Saung Kata

sebuah gubuk sederhana, tempatku memuntahkan kata demi kata

  • Kalam

    di satu ketika aku pernah sangat Gibranisme:
    bagiku petojo bukan sebuah kota, tapi puisi...

Pindah Rumah

Blog ini sudah pindah ke rumah baru di www.roythaniago.wordpress.com

Silahkan berkunjung! Terima kasih!

Pindah Rumah

Posted by Roy Thaniago On 2:12 PM 0 komentar

KARENA satu-dua hal, salah duanya adalah bosan dan berantakannya blog ini, ditambah iri kala melihat blog-blog teman dengan fiturnya yang asik, saya memutuskan menyudahi ziarah kata-kata di blog ini.

Maka, sejak 22 Februari 2009, seluruh aktivitas menulis saya pindahkan ke www.roythaniago.wordpress.com. Semoga di rumah baru tersebut, saya semakin rajin menulis, sekedar membekukan gagasan untuk saling berbagi.

Rumah lama ini sengaja tidak dihapus. Rumah ini akan tetap bergeming, tak terhapus. Biar ia jadi monumen memori untuk melawan lupa, bahwa saya pernah sangat mencintai dunia kata-kata.

Untuk teman-teman dan kawan pembaca, terima kasih tak berhingga atas pertemanannya selama ini. Kini, mari main ke rumah baru saya. Silahkan berkunjung! Terima kasih!

Kitab Kuning Ilmu Antropologi

Posted by Roy Thaniago On 11:38 PM 0 komentar


Sejak kelahirannya seabad yang lalu, ilmu antropologi telah menyumbang begitu banyak terhadap kehidupan manusia lewat ilmu-ilmu lain yang dipengaruhinya, entah secara sadar atau tidak. Namun sayang, di Indonesia, belum banyak usaha untuk menuliskan secara komprehensif mengenai teori-teorinya, sejarahnya, tokoh-tokohnya, dan percabangan lainnya. Di antara itu, nama Koentjaraningrat (1923-1999) perlulah disebut sebagai pendekar antropologi yang paling berperan di Indonesia.

GURU BESAR antropologi di Universitas Indonesia ini kemudian melakukan usaha menuliskan buku yang begitu diperlukan dalam dunia akademis di Indonesia. Buku Sejarah Teori Antropologi (UI-Press, 1987) yang hadir dalam dua jilid ini patut disambut gembira karena perannya dalam mengisi kekosongan bacaan mengenai perkembangan ilmu antropologi di dunia, sejak kelahirannya hingga sekarang.

Di tengah ketiadaan buku sejenis, posisi buku ini begitu penting bagi banyak pihak. Maka tak heran, di hadapan pendidik, peminat, dan mahasiswa antropologi, buku ini bagaikan sebuah kitab kuning, namun kitab kuning yang kesepian. Tulisan ini mencoba menarik benang merah isi buku tersebut serta memberikan beberapa komentar terhadap salah satu jilidnya, yakni Sejarah Teori Antropologi I.

Sesuai judulnya, pembaca ditawarkan penggambaran mengenai bagaimana antropologi mulai ada dan berkembang, baik sebelum diakui sebagai sebuah ilmu maupun sesudah diakui sebagai sebuah ilmu. Buku setebal 272 halaman ini dibagi dalam 10 bab, yakni (1) Bahan mentah untuk antropologi, (2) Etnografi dan masalah aneka warna manusia, (3) Teori-teori evolusi kebudayaan, (4) Teori-teori mengenai azas religi, (5) Kelompok L’Annee Sociologique, (6) Teori-teori difusi kebudayaan, (7) Permulaan perkembangan antropologi di Amerika Serikat, (8) Ilmu antropologi di beberapa negara komunis, (9) Teori-teori fungsional-struktural, dan (10) Teori-teori struktural C. Levi-Strauss.

Ada 4 aspek utama yang dihadirkan dalam buku ini, yakni (1) sejarah awal ilmu antropologi dan perkembangannya, (2) teori atau paradigma yang melingkupi ilmu antropologi, (3) dinamika kehidupan ilmu antropologi di beberapa negara berbeda, dan (4) biografi singkat para tokoh-tokoh antropologi. Koentjaraningrat membukanya dengan mengemukakan ruang lingkup dan dasar antropologi.

Antropologi, dari kata anthropos yang berarti manusia, sehingga mempelajari tentang manusia, merupakan integrasi dari beberapa ilmu yang mempelajari masalah-masalah khusus mengenai manusia. Proses integrasi ini sudah berlangsung sejak permulaan abad ke-19. Dan sejak 1951, integrasi ini mencapai bentuk konkret setelah lebih dari enam puluh tokoh antropologi Eropa, Amerika, dan Uni Soviet bertemu dalam International Symposium on Anthropology.

Bukan keseluruhan aspek manusia yang didiskusikan dalam antropologi, melainkan hanya aspek mengenai adat istiadat dan prilaku suku bangsa. Bangsa barat, yang mendirikan ilmu antropologi pada awalnya, terkhusus pada suku bangsa di luar mereka pada kajiannya. Segala yang mereka anggap “aneh”, “eksotis”, atau “liyan” dari kacamata mereka, tidak luput dipelajari dan dituliskan.

Padahal jauh sebelum mapannya ilmu ini, kegiatan berbau antropologi, yakni pencatatan suku bangsa manusia, sudah ada sejak lama lewat catatan yang dimiliki para pengembara, pelaut, misionaris, musafir, atau aktivitas kolonial. Hanya saja, dengan keterbatasan metode, ketidakjelasan motif pencatatan, sifat pencatatan yang sambil lewat, atau pun kekurangan alat bantu (alat “fisik” mau pun “ilmu”) membuat catatan mereka tidak proporsional, maknanya bias, dan tidak bisa dijadikan pondasi dasar dalam penyusunan ilmu antropologi.

Sudah disebutkan di atas bahwa antropologi merupakan integrasi ilmu-ilmu lain. Pada masa awalnya, pengaruh dari teologi, filsafat sosial, ilmu anatomi, linguistik, biologi, dan filsafat positivisme sangat mewarnai konsepsi ilmu antropologi. Misalnya dikatakan dalam buku Koentjaraningrat ini, bahwa pemahaman teologi memberikan pandangan awal mengenai aneka suku bangsa manusia yang terwujud dalam pandangan poligenenis, yakni yang percaya bahwa sejak awal manusia diciptakan beragam dan karenanya ada yang lemah dan ada yang kuat, ada yang maju, dan ada yang tertinggal; dan monogenesis, yakni pandangan yang meyakini bahwa manusia hanya berasal dari satu nenek moyang, yaitu Nabi Adam. Pandangan monogenesis ini kemudian bercabang dua aliran lagi; pertama, yang percaya bahwa dosa asal manusia menyebabkan degenerasi manusia, sehingga terdapat beragam suku bangsa manusia, maju dan terbelakang; dan kedua, yang tidak memahami perbedaan ini akibat degenerasi atau kemunduran, melainkan kemajuan, bahwa ada kelompok manusia yang berhasil maju, tapi ada juga yang tetap terbelakang.

Pengaruh filsafat positivisme dengan tokohnya August Comte, misalnya, mengajukan pendapat mengenai metodologi ilmiah umum, artinya metode yang dapat diterapkan terhadap semua macam ilmu pengetahuan. Tapi karena percobaan menerapkannya di luar ilmu pasti, justru melahirkan pandangan bahwa metodologi positif tidak dapat dipakai di semua ilmu, terlebih ilmu mengenai masyarakat yang variabelnya selalu berubah, tidak tetap seperti biologi atau kimia. Dari sinilah berkembang istilah ilmu baru, yaitu sosiologi.

Namun sering kali, pengaruh pandangan-pandangan di atas tidak selalu menyenangkan dan adil, terutama bagi kelompok masyarakat yang dikaji. Pandangan mereka yang masih Eropa-sentris, kemudian membandingkan suatu suku bangsa melalui kacamata barat, malah melahirkan stereotip bahwa bangsa Eropa adalah manusia dengan peradaban tertinggi. Di luar Eropa, nada yang timbul adalah bodoh, terbelakang, primitif, dan yang paling menyakitkan, tidak beradab. Sayangnya, pandangan ini tidak coba dibicarakan oleh Koentjaraningrat, sehingga pembaca tidak tahu sikapnya atau sumber lain mengenai hal ini. Bahkan terkadang sering rancu antara mulut siapa yang berbicara mengenai ini: Kontjaraningrat atau sumber lain?

Evolusionisme dan Difusionisme

Ada 2 paradigma besar yang mewarnai perkembangan ilmu antropologi yang ada pada buku ini, yakni Evolusionisme dan Difusionisme. Masing-masing oleh Koentjaraningrat ditulis dalam bab yang terpisah.

Pada bab mengenai Evolusionisme, disebut beberapa tokoh yang menggawanginya seperti Herbert Spencer, J.J. Bachofen, L.H. Morgan, dan E.B. Tylor. Secara sederhana, Evolusionisme memandang masyarakat manusia, dalam hal ini kebudayaannya, berkembang dengan lambat dari tingkat yang rendah dan sederhana, menuju tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks.

Teori Evolusiosme bekerja mirip teori Evolusi yang kita kenal dari Charles Darwin, bahwa dalam satu organisme, entah mahkluk hidup atau kebudayaan, terjadi perubahan terus menerus dalam dirinya sendiri (internal), dan hal ini dialami di semua tempat atau semua mahkluk di seluruh dunia. Bahwa proses berevolusi atau berubahnya kera menjadi manusia pasti dialami manusia atau kera mana pun di semua tempat, walau dengan kondisi, kecepatan, dan kadar perubahan yang berbeda.

Dalam buku ini, diperlihatkan Spencer dengan jelas mendukung hal ini melalui bukunya Principles of Sociology. Dikatakan bahwa perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia telah atau akan melalui tingkat-tingkat evolusi yang sama. Namun Spencer meyakini fakta bahwa secara khusus ada kebudayaan atau masyarakat yang berevolusi melalui tingkat yang berbeda-beda.

Ia mencontohkan melalui teori asal mula religi. Ada masyarakat yang tingkat evolusi religinya mulai dari penyembahan roh-roh nenek moyang menuju penyembahan dewa-dewa. Tapi di masyarakat lain, yang punya keyakinan atas reinkarnasi, dan karenanya ada kemungkinan kelahiran kembali manusia ke dalam tubuh binatang, maka beberapa binatang diyakini memiliki posisi penting, sehingga disembah. Binatang ini yang kemudian berevolusi lagi dalam religi masyarakatnya menjadi dewa. Jadi di antara tingkat penyembahan dari roh nenek moyang menuju dewa di suatu masyarakat, ada pula sisipan penyembahan atas binatang sebelum menuju penyembahan dewa-dewa pada masyarakat lain.

Sedang Morgan, seorang penganut Evolusionisme yang lain, menawarkan teori evolusi kebudayaan manusia dalam 8 tingkat, yaitu (1) Zaman Liar Tua, (2) Zaman Liar Madya, (3) Zaman Liar Muda, (4) Zaman Barbar Tua, (5) Zaman Barbar Madya, (6) Zaman Barbar Muda, (7) Zaman Peradaban Purba, dan (8) Zaman Peradaban Masakini. Masing-masing tingkatnya menunjukkan derajat kebudayaan manusia yang dikenali dari perilakunya, mata pencahariannya, atau perkakas yang digunakan.

Pada bab ini, sub-bab mengenai teori evolusi kebudayaan di Indonesia terasa janggal dan mengambang. Janggal karena toh kenyataannya ini bukan merupakan teori yang dibentuk khas Indonesia, melainkan catatan seorang tokoh bernama G.A. Wilken yang kebetulan pernah melakukan penelitian dengan di antaranya Minahasa dan Buru, di sela-sela pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Sedang mengambang karena tidak ada teori dari Wilken yang disinggung, melainkan penggambaran kisah hidupnya dalam penelitian.

Sedangkan sub-bab mengenai ditinggalkannya aliran Evolusionisme juga tidak jelas. Alasan yang kuat dan menyeluruh tentang tidak adanya relevansi lagi aliran ini dalam ilmu antropologi, tidak dijabarkan secara rinci. Hanya dikatakan, Evolusionisme banyak dikecam karena hanya berdasarkan konstruksi pikiran semata.

Di bab 6 mengenai teori difusi kebudayaan, dikatakan bahwa aliran ini mulai muncul di akhir abad ke-19. Difusionisme lahir karena para antropolog menyadari adanya gejala-gejala persamaan unsur kebudayaan antara suatu masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Berbeda dengan pandangan Evolusionisme, para difusionis memandang persamaan unsur-unsur kebudayaan tersebut akibat adanya persentuhan. Artinya ada komunikasi atau kontak antar dua atau lebih kelompok masyarakat lewat penyebaran atau migrasi manusia yang menyebabkan adanya kesamaan karena proses meniru, menyerap, strategi politik, penjajahan, dan sebagainya.

Cara pikir ini kemudian memicu ide mengenai sejarah atau pemetaan penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini kemudian dikembangkan oleh seorang Jerman bernama F. Graebner, dengan istilahnya yang disebut Kulturkreis atau wilayah kebudayaan. Kulturkreis adalah sekumpulan tempat di mana ditemukannya unsur-unsur yang sama, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Metode klasifikasi unsur-unsur kebudayaan ini ditulis dalam buku yang menjadi sangat terkenal berjudul Methode der Ethnologie. Melalui metode ini, akan tergambar penyebaran atau disfusi kebudayaan, sehingga mampu merekonstruksi sejarah penyebaran umat manusia di muka bumi pada masa yang lampau. Hal ini dikenal dengan nama Kulturhistorie.

Dalam aliran Difusionisme terdapat suatu mazhab yang sangat berpengaruh. Mazhab ini dikomandoi oleh seorang bernama Wilhelm Schmidt. Namun dalam buku Koentjaraningrat ini, mazhab Schmidt dalam cara berpikir difiusionistis tidak diuraikan. Yang dibahas malah pemikiran lainnya yang tidak berhubungan langsung, yakni mengenai asal mula religi, dan bahwa keyakinan monotheisme adalah bentuk religi yang tertua dalam peradaban manusia.

Kemudian dikenalkan juga metode genealogi dari W.H.R Rivers, seorang dokter dan psikolog yang ahirnya tertarik akan antropologi. Metodenya berupa sebuah metode wawancara dalam penelitian lapangan untuk mengetahui kehidupan suatu masyarakat. Rivers meyakini dalam metodenya ini, bahwa untuk mengetahui secara menyeluruh kehidupan suatu masyarakat, diperlukan bahan amat lengkap lewat wawancara mengenai asal-usul nenek moyang setiap individu untuk kemudian dianalisa dan disangkutpautkan dalam berbagai peristiwa.

Disinggung juga satu contoh konkret dari aliran Difusionisme, yakni Heliolithic Theory dari Elliot Smith dan W.J. Perry – walau teori ini gugur di kemudiannya. Teori ini, yang dilahirkan pada waktu di mana orang barat terbukakan matanya dan karenanya terkagum-kagum dengan kebudayaan Mesir, memandang bahwa dari Mesir-lah peradaban umat manusia di dunia diawali. Teori ini melihat unsur-unsur kebudayaan Mesir pada bangunan megalitik dan kepercayaan penyembahan kepada matahari tersebar ke seluruh kebudayaan. Teori ini kemudian gugur setelah mendapat kritik dari R.H. Lowie, yang menyatakan bahwa teori Heolitik ini merupakan teori difusi yang sangat ektrim, dan tidak sesuai dengan kenyataan, baik dipandang dari sudut hasil penggalian-penggalian ilmu prehistori, maupun dari sudut konsep-konsep tentang difusi.

Strukturalisme Levi-Strauss

Selain aliran Evolusionisme dan Difusionisme, Koenjaraningrat juga menyisipkan aliran Fungsionalisme dan Strukturalisme dalam buku ini. Teori Strukturalisme dari tokohnya yang terdepan, Claude Levi-Strauss, bahkan diberi porsi dalam bab tersendiri. Hal ini menimbulkan kesan bahwa teori dari Levi-Strauss ini punya suatu kekuatan atau kepentingan tersendiri sehingga menyebabkan pemberian porsi yang berlebih dibanding tokoh lainnya.

Pada bab ini, sebenarnya ada 5 poin yang ingin dikemukakan Koentjaraningrat, yaitu (1) riwayat hidup Levi-Strauss, (2) metode segitiga kuliner, (3) analisa Levi-Strauss mengenai sistem kekerabatan, (4) konsep Levi-Strauss mengenai azas klasifikasi-elementer, dan (5) pengaruh strukturalisme Levi-Strauss.

Namun pada kenyataannya, buku ini tidak lebih dari hanya memaparkan secara kasar pemikiran-pemikiran dari Levi-Strauss. Teori yang disajikan tidak cukup menohok, tidak cukup memberikan pengertian, apalagi disajikan dengan tanpa ada contoh konkret tentang penelitian yang memakai paradigma ini. Hal ini menjadi percuma bila dikaitkan dengan porsi halaman yang diberikan mencapai satu bab tersendiri hanya untuk seorang tokoh. Alih-alih menjelaskan mengenai metode segitiga kuliner, misalnya, penjelasan tentang apa itu strukturalisme sendiri tidak dihadirkan, sehingga menambah ruwet dan ketidakmengertian.

Misalnya, penjelasan mengenai metode segitiga kuliner. Dituliskan bahwa metode ini dihasilkan setelah Levi-Strauss menguraikan berbagai macam unsur kebudayaan manusia dengan suatu metode khas yang diambilnya dari ilmu linguistik. Metode ini kemudian dicobanya untuk menganalisa unsur makanan. Makanan diperhatikan oleh Levi-Strauss karena makanan adalah kebutuhan pokok binatang dan manusia, dan juga karena ada makanan yang diolah menggunakan api, yang merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia. Selanjutnya dipaparkan kalau ada dua golongan makanan, yang ‘mentah’ dan ‘matang’, yang ‘kena proses’ dan ‘tidak kena proses’. Dari sini terlihat dua golongan, yaitu golongan kebudayaan dan golongan alam. Dan setelah diberikan gambar mengenai segitga kuliner, yang merupakan perwujudan visual dari penjelasan sebelumnya, pembahasan beralih ke sub-bab lain, yakni analisa sistem kekerabatan. Dan pembaca ditinggal pada kebingungannya.

Koentjaraningrat abai untuk menuntun penjelasan di atas pada hal yang lebih bersifat terapan. Bukan hanya itu, bahkan dalam tataran teori saja, pembaca awam mungkin tidak akan paham dari penjelasan yang sangat absurd tadi. Andai saja penjelasan ini bisa lebih tenang dan merengut perhatian pembaca, dan kemudian menaruhnya pada suatu konteks.

Bobot  Buku

Buku Sejarah Teori Antropologi ini pada dasarnya hanya merangkum secara terbatas topik mengenai perkembangan teori antropologi. Teori-teori yang disaji dalam buku ini, tidak cukup untuk dapat dipahami kemudian dipakai dalam penelitian atau studi yang sesungguhnya. Diperlukan bacaan lebih lanjut guna menutup kekurangan-kekurangan yang ada pada buku ini.

Pasalnya, Koentjaraningrat terlalu menitikberatkan bahasannya ke biografi singkat tokoh-tokoh antropologi. Porsi yang dipakai untuk menceritakan kisah hidup sang tokoh sering bersaing dalam penjelasan mengenai teori atau ilmu antropologi itu sendiri. Memang metode penjelasan perkembangan teori sangat terkait erat dengan kehidupan tokoh-tokohnya, namun godaan untuk tidak setia pada fokus bahasan sering menjangkiti pembahasan topik-topik dengan strategi penulisan seperti ini.

Alhasil, buku ini tidak terlalu cocok bila diberikan sebagai pengantar bagi mereka yang baru memulai memahami ilmu antropologi, karena akan menghadapi kebingungan bila dihadapkan pada situasi di mana teori-teori dijejerkan begitu saja tanpa alat bantu yang memadai. Pembaca buku ini, haruslah terlebih dahulu memiliki gambaran singkat dari buku yang lebih bersifat pengantar, seperti buku Pengantar Antropologi, yang juga ditulis oleh Koentjaraningrat.

Lain hal, yang sangat mendasar, perlulah diadakan usaha merevisi buku ini, terutama dari segi bahasa yang sudah sangat tidak memadai dalam konteks tingkat kebahasaan saat ini. Problem bahasa yang ada pada buku ini, pada kenyataannya turut menyumbang kebingungan dalam memahami isinya. Buku yang sudah berusia hampir 3 dasawarsa ini, mau tidak mau, memang perlu diremajakan. Atau setidaknya dilakukan usaha lain untuk menghadirkan kitab-kitab lain sebagai pendamping, agar ia tidak terlalu kesepian dalam jagad ilmu antropologi yang juga sepi ini – dalam arti, tidak sepopuler ilmu lainnya. (ROY THANIAGO)

Pilihan Mereka

Posted by Roy Thaniago On 3:24 PM 0 komentar

engkau wanita
bukan lelaki

maka,
merangkaklah
di rimbun kekang

2003
petojo

Solo Pun Punya 'Malam'

Posted by Roy Thaniago On 1:22 PM 0 komentar


Tiga buah gelas itu menjadi satu-satunya sumber kehangatan di tengah terpaan angin malam. Isinya wedang jahe. Buat kami, tiga pemuda perantau yang jauh dari kehangatan kampung halaman, keluarga, dan pasangan, tiap reguk minuman hangat tersebut cukup membunuh rindu yang mendingin di dada, atau setidaknya menundanya. Bukankah kenikmatan tertinggi ketika berhasil menuntaskan suatu ketertundaan?

KAMI – aku, Akbar dari Padang, dan Sumantri dari Palembang – ada dalam situasi tersebut pada suatu malam di hari Sabtu. Waktu itu malam belum di puncaknya, tapi aku dikerubuti gelisah tak berkesudahan. Dari dalam kamar kos yang terlalu sempit untuk main futsal ini, kularikan sepeda untuk menembus gelap malam kota Solo. Dua teman tadi ikut kuseret pada pelarian kebosananku.

Wedang jahe yang jadi tokoh utama di kepala tulisan tadi, kami pesan dari sebuah angkringan di depan gedung Radio Republik Indonesia (RRI), sebuah tempat yang tak ada bedanya dari konotasi Dolly di Surabaya, Saritem di Bandung, Pasar Kembang di Yogya, atau Mangga Besar di Jakarta. Kalau pun ada beda, itu hanya sekitar kualitas produk, tarif, dan layanan purnajual.

Lapak yang biasa dipakai ”jualan” tersebut dikuasai oleh kami malam itu, dengan harapan beberapa ”penjaja” tersebut sudi berbagai ”etalase” di sana. Sialnya, mereka malah memilih lokasi yang tidak biasanya: di seberang kami dan beberapa meter dari kami. Tolong jangan berpikir macam-macam. Kami hanya melakukan observasi dalam rangka mengenal kota ini di kala malam. Sebuah alasan yang sempurna, bukan?

Bukan keberanjakan malam yang membikin kami bergerak ke pusat kota, tapi karena kekhawatiran akan terjadinya pertumpahan darah demi perebutan lahan – juga alasan kami mulai dilirik-lirik calon-calon pembeli: disangka agen baru. Alasan yang lebih jujur sebenarnya: ketidakmampuan kantong untuk membeli jajanan tambahan sebagai teman nongkrong!

Kami menyusuri malam itu hingga ke jalan utama kota ini, jalan Slamet Riyadi. Di depan Sriwedari goesan kami terhenti spontan karena sebuah pemandangan yang tidak biasa: puluhan, bahkan ratusan remaja, yang entah punk atau bukan, berjalan bergerombol dengan banyak di antaranya bertelanjang kaki. Dengan sebagian besar berbaju hitam, bercelana sempit, dan berdandan kumel, anak-anak kisaran umur terkecil 8 tahun hingga yang tebesar 17 tahun, berjalan kaki dalam berpuluh-puluh kelompok pecahannya.

Mereka merokok. Tidak ketinggalan yang masih bocah-bocah SD. Ada juga yang ngelem dari balik kaos sambil berjalan. Beberapa remaja perempuan juga terlihat menyempil di antaranya. Apakah mereka ada rumah? Ada orangtua? Melihat ada yang berponsel, tidak mungkin mereka tak berumah, tak ber-ayah-ibu (walau asumsi ini mungkin saja sepenuhnya ngaco!). Lalu apakah mereka berganti kostum sesampainya di rumah? Aku tak tahu, meski ingin sekali mengiyakan.

”Ada konser Netral tadi”, kata seseorang di pinggir jalan ketika Sumantri menanyakannya. Ini rupanya yang menjadi magnet gerombolan anak-anak tadi. Netral, sebuah grup band, buat remaja-remaja tadi, bagai petromak buat laron. Namun sebutir sangsi timbul di benak: apa benar remaja tadi bergerombol karena insting dan kehendak pribadi seperti laron, atau inikah yang dinamakan komodifikasi dan konstruksi? Atau seperti yang dikatakan Marshall McLuhan sebagai ’dusun global’? Lagi-lagi aku tak tahu.

Pemandangan fenomena sosial tadi terus mengusik dan menempati salah satu kamar di kepala. Tapi belum sempat berpikir lebih kuat, goesan sepeda melaju lagi ke arah timur. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan banyak orang norak: konvoi sepeda motor yang gaduh, yang merasa memiliki jalan sehingga merasa punya hak meminggirkan pengguna jalan lain. Lampu kelap-kelip berwarna merah atau lamp stick yang biasa dipakai polisi, dipakai mereka agar kelihatan lebih gagah dan lebih biker. Adakah yang lebih bodoh dari mereka?

Pada pemandangan lain, tongkat lampu ini juga yang ditancapkan mirip nisan di sepeda motor yang nongkrong bergerombol di sisi jalan. Ada banyak sekali gerombolan ini yang kelompok satu dengan lainnya dibedakan dari bendera yang dipajang atau dari jenis sepeda motornya. Sepeda motor yang dijejerkan layaknya dagangan batik ini tergabung dalam klab-klab sepeda motor. Klab yang ada karena kesamaan merk atau tipe sepeda motor. Sebuah ide paling tolol yang pernah ada, pikirku.

Melihat mereka, aku jadi ingin membentuk klub pengguna celana dalam GT Man. Aktivitasnya? Tiap malam Minggu nongkrong bareng di keramaian atau lokasi yang terlihat gaul, sambil menunggu anggota yang belum datang. Tak lupa bendera klab bergambar ’celana dalam dililit api’ dipamerkan di depan kami, sambil menemani obrolan kami yang berjudul solidaritas. Setelah itu konvoi keliling kota memakai tongkat lampu dengan berkolor GT Man. Hanya GT Man.

Di sudut Ngarsopuro, depan Pasar Windujenar, perhatian kami dirampas oleh beberapa aktivitas di sana. Ada kelompok sepeda BMX, kelompok capoiera, dan sisanya adalah mereka yang wedangan dan pacaran. Kami duduk di depan kelompok yang pertama. Melihat aksi pamer mereka, selain minder, kepincut juga untuk mencobanya. Tapi mencoba atraksi BMX di tengah malam tanpa pengalaman sebelumnya, apalagi dengan sepeda gunung bekas yang dibeli di Pasar Legi adalah sebuah ide yang tidak kalah tolol dengan klab motor tadi. Jadi lebih baik kami urungkan cita-cita itu.

Malam yang bertambah pekat mengingatkan kami untuk pulang. Tidak ada hasil apa-apa, memang. Tapi setidaknya kami menyaksikan sendiri bahwa Solo pun punya ’malam’. Termasuk sebuah ketololan jugakah?

Kentingan, 6 Desember 2009

Bangkai Sejarah

Posted by Roy Thaniago On 7:38 PM 6 komentar



Beberapa tahun lalu, di bangku SMU, seorang guru sejarah melempar tanya di kelas, ”Soeharto dan Hitler, mana yang lebih jahat?”. Seisi kelas senyap tak ada suara. Satu-satunya suara datang dari alat pendingin ruangan.


SEORANG lain bernama Jozef Goebbels berkata demikian: ”Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya”. Pak Cik Goebbels yang merupakan mentri propaganda Nazi ini benar. Di negeri ini, Indonesia, sejarah dituliskan dengan mengulang-ulang kebohongan, hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran.


Dalam sejarah Indonesia, peristiwa 30 September 1965 merupakan suatu kejadian paling penting. Dianggap penting bukan saja karena di masa ini 500 ribu sampai 1 juta jiwa dibantai secara keji, yang menandai bahwa kita punya ingatan kolektif mengenai kebiadaban, tapi juga menyoal awalan suatu rezim kediktatoran yang sekaligus menandai dimulainya kegiatan bohong terbesar yang pernah ada di muka bumi.


Bohong tersebut dilancarkan lewat penyelewengan fakta sejarah yang menyusup ke benak setiap warga Indonesia, bahkan hingga ke generasi mudanya. Saya ingat ketika sekolah dulu, di mana setiap tahunnya persis tanggal 30 September, harus melawan kantuk demi tugas sekolah untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Lewat film itu, beserta catatan sejarah lain yang tersebar di berbagai buku, hingga buku pelajaran sejarah di Sekolah Dasar, masyarakat awam kadung meyakini militer sebagai pahlawan karena menumpas komunisme. Saat itu juga, rezim Soeharto dengan propagandanya berhasil menebar kebencian terhadap komunis dan siapa pun yang punya hubungan dengannya. Alhasil, suara lain mengenai peristiwa 1965 dibisukan, sehingga sejarah versi Orde Baru-lah yang lebih dikenal.


40 Years of Silence, sebuah film dokumenter karya Robert Lemelson, malah memecah kesunyian yang terjaga selama berpuluh-puluh tahun tersebut. Film ini mencoba menuliskan kembali ingatan mengenai peristiwa 1965 dari sisi korban. Pada 23 Juli 2009, film ini diputar di Goethe Haus, Jakarta, untuk pertama kalinya bagi publik Indonesia.


Film ini mengisahkan empat keluarga yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Budi di Yogyakarta, Degung dan Kereta di Bali. Keempat tokoh utama ini menguak masa lalu mereka yang mengerikan karena stigma komunis. Mereka meyaksikan sendiri bagaimana salah seorang anggota keluarga ditangkap, disiksa, atau bahkan mati. Ingatan kengerian masa lalu ini sangat mendalam sehingga terus membekas dan menghantui hingga sekarang. Mereka didiagnosa menderita Posttraumatic Stress Disorder (PSD).


Lanny, seorang perempuan baya keturunan Tionghoa, ketika 1965, bapaknya adalah ketua Baperki, sebuah organisasi masyarakat kaum Tionghoa yang berkaitan dengan PKI. Alex, bapaknya, dieksekusi di depan mata Lanny. Umur 13 ia waktu itu.


Peristiwa 1965 telah lewat beberapa dekade, tapi tidak menjadi jaminan bahwa teror stigmatisasi sudah usai. Hal ini kemudian turut melukai kehidupan Budi, seorang remaja di Yogyakarta yang lahir jauh hari setelah 1965. Bapaknya adalah mantan tahanan politik yang menyebabkan keluarganya dikucilkan di lingkungan tempat mereka tinggal. Bahkan Kris, kakaknya, dihina dan dianiaya, yang menghancurkan masa depannya sekaligus. Kris lari ke jalan, dan besar di sana. Budi menyimpan amarah dan dendam atas tragedi yang menimpa keluarganya itu. ”Saya ingin membunuh mereka! Saya ingin mereka merasakan apa yang mereka lakukan pada keluarga saya!”, geram Budi berulang-ulang.


Dua tokoh lain, Degung dan Kereta, pun mengalami hal yang hampir serupa. Kedua ayah mereka dibunuh karena label komunis. Setelah itu, Degung lari ke Surabaya dan dibesarkan oleh pelacur. Ia kembali ke Bali saat remaja, menjadi aktivis, dan hidup dalam kesadaran akan trauma yang dialaminya dahulu. Sedang Kereta, hidup dalam rasa takut berkepanjangan. Dia merasa ada roh-roh yang terus membuntutinya. Itu sebabnya, tatkala takut, ia kenakan helm dan celana bermotif loreng-loreng tentara untuk menghalaunya


Lemelson, sang sutradara, adalah seorang antropolog asal Amerika yang meneliti masalah-masalah kejiwaan. Maka tak heran, film ini tidak tergoda untuk bermain dalam wilayah pro-kontra sejarah peristiwa 1965. Lemelson berfokus menyorot habis-habisan dampak kejiwaan seseorang akibat trauma. Ia mengikuti perkembangan kejiwaan keempat tokoh utama selama bertahun-tahun. Semua itu ia tampilkan dengan halus, tidak menggebu, namun sangat mendalam dan kuat.


Kalau biasanya film dokumenter identik dengan citra kaku, bosan, dan datar, 40 Years of Silence sepanjang pemutaran justru tampil menawan dan menyentuh, seperti tidak mengizinkan penonton untuk merasakan kantuk. Sang editor, Pietro Scalia, pemenang dua penghargaan editing terbaik Academy Award, tahu betul bagaimana memasukkan adegan-adegan yang bernas dan merampas perhatian. Bayangkan, 400 jam lebih materi yang terekam, tapi diperas dalam video berdurasi yang ”hanya” 86 menit!


Walau berfokus pada 4 tokoh utama sebagai korban, film ini tetap berusaha merangkai konteks sejarah agar kisah bisa dipahami oleh mereka yang buta akan peristiwa 1965. Usaha itu telihat dari caranya menyulam pecahan demi pecahan keping sejarah yang berserakan dengan meminjam mulut narasumber.


John Roosa, Geoffrey Robinson, dan Baskara T. Wardaya. Mereka adalah sejarawan yang aktif meneliti peristiwa 1965. Lewat mulut merekalah konteks sejarah diurai, kemudian direkatkan oleh Lemelson dengan amat pas.


Film yang digarap dalam kurun waktu 1997-2007 ini amat pas hadir di masa reformasi sekarang. Karya ini diharapkan bisa memicu masyarakat untuk keluar dari kebungkamannya terhadap sejarah. Rekonsiliasi dan rehabilitasi situasi sosial suatu masyarakat, dipercaya Lemelson, dapat terjadi ketika masyarakatnya memahami latar belakang sebuah peristiwa atau penyebab sakitnya suatu masyarakat.


Di Bali, kawanan bangau bertengger di pohon setiap sore dan selalu menghadap ke lokasi yang diyakini sebagai kuburan massal korban tragedi 1965. Mereka dipercaya oleh penduduk setempat sebagai roh para korban pembantaian. Adegan penutup film ini semakin menguatkan bahwa tragedi 1965 meninggalkan perasaan perih, luluh lantak, dan emosional tak terkira menyaksikan kebiadaban suatu rezim terhadap masyarakatnya sendiri.


Sekarang saya paham mengapa Hitler kalah jahat dibanding Soeharto. ”Karena yang Soeharto bunuh adalah bangsanya sendiri”, jawab guru sejarah saya tersebut atas pertanyaannya sendiri. Dan kelas kembali senyap.


Dimuat di Majalah Gong edisi September 2009

Hasyim

Posted by Roy Thaniago On 12:46 PM 1 komentar

Hari ini ia lain. Suara sengaunya menyenggol gendang telinga, ”Ke mane luh, ge?”. Begitu rentet suaranya cepat ketika saya melintas di halaman matanya.

SEPOTONG senyum biasanya cukup untuk menanggapi sapaannya. Benar saja. Seperti sudah dijawab, ia kembali berujar meramahi, ”Ati-ati ye luh!”. Dan mata kami beradu beberapa saat. Beradu mata bak dua orang karib-kental-veteran-perang yang jarang bertemu. Bak veteran pula, matanya seakan bicara, ”Masa mudaku liar”.

Setelah berjalan menjauhi dan membelakanginya, tanpa menoleh saya tahu apa yang dia kerjakan selanjutnya: tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau ada orang lain di sebelahnya, tak ketinggalan dia kata begini, ”Udah gede Si Toge”. Sering ia ucap itu, bahkan di tiap tahun umur saya.

Hari ini ia memang lain. Dan kelainannya ini tidak aneh. Memang begitu ia bersikap ketika sedang ’normal’. Biasanya lelaki plontos itu jarang menyapa. Sekalipun menyapa, bicaranya kabur, pandangannya tidak terarah, dan nafasnya bau alkohol murahan. Alkohol murah yang ngetop dengan label AO.

Sosok yang baru saja saya tuliskan adalah preman kelas teri yang dekat dengan keseharian saya di depan rumah. Orang-orang memangilnya Hasyim. Tapi saya lebih akrab dengan nama Iwan.

Bang Iwan – begitu biasa saya sapa – sudah belasan tahun menguasai lahan parkir di depan rumah saya. Sudah beratus, bahkan beribu botol AO ia tenggak di ’kantornya’. Namun tiap tahun pula – khususnya di bulan puasa – Ia berkata ingin berhenti minum. Sebuah cita-cita yang belum pernah kesampaian

Hari ini Bang Iwan lain. Pandangannya lurus, nafas alkohol diganti bau mulut, dan lafalnya jelas namun tetap sengau. Senyumnya yang lepas memamerkan deretan giginya yang tidak lengkap. Dengan perut buncitnya, ia tetap gesit mengejar mobil yang hendak keluar parkir. ”Terusssssss....!”, jeritnya mengisi sudut kecil di Petojo, Jakarta Pusat.

Hanya Angin

Posted by Roy Thaniago On 7:24 PM 3 komentar

‘ngin
kau tahu,
aku mimpi semalaman
ketika kabut dibasahi air dalam mata
kala gayung tak nyaman lagi buat cebok

‘ngin
aku mimpi tentang dunia
dunia yang baru
dunia yang dulu
rombongan bison menikmati ransumnya
beradu muka dengan tiga pasang hyena tambun
di ladang jagung milik paman Abdul
di mana air dalam tempayan untuk minum kuda,
dihirup rakus oleh seekor kucing dekil
dan tiga tikus pucat
lelap bersama mereka, di tumpukan jerami,
setelah perut sudah tak lagi rewel

‘ngin
entah aku bermimpi atau ingin bermimpi
tentang negara yang tak ada
ketika hanya satu negri untuk semua makhluk
yang merdeka mencicip manis bumi
atau tentang pelukan sepasang iran-portugal
yang ditenggelamkan asmara
dikuyupi cahaya senja
atau tentang pastor dan da’i yang ngopi bareng
dalam diskotek musiman: natal dan idul fitri
atau tentang serigala
yang meneteki marmut yg masih rabun

angin,
kau dengar aku tidak?


kos raflesia, karawaci
14 maret’07

Advertize