dalam rancauan.

Dan aku menanyai-Mu dengan ancaman.

Kadang mesra, sesekali oposisi.

Lebih sering dalam ngigauan.

Tapi aku tak lagi bocah.


Posisi itu menjadi makin menjurang.

Ketika di satu subuh aku menyudutkan-Mu.

Aku ingat persis gambaran gang buntu yang mengepung-Mu kala itu..

Lurus, gelap, sedikit kerikil, dan setumpuk bau tanah.

Di kebuntuan itu tergantung jendela yang lampunya selalu redup.

Aku juga ingat apa yang kita kenakan ketika itu.

Kau memakai blujins ketat berbolong di daerah dengkul.

Sekali dua kali kepala gesper-Mu yang berukir tengkorang botak bermata koin itu nongol dari balik kaos yang beradu sempit dengan celana-Mu.

Waktu itu Engkau hanya mengatakan iman kepadaku yang berjubah putih susu.

Tapi nalarku minta makan Gusti!

Iman bukan mesin!


Ah...

Aku jadi ingin kembali ke masa itu.

Masa di mana rambutku disisir setiap habis mandi,

sambil ditarik-tarik hidungku, dan disusul hujan kata,

”Biar mancung, tampan...!”

Yang lebih dari selusin berak dan muntahku ia yang bereskan.

Dan mangkuk serealku tak pernah awet karena usilnya tanganku, bukannya aku.

Ketika itu,

basah atau kering,

malam bagiku punya warna sendiri-sendiri.

Ya. Ketika aku bocah.


260507

petojo


selusuri

Naas buat Felisitas Nanang Budi Prasetyo (34). Kalau saja Ia tak gugup saat diinterogasi polisi, mungkin ceritanya akan lain. Niat untuk menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan, malah membawanya pada masalah yang disepelekan pejabat gereja.

PADA tanggal 20 April 2008, terjadi pencurian di Paroki Bunda Hati Kudus (PBHK) – Kemakmuran. Yang dicuri adalah barang milik Pastor Theo, MSC. Pastor Theo memberi keterangan bahwa kejadiannya berlangsung ketika Ia sedang memimpin Misa pukul 8.30 pagi. Sang pencuri menyelinap lewat jendela kamarnya dan mengambil 2 buah kamera merek Olympus dan uang tunai sekitar 15 juta rupiah.

Siangnya, Wakil Dewan PBHK, Bernardus J. Achadiat (Kiki) membawa polisi dari Polsek Jatibaru untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Setelah mengambil sidik jari, polisi juga memerintahkan anjing pelacak untuk membaui. Sampai di halaman gereja, anjing kehilangan jejak.

Dua petugas keamanan, Hasan dan Nanang dimintai keterangan oleh Polisi. Namun sial, karena sikap Nanang yang gugup saat memberi jawaban, membuat polisi curiga dan membawanya ke Polsek Jatibaru. Dari pihak Dewan Paroki tidak ada yang menemaninya, padahal statusnya ketika itu sedang bertugas, berarti di bawah tanggungjawab atasannya.

Sesampainya di Polsek, Nanang dibawa ke ruangan gelap untuk kemudian dipukuli dan dipaksa mengaku bahwa ia mencuri. “Polisinya 3 orang. Perutku dipukul 2 kali, dicekik, sama ditampar beberapa kali”, tutur Nanang. Hingga malam, tak ada dari pihak Dewan Paroki yang menjemputnya. Hingga akhirnya istri dan adik iparnyalah yang menjemput. “Sehabis saya dipukul, lampu dinyalakan, lalu saya melihat Pak Kiki dan Romo Theo melintas sekilas di luar ruangan”, kenang Nanang kala itu.

Besoknya, Senin (21/5) semua karyawan laki-laki dipanggil satu per satu untuk menghadap Kiki. Di ruangan dewan tersebut, para karyawan dipaksa untuk mengaku bahwa merekalah yang mencuri. Dengan gaya intimidatif, Kiki memberikan nomor telponnya kepada tiap karyawan, kalau-kalau ada yang mau mengaku nantinya. “Gak enak ‘kan dipukul polisi? Makanya ngaku aja”, seru Nanang menirukan Kiki.

Di tempat terpisah, Pastor Paroki, Rm. Soesilasoewarna, MSC. menuturkan kalau Ia tidak sedang berada di Paroki kala kejadian. Sepulangnya, hanya ada laporan lisan dari Pastor Theo. “Tak ada yang sifatnya resmi-resmi tuh”, terang Pastor senior ini. “Itu bukan perbuatan dewan, karena tidak melakukan koordinasi dengan saya. Itu jelas perbuatan Kiki sebagai individu”, elaknya ketika ditanya apakah dewan bertanggungjawab terhadap pemukulan Nanang.

Sampai berita ini diturunkan, nasib Nanang belum jelas.”Aku ngga tau mengenai kasus tersebut, terus apa ngga. Soalnya sampai sekarang kasus tersebut masih mengambang”, isi pesan singkat Nanang ketika ditanyai perkembangan kasus ini.

Ya, Nanang dibuat mengambang. Ia tidak sendiri, tapi bersama orang-orang lain yang bekerja di Paroki, biara, ataupun lembaga Katolik lainnya. Yang nasibnya sudah biasa diombang-ambingkan. Dibuat tak menentu. “Ya, tergantung siapa bosnya tiap periode”, ujar Nanang santai.

selusuri


Pekat malam bersandar di hampir pukul duabelas. Malam kemarin, 30 April 2008, sudah kutunggu untuk sepotong pekikan. Yang entah kemenangan atau malah kemalangan.

WAKTU itu ada secarik surat elektronik yang dikirim seorang teman, Andreas Arianto Yanuar. Dia – yang tahu aku serius menulis – memberi informasi soal lomba menulis essay yang diselenggarakan World Bank. Dalam situsnya, lomba itu diperuntukkan bagi orang muda di seluruh dunia. Temanya pun tak main-main: masalah perkotaan. Bagaimana orang muda memimpikan sebuah kota.

Aku pun tertarik. Bukan saja karena hadiahnya yang berjumlah $5.000 – walau ini juga menggiurkan – tapi karena sebuah kesempatan buatku menulis dalam skala internasional. Berhari-hari, berminggu-minggu, aku berpikir keras untuk menentukan topik. Rubah merubah. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengangkat masalah PKL (Pedagang Kaki Lima). Sekelompok manusia yang sering alpa di pikiran manusia kota.

Aku menulis dalam kondisi ektase luar biasa ketika itu. Setelah paginya nangkring ke Kinokuniya yang sedang diskon, dan membeli sebuah buku tentang Jakarta. Sepanjang siang sampai sore aku habiskan buku itu dengan rakusnya. Sore dimulai, petualangan intelektual pun dimulai. Kugores kerangka tulisan, sudut pandang masalah, serta data-data yang diperlukan. Setumpuk majalah, koran, serta alamat web juga kugauli dengan liar.

Tulisan pun rampung setelah berjibaku kurang lebih 11 jam, dari pukul 4 sore hingga pukul 3 pagi keesokkannya. Intinya dalam essay itu, aku memimpikan sebuah Jakarta yang bertumbuh secara ekonomi, juga kultur, lewat geliat para kaum urban, salah satunya PKL.

Aku melihat, paham yang menjangkiti masyarakat adalah paham kapitalis yang melibas masyarakat akar rumput. Ini yang menyebabkan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat. Maka tak heran kalau ada gedung super mewah, makanan kelas jetset, tapi ada bocah ingusan yang belum makan 1 hari. Semua kondisi paradoksal itu tertuang utuh dalam lanskap Jakarta.

Maka, ideku, harusnya ada perhatian pemerintah dan masyarakat untuk lebih memperhatikan masalah ini. Kota ini hanya akan bertumbuh dengan manis lewat kaum-kaum kecilnya. Karena mayoritas penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Dan PKL, yang selama ini dikonsepkan sebagai pembuat onar, harus dirubah menjadi konsep yang lebih positif. Aku mengatakannya dalam tulisan seperti ini, “Merubah Citra PKL: Penertiban Menuju Pemberdayaan”.

Usahaku memperjuangkan tulisan ini juga tak main-main. Aku konsultasikan dengan mentor menulisku, Her Suharyanto dan Ignatius Haryanto. Setelah melakukan perbaikan sana-sini, aku cari penerjemah untuk mengalihkan ke bahasa Inggris (syarat kompetisi). Kocek pun digali lebih dalam. 480 ribu kutransfer dengan berat hati ke rekening sang penerjemah.

Semalam sudah tiba. Hari di mana pengumuman para finalis diumumkan. Sepanjang penantian itu, aku sudah membayangkan bagaimana kalau terpilih. Mau kupakai apa uangnya. Apa aku ada waktu untuk datang ke malam penerimaan hadiah di Cape Town, Afrika. Aku berkhayal melayang menembus realita.

Tapi semua khayalan tadi harus wafat sejenak, karena aku tak menemukan namaku dalam 200 besar, apalagi 22 besar. Dalam 3.000 tulisan yang masuk, menurut panitia, aku menjadi sangsi apa tulisanku terdaftar. Aku masih teramat yakin pada diriku bahwa tulisanku tak jelek-jelek amat untuk mengikuti kompetisi. Setidaknya dalam 200 besar masuk. Begitu belaku.

Lemas juga rasanya melihat kenyataan, atau lebih tepatnya kekalahan ini. Narasi berjudul Jakarta Kota PKL’ itu kini tengah mengintip malu-malu dari dalam folder laptopku. Entah bagaimana memberi tahu padanya tentang berita ini. Bergunakah Aku?­, begitu kira-kira narasi itu bertanya.

Hari ini 1 Mei 2008, Hari Buruh. Aku berjalan ke Kemakmuran untuk memenuhi janji mewawancarai seorang korban pemukulan oleh polisi. Sebelum wawancara, di jalanan kendaraan meraung-raung dengan gahar. Pawai buruh menggelora. Suara orasi yang bergairah membahana dan memuati sudut-sudut kota. Di tengah pekikan itu aku mendengar sesuatu, “Hidup buruh! Hidup PKL”.

Aku sekarang tahu, tulisanku tidak sia-sia. Ia ‘hidup’ untuk berjuang bersama kesakitan kaum marginal yang sering dibuat alpa oleh kita bersama. Aku bersama kalian, kaum kasihan.

selusuri

Apa yang berbahaya buat seorang atau sekelompok pekerja seni? Jawabnya, bila kritik tidak ditempatkan pada porsinya.

KESENIAN, dengan sifat dan bentuknya yang dinamis, mempunyai efek domino – walau dapat dimengerti dalam ranah ilmiah. Efek domino maksudnya adalah suatu reaksi yang dihasilkan secara acak dan tak menentu dari penikmat atau pembuat karya seni. Intinya, tak ada kebakuan. Tak ada keharusan berkomentar atau berselera macam apa. Sangat subyektif. Sangat personal.

Justru karena alasan subyektif macam inilah, karya seni – juga senimannya – sering berlindung di balik kata tersebut ketimbang mempertanggungjawabkannya. Pembelaan berdasarkan selera, di tengah kondisi masyarakat seni yang semakin cerdas, adalah sebuah kecerobohan. Kecerobohan dalam merangkai argumen yang hanya berujung pada kemandekan pertumbuhan kesenian itu sendiri.

Salah satu elemen penting – bahkan paling penting – dalam karya seni adalah penikmat dan pengapresiasi. Para apresiator inilah yang terus menerus memanjangkan nafas sebuah kesenian, entah itu dalam kelompok atau individu. Merekalah yang menjadi alat ukur bagi sebuah karya seni. Alat ukur untuk menyematkan nilai baik atau busuknya sebuah karya.

Namun yang terjadi, ketika nama sang kreator lebih besar ketimbang karyanya, apresiator menjadi mandul kritik. Misalnya saja, masyarakat lebih akrab dengan nama Edgar Alan Poe atau Orhan Pamuk atau Sapardi Djoko Damono ketimbang karya yang mereka hasilkan. Atau, lagu Cryin’ nyawanya tak sepanjang Aerosmith, sang empunya lagu, yang masih dibicarakan sampai hari ini. Pada kondisi ini, sebenarnya siapa yang dinikmati apresiator, karya seni atau sisi selebritas senimannya? – walau tak dipungkiri bahwa sang seniman itu pulalah karya seni itu sendiri.

Keadaan seperti di atas, hanya menghasilkan kritik terhadap kepribadian, gaya, kelakuan, atau sikap politik sang seniman dibanding memproduksi kritik buat karya seninya sendiri. Inilah kemandulan. Bukan saja kemandulan, tapi sebuah bencana bagi pertumbuhan karya seni.

Pernah seorang teman berkata, bahwa serasa ada beban untuk mengatakan sesuatu yang positif bila puisi yang dia baca adalah karyanya Goenawan Muhamad. Artinya, Ia tak mampu memberi usulan kritik karena sang kreator lebih besar dari pada karyanya sendiri. Dengan sertamerta, semua lagu yang ditulis Iwan Fals memiliki muatan beban kepada pendengarnya untuk harus berkata bagus. Hanya orang gila yang berani bilang novel karya Pramoedya Ananta Toer jelek. Atau sama sakitnya bila ada yang berani mengkritik lick khas BB King.

***

Di gedung yang lebih akrab di hati para insan film, Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, sekelompok band yang masih hijau di industri musik Indonesia, memamerkan kebolehan mereka dalam bermusik. Band itu menamai diri SORE. Konser yang bertajuk Ports of Lima Concert pada 24 April 2008 itu diadakan dalam rangka memperkenalkan album terbaru mereka, Ports of Lima.

Sore adalah sebuah band yang mengusung musik dengan aliran yang campuraduk. Lewat Sore, kita bisa mendengar unsur jazz, pop, vintages, blues, bahkan keroncong. Sore laksana sebuah muara, tempat bertemunya aliran-aliran musik yang berseberangan. Sebelumnya mereka sudah menelurkan 2 album, Ambang (2003, mini album) dan Centralismo (Aksara Records). Lagu mereka juga dipakai sebagai musik film Berbagi Suami, Janji Joni, juga album-album kompilasi seperti JKT:SKRG.

Konser yang pada tiket dan lembar publikasinya dicantumkan jam 7 malam akan dimulai, ternyata molor 1 jam lebih. Banyak penggemar musik yang mayoritas anak muda rela menunggu selama itu di luar dan dalam gedung. Tampaknya – walau band baru – Sore sudah dihidupi oleh penggemar yang berkonsep komunitas.

Di panggung yang luas itu, lima lelaki muncul dari belakang panggung mengenakan pakaian serba hitam. Mereka – Ramondo “Mondo” Gascaro (kibord), “Sir” Awan Garnida (bass), Reza “Echa” Dwiputranto (gitar elektrik), “Bemby” Gusti Pramudya (drum), dan Firza “Ade” Paloh (gitar akustik) – mulai memainkan lagu-lagu dari album baru mereka dengan diiringi orkes mini yang suaranya tenggelam karena suara instrumen elektronik yang lebih keras. Orkes mini itu – ada seksi gesek dan tiup (ditambah vokal latar dan Disc Jockey) – seperti hanya berfungsi sebagai kebutuhan estetik visual, bukan bunyi. Pikiran ini timbul bukan saja karena suaranya yang tenggelam, tapi isi aransemen yang sebenarnya tak banyak pengaruh terhadap lagu.

Penampilan musikal mereka yang monoton, serta diperparah dengan sistem tata suara yang amburadul, tak membuat gerah para penonton untuk gencar menghatur puja dan puji ke atas panggung. Baru pada babak kedua, lagu-lagu mereka lebih terasa intim. Entah karena memang demikian, atau karena intensitas yang sudah dibangun pada babak pertama berhasil menjangkau telinga-telinga.

Ya, kedua alasan di atas rupanya masuk akal. Semakin jauh, semakin tergambar lengkung konsep band Sore. Lagu mereka memang biasa, tapi ada sebuah pencapaian konsep bermusik yang utuh dan konsisten. Dibutuhkan stamina yang mantap untuk bertahan pada konsistensi bermusik mereka. Stamina, atau lebih tepatnya keyakinan, untuk tidak tergoda melirik pangsa musik lain yang bukan gaya mereka.

Sore tahu benar bagaimana menaikturunkan emosi penonton. Band unik yang kesemua pemain gitarnya kidal, dan kesemua personilnya bernyanyi bergantian sebagai vokal utama, banyak menampilkan aksi panggung yang menggelitik. Misalnya saja bagaimana aksi Bemby, Sang Drumer, yang meninggalkan ‘senjata’-nya, beralih untuk menjadi konduktor orkes. Lainnya, ada adegan menarik di tengah pertunjukkan yang menampilkan seorang musisi senior dari band The Tielman Brothers dan Time Breakers, Delmonthee. Sang musisi gaek itu naik panggung dan menyalak galak lewat gitar yang memainkan sepotong lagu Rock ‘n Roll.

Semakin malam, penonton semakin fanatik terhadap mereka. Inilah yang berpotensi menjadi bencana buat sebuah karya seni. Fanatisme atau kekaguman berlebihan malah menghilangkan ruang kritis. Mirip dengan keyakinan terlalu menggebu dalam beragama yang melahirkan kemapanan dan menihilkan ruang untuk mengkritisi. Sehingga agama menjadi impoten dalam menjawab permasalahan-permasalahan kemanusiaan.

Dalam kesenian pun serupa. Ketika proses berkesenian diapresiasi terlalu berlebihan, tidak sesuai porsi, sehingga melenyapkan sisi kritis, pada kondisi inilah sang seniman harus berhati-hati. Karena tak ada ‘teguran’ dari apresiator untuk memperkaya bahan evaluasi sebuah karya.

Namun, walau begitu, tampaknya Sore bukanlah kelompok musik kacangan macam itu. Yang mudah terlena oleh buaian dan sanjungan, lantas merasa tak perlu terus menerus berkutat dalam ‘pencarian’. Mencari jalan kesenian yang setiap saat mesti dipertanyakan. Agar genap kenyataan bahwa seni adalah sebuah jalan panjang yang tak akan selesai, dan tak perlu selesai.

selusuri