Beberapa tahun lalu, di bangku SMU, seorang guru sejarah melempar tanya di kelas, ”Soeharto dan Hitler, mana yang lebih jahat?”. Seisi kelas senyap tak ada suara. Satu-satunya suara datang dari alat pendingin ruangan.


SEORANG lain bernama Jozef Goebbels berkata demikian: ”Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya”. Pak Cik Goebbels yang merupakan mentri propaganda Nazi ini benar. Di negeri ini, Indonesia, sejarah dituliskan dengan mengulang-ulang kebohongan, hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran.


Dalam sejarah Indonesia, peristiwa 30 September 1965 merupakan suatu kejadian paling penting. Dianggap penting bukan saja karena di masa ini 500 ribu sampai 1 juta jiwa dibantai secara keji, yang menandai bahwa kita punya ingatan kolektif mengenai kebiadaban, tapi juga menyoal awalan suatu rezim kediktatoran yang sekaligus menandai dimulainya kegiatan bohong terbesar yang pernah ada di muka bumi.


Bohong tersebut dilancarkan lewat penyelewengan fakta sejarah yang menyusup ke benak setiap warga Indonesia, bahkan hingga ke generasi mudanya. Saya ingat ketika sekolah dulu, di mana setiap tahunnya persis tanggal 30 September, harus melawan kantuk demi tugas sekolah untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Lewat film itu, beserta catatan sejarah lain yang tersebar di berbagai buku, hingga buku pelajaran sejarah di Sekolah Dasar, masyarakat awam kadung meyakini militer sebagai pahlawan karena menumpas komunisme. Saat itu juga, rezim Soeharto dengan propagandanya berhasil menebar kebencian terhadap komunis dan siapa pun yang punya hubungan dengannya. Alhasil, suara lain mengenai peristiwa 1965 dibisukan, sehingga sejarah versi Orde Baru-lah yang lebih dikenal.


40 Years of Silence, sebuah film dokumenter karya Robert Lemelson, malah memecah kesunyian yang terjaga selama berpuluh-puluh tahun tersebut. Film ini mencoba menuliskan kembali ingatan mengenai peristiwa 1965 dari sisi korban. Pada 23 Juli 2009, film ini diputar di Goethe Haus, Jakarta, untuk pertama kalinya bagi publik Indonesia.


Film ini mengisahkan empat keluarga yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Budi di Yogyakarta, Degung dan Kereta di Bali. Keempat tokoh utama ini menguak masa lalu mereka yang mengerikan karena stigma komunis. Mereka meyaksikan sendiri bagaimana salah seorang anggota keluarga ditangkap, disiksa, atau bahkan mati. Ingatan kengerian masa lalu ini sangat mendalam sehingga terus membekas dan menghantui hingga sekarang. Mereka didiagnosa menderita Posttraumatic Stress Disorder (PSD).


Lanny, seorang perempuan baya keturunan Tionghoa, ketika 1965, bapaknya adalah ketua Baperki, sebuah organisasi masyarakat kaum Tionghoa yang berkaitan dengan PKI. Alex, bapaknya, dieksekusi di depan mata Lanny. Umur 13 ia waktu itu.


Peristiwa 1965 telah lewat beberapa dekade, tapi tidak menjadi jaminan bahwa teror stigmatisasi sudah usai. Hal ini kemudian turut melukai kehidupan Budi, seorang remaja di Yogyakarta yang lahir jauh hari setelah 1965. Bapaknya adalah mantan tahanan politik yang menyebabkan keluarganya dikucilkan di lingkungan tempat mereka tinggal. Bahkan Kris, kakaknya, dihina dan dianiaya, yang menghancurkan masa depannya sekaligus. Kris lari ke jalan, dan besar di sana. Budi menyimpan amarah dan dendam atas tragedi yang menimpa keluarganya itu. ”Saya ingin membunuh mereka! Saya ingin mereka merasakan apa yang mereka lakukan pada keluarga saya!”, geram Budi berulang-ulang.


Dua tokoh lain, Degung dan Kereta, pun mengalami hal yang hampir serupa. Kedua ayah mereka dibunuh karena label komunis. Setelah itu, Degung lari ke Surabaya dan dibesarkan oleh pelacur. Ia kembali ke Bali saat remaja, menjadi aktivis, dan hidup dalam kesadaran akan trauma yang dialaminya dahulu. Sedang Kereta, hidup dalam rasa takut berkepanjangan. Dia merasa ada roh-roh yang terus membuntutinya. Itu sebabnya, tatkala takut, ia kenakan helm dan celana bermotif loreng-loreng tentara untuk menghalaunya


Lemelson, sang sutradara, adalah seorang antropolog asal Amerika yang meneliti masalah-masalah kejiwaan. Maka tak heran, film ini tidak tergoda untuk bermain dalam wilayah pro-kontra sejarah peristiwa 1965. Lemelson berfokus menyorot habis-habisan dampak kejiwaan seseorang akibat trauma. Ia mengikuti perkembangan kejiwaan keempat tokoh utama selama bertahun-tahun. Semua itu ia tampilkan dengan halus, tidak menggebu, namun sangat mendalam dan kuat.


Kalau biasanya film dokumenter identik dengan citra kaku, bosan, dan datar, 40 Years of Silence sepanjang pemutaran justru tampil menawan dan menyentuh, seperti tidak mengizinkan penonton untuk merasakan kantuk. Sang editor, Pietro Scalia, pemenang dua penghargaan editing terbaik Academy Award, tahu betul bagaimana memasukkan adegan-adegan yang bernas dan merampas perhatian. Bayangkan, 400 jam lebih materi yang terekam, tapi diperas dalam video berdurasi yang ”hanya” 86 menit!


Walau berfokus pada 4 tokoh utama sebagai korban, film ini tetap berusaha merangkai konteks sejarah agar kisah bisa dipahami oleh mereka yang buta akan peristiwa 1965. Usaha itu telihat dari caranya menyulam pecahan demi pecahan keping sejarah yang berserakan dengan meminjam mulut narasumber.


John Roosa, Geoffrey Robinson, dan Baskara T. Wardaya. Mereka adalah sejarawan yang aktif meneliti peristiwa 1965. Lewat mulut merekalah konteks sejarah diurai, kemudian direkatkan oleh Lemelson dengan amat pas.


Film yang digarap dalam kurun waktu 1997-2007 ini amat pas hadir di masa reformasi sekarang. Karya ini diharapkan bisa memicu masyarakat untuk keluar dari kebungkamannya terhadap sejarah. Rekonsiliasi dan rehabilitasi situasi sosial suatu masyarakat, dipercaya Lemelson, dapat terjadi ketika masyarakatnya memahami latar belakang sebuah peristiwa atau penyebab sakitnya suatu masyarakat.


Di Bali, kawanan bangau bertengger di pohon setiap sore dan selalu menghadap ke lokasi yang diyakini sebagai kuburan massal korban tragedi 1965. Mereka dipercaya oleh penduduk setempat sebagai roh para korban pembantaian. Adegan penutup film ini semakin menguatkan bahwa tragedi 1965 meninggalkan perasaan perih, luluh lantak, dan emosional tak terkira menyaksikan kebiadaban suatu rezim terhadap masyarakatnya sendiri.


Sekarang saya paham mengapa Hitler kalah jahat dibanding Soeharto. ”Karena yang Soeharto bunuh adalah bangsanya sendiri”, jawab guru sejarah saya tersebut atas pertanyaannya sendiri. Dan kelas kembali senyap.


Dimuat di Majalah Gong edisi September 2009
selusuri
Hari ini ia lain. Suara sengaunya menyenggol gendang telinga, ”Ke mane luh, ge?”. Begitu rentet suaranya cepat ketika saya melintas di halaman matanya.

SEPOTONG senyum biasanya cukup untuk menanggapi sapaannya. Benar saja. Seperti sudah dijawab, ia kembali berujar meramahi, ”Ati-ati ye luh!”. Dan mata kami beradu beberapa saat. Beradu mata bak dua orang karib-kental-veteran-perang yang jarang bertemu. Bak veteran pula, matanya seakan bicara, ”Masa mudaku liar”.

Setelah berjalan menjauhi dan membelakanginya, tanpa menoleh saya tahu apa yang dia kerjakan selanjutnya: tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau ada orang lain di sebelahnya, tak ketinggalan dia kata begini, ”Udah gede Si Toge”. Sering ia ucap itu, bahkan di tiap tahun umur saya.

Hari ini ia memang lain. Dan kelainannya ini tidak aneh. Memang begitu ia bersikap ketika sedang ’normal’. Biasanya lelaki plontos itu jarang menyapa. Sekalipun menyapa, bicaranya kabur, pandangannya tidak terarah, dan nafasnya bau alkohol murahan. Alkohol murah yang ngetop dengan label AO.

Sosok yang baru saja saya tuliskan adalah preman kelas teri yang dekat dengan keseharian saya di depan rumah. Orang-orang memangilnya Hasyim. Tapi saya lebih akrab dengan nama Iwan.

Bang Iwan – begitu biasa saya sapa – sudah belasan tahun menguasai lahan parkir di depan rumah saya. Sudah beratus, bahkan beribu botol AO ia tenggak di ’kantornya’. Namun tiap tahun pula – khususnya di bulan puasa – Ia berkata ingin berhenti minum. Sebuah cita-cita yang belum pernah kesampaian

Hari ini Bang Iwan lain. Pandangannya lurus, nafas alkohol diganti bau mulut, dan lafalnya jelas namun tetap sengau. Senyumnya yang lepas memamerkan deretan giginya yang tidak lengkap. Dengan perut buncitnya, ia tetap gesit mengejar mobil yang hendak keluar parkir. ”Terusssssss....!”, jeritnya mengisi sudut kecil di Petojo, Jakarta Pusat.
selusuri
‘ngin
kau tahu,
aku mimpi semalaman
ketika kabut dibasahi air dalam mata
kala gayung tak nyaman lagi buat cebok

‘ngin
aku mimpi tentang dunia
dunia yang baru
dunia yang dulu
rombongan bison menikmati ransumnya
beradu muka dengan tiga pasang hyena tambun
di ladang jagung milik paman Abdul
di mana air dalam tempayan untuk minum kuda,
dihirup rakus oleh seekor kucing dekil
dan tiga tikus pucat
lelap bersama mereka, di tumpukan jerami,
setelah perut sudah tak lagi rewel

‘ngin
entah aku bermimpi atau ingin bermimpi
tentang negara yang tak ada
ketika hanya satu negri untuk semua makhluk
yang merdeka mencicip manis bumi
atau tentang pelukan sepasang iran-portugal
yang ditenggelamkan asmara
dikuyupi cahaya senja
atau tentang pastor dan da’i yang ngopi bareng
dalam diskotek musiman: natal dan idul fitri
atau tentang serigala
yang meneteki marmut yg masih rabun

angin,
kau dengar aku tidak?


kos raflesia, karawaci
14 maret’07
selusuri

aku benci kamu
sejak sebiji kangen tengkurap
di gemburnya hatiku
di luasnya pekarangan mataku
di merahnya luka
di lukanya merah

benciku memekat buatmu
kamu sialan!
seenaknya menyiram si biji
hingga besar dan sering menangis

aku kan
jadi repot

sungguh sial kamu!
keji!
kangen sudah rewel sekarang
ia baru lulus SD kemarin
kau jadi menengok rapornya, lusa?

kata gurunya yang kumis
kangen mulai badung
dia sering menjepreti tali kutang
teman sebangkunya
mejanya juga dicoret-coreti tipe-ex:
kangen was here

kamu tenang banget
makanya aku benci padamu
kamu tengoklah sesekali si kangen

dia tidak menanyakanmu
dia menanyakan PS2
kangen juga minta motor bebek
dia mau merek Suzuki Satria
gaya
sekali dia:
pilih velg racing
dan bodi ceper

kamu!
buru mampir sini
beri tubuhmu
sodorkan bibirmu
biar kulumat pelan-pelan
aku sudah tak tahan
aku sudah tak kuat
aku sudah tak paham
dengan si kangen
makin kurangajar dia
berani adu bacot denganku

berani meninjuku
kalau kau tak datang kemarin
mungkin aku sudah mati
di tangan si kangen


kamar, petojo
240808

selusuri

Nomor tiga yang saya contreng pada Pemilu tahun ini. Pilihan saya akan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto terjadi amat spontan. Sebuah pilihan yang baru diputuskan ketika masuk bilik suara.

PILIHAN itu memang baru diputuskan di bilik suara. Tapi pergulatan menuju pilihan itu tidak terjadi begitu saja. Makan waktu beberapa minggu untuk memikirkannya. Saya bersikap begini bukan karena agar nilai PPKn di sekolah dapat delapan, bukan juga biar dicap nasionalis, apalagi biar dikenal sebagai anak muda yang (sok) kritis. Saya cuma berpikir sederhana, ingin ambil bagian dalam hidup bermasyarakat. Sayang sekali kalau hidup saya hanya diperintah nilai bagus PPKn atau hanya tunduk pada tuntutan pencitraan di masyarakat. Saya lebih nurut kalau disuruh ibu saya untuk ambilkan balsem di lantai atas.

Pemilu presiden tahun ini adalah yang pertama buat saya. Pemilu 5 tahun lalu saya absen. Saya ogah mampir ke TPS walau letaknya persis di depan pintu belakang rumah saya. Pemilu kali ini, saya ogah juga. Maksudnya ogah untuk tidak memilih. Sekalipun mencontreng semua pasangan dan dianggap hangus, saya anggap itu sudah memilih.

Saya dihadapkan pada tiga pilihan pada pemilu 2009: nomor dua, nomor tiga, atau coret-coret kertas suara. Nomor satu memang tidak masuk dalam daftar pilihan sejak pertama. Saya sudah enggan dengan Mega sejak lama, apalagi dengan pasangannya. Sebenarnya JK-Win juga sudah saya buang sejak awal (karena Wirantonya), tapi lewat tulisan ini saya ingin berbagi kenapa toh akhirnya malah JK-Win yang saya contreng.

Singkat cerita, lewat pilihan saya ke JK-Win, saya ingin bicara soal bahasa iklan dalam politik. JK-Win, pasangan yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, ternyata malah saya contreng. Dan saya yakin, ini akibat metode tim sukses mereka dalam mengemas kampanyenya yang menurut saya lebih cerdas, menarik, dan simpatik. Tiga hal yang tidak terjadi pada Mega-Pro dan SBY-Boediono.

Kita akan mengangguk bersama kalau dikatakan bahwa Pemilu di Indonesia sangat tidak mempesona. Masing-masing dari kita akan lebih nafsu untuk ngutak-ngatik fesbuk atau lebih menarik untuk menonton iklan rokok, dibanding mengikuti perkembangan kampanye para capres-cawapres. Mereka sama sekali tidak menarik, malah cenderung memuakkan!

Bagaimana tidak muak, tiap hari wajah mereka meneror kita di sana-sini. Di televisi, di koran, di pintu gerobak nasi goreng, di kaca angkot, di spion bajaj, di kaos tukang parkir, sampai di obrolan warung tegal. Sebenarnya, bukan teror wajah mereka yang membuat saya sebal, tapi isi dari kampanyenya yang ompong. Tidak ada yang menggugah saya untuk memilih salah satu dari mereka selain karena latarbelakangnya. Saya hampir-hampir tidak bisa membedakan mereka karena isi bualannya sama saja.

JK-Win agak lain buat saya. Kampanye mereka jelas lebih menarik. Saya suka dengan iklan yang dikemas. Saya terkejut dengan kelugasan JK saat debat capres yang berani menunjukkan ke-aku-annya. Dia berani tampil menyerang, percaya diri, dan memperlihatkankan bahwa dia berbeda.

Konsep kampanye mereka sangat simpatik dengan mengundang tokoh-tokoh untuk menyatakan dukungan. Apalagi ditambah dengan slogan untuk menjadi bangsa mandiri. Pasangan ini, saya yakin, banyak menggoda para pemilih yang berpendidikan. Kampanye mereka menyodorkan gagasan, karena itu mengusik pemilih dalam taraf nalar, bukan emosi, bukan kekultusan.

Sebaliknya, kampanye SBY dan Mega lebih sebatas pengukuhan citra diri masing-masing. Mega dengan nebeng nama besar bapaknya agar dikulktuskan, sedang SBY tidak punya amunisi program lain selain mengucap ”Lanjutkan” sampai berbusa. Tidak ada tawaran gagasan konkret dari Mega-Pro dan SBY-Boediono. Mereka hanya mengulang-ulang narsistik pribadi. (Mega-Pro memang terlihat mengeluarkan ide lewat progam-program yang disodorkan. Tapi itu tidak lebih dari sekedar fotokopi buku sejarah). Intinya, kampanye mereka lebih menggugah secara emosional dari pada nalar. Mereka tidak sadar, kalau bangsa ini butuh edukasi politik lebih cerdas ketimbang menaikturunkan emosi.

Dugaan saya, baik Mega maupun SBY sadar akan ketertokohan mereka. Sehingga karenanya, tanpa bergagas pun massa mereka sudah ada. Beda dengan JK yang massanya mungkin hanya datang dari jaringan parpol atau koleganya. Mungkin inilah mengapa, SBY dan Mega enggan menawarkan gagasan: takut membuat blunder. Mereka merasa lebih baik cari aman dan menutup sama sekali celah untuk didebat karena ide mereka. JK sebaliknya, dia yang tidak memiliki massa loyal, merasa perlu jungkir balik agar dapat mencuri suara dari massa Mega maupun SBY. Dan terbukti, suara saya dicuri ketika Pemilu.

Saya menyadari bahwa proses berdemokrasi masyarakat Indonesia masih anget-anget tahi badak (kasihan tahi kucing mulu). Masyarakat belum cerdas untuk menentukan sikap karena pilihan pribadi. Masyarakat lebih condong bersikap karena faktor X di luar dirinya seperti ikut-ikutan, ketokohan, tidak ada pilihan, nurut suami atau istri, bahkan sampai yang memilih karena dibayar. Tapi dengan meyaksikan langsung proses demokrasi tahun ini saya yakin kita sudah di titik mula jalur demokrasi yang ideal.

Lewat kampanye JK-Win, saya senang, karena ada yang mengisi ranah kognitif saya ketimbang emosional semata. Artinya, masyarakat kita sudah mulai bisa dididik dalam berpolitik melalui kampanye cerdas yang terbukti efektif. Atau sebaliknya, kampanye kultus-mengkultus tetap dilakukan, agar masyarakat tetap bodoh?

Lalu, apakah dengan mencentang JK tepat pada kumisnya, menunjukkan bahwa saya mendapatkan presiden ideal? Tidak, sama sekali tidak. Sampai di bilik suara, bahkan sampai SBY menang, saya tidak menemukan pilihan ideal di Pemilu tahun ini. Lewat pilihan ke JK, saya hanya ingin menunjukkan, bahwa saya menghormati capres-cawapres yang mengakui keberadaan saya sebagai manusia yang berpikir. Itu saja.
selusuri

Ujung hidung saya menangkap bau yang sudah dihapalnya belasan tahun. Dialah yang membujuk kaki saya untuk turun ke lantai bawah.


BENAR saja! Apa yang diindra si hidung, ternyata sama persis dengan apa yang ditangkap mata saya: pempek. Bau dari penganan khas Palembang ini selalu mengganggu konsentrasi saya. Tak terkecuali hari ini. Ibu saya yang Palembang memang pandai menggoda lidah siapa saja dengan pempeknya.


Suara gemericik dari letupan-letupan kecil minyak goreng selalu melengkapi perziarahan kuliner saya dengan pempek. Artinya, hanya pempek panas, yang baru diangkat dari kualilah, yang menjadi mangsa saya. Sehingga saya berusaha duduk tak jauh dari dapur, tempat di mana dengan ajaibnya makanan perangsang lidah ini diolah.


Pempek asli Palembang biasanya dibuat dalam berbagai bentuk: panjang, isi telor, keriting, gepeng, dan bulat. Pada bentuk yang terakhir inilah Ibu saya paling sering membuatnya. ”Biar gak repot”, ujarnya.


Cairan encer bewarna coklat kehitaman, selalu menjadi teman setia saat melumat pempek. Cuka pempek, begitu biasa disebut. Namun sudah jadi kebiasaan saya untuk selalu memulai ritual melahap pempek tanpa cuka. Dengan begitu, lidah saya mampu melacak apa yang kurang dari pempek hari ini.


Rasa ikan tenggirinya amat pas. Tidak terlalu tajam, tapi juga tidak tenggelam karena adonan terigu. Ketika digigit, gress!, tingkat kekenyalannya amat sempurna. Lebih lembut dari bakso ikan, tapi sedikit lebih kenyal dari telur puyuh. Gigi depan saya merasa amat merdeka ketika panasnya pempek sebesar bola pingpong menari-nari dengan bebasnya. Seketika itu juga aroma bawang putih-bawang merah meruap masuk ke langit-langit mulut saya dan menyusup cepat ke kerongkongan. Takaran garam dan santan juga terasa amat pas. Sempurna.


Kontur pempek yang sedikit bergelombang, dan karenanya mencipta lekukan garing, adalah favorit saya. Karenanya, pempek-pempek yang menempati sebuah kotak plastik transparan buram warna putih keabu-abuan dengan ukuran panjang dan lebar kurang lebih 30 cm x 15 cm itu, sering saya gelindingkan satu per satu, sekedar untuk melihat konturnya. Pempek paling bopeng yang lebih sering saya mangsa. Ada kriuknya.


Sebuah mangkok plastik transparan buram berwarna biru saya keluarkan dari lemari piring. Di satu sisi tertulis sepotong merk: Supermie. Sebuah botol beling bekas sirup berisi cuka pempek sudah siap sedia sejak tadi. Sebuah stiker kumel yang sudah compang-camping di salah satu sisi botol memperkenalkan diri kalau ini bekas botol sirup ABC rasa leci. Di permukaan teratas cairan hitam kecoklatan ini mengapung segumpal ampas dan biji cabai. Sedang sisanya yang lain mengendap di dasar botol. Tenggelam.


Setelah asik mengunyah pempek tanpa cuka, saya membiarkan cuka pempek ikut bergulat bersama di dalam mulut. Pempek serasa lumer di lidah ketika disantap bersama cuka. Panas dan pedasnya cuka memberi tamparan tersendiri buat lidah. Sesekali satu sendok cuka menyusul ke mulut ketika pempek sedang terkunyah. Lewat celah-celah gigi saya yang tidak rapat, cairan campuran gula jawa, cabai, cuka, garam ini menyelinap ke sana ke mari menguasai mulut. Sehingga sesudahnya, lidah saya serasa diduduki dua perempuan tambun selama berjam-jam: panas.

selusuri

Ponselku berbunyi santun dan sertamerta membikinku bergidik. Kubaca dengan cemas isinya dan benarlah kecemasan itu. Aku rasakan tenaga di kaki menguap setelah pesan yang cuma sepotong itu selesai kubaca:
_____________________
Mas, Opa sudah pergi…

Pengirim:
Mama
+628149090803
_____________________

TAK terkejut aku mengetahui kedukaan ini. Aku memang sudah mengira sebelumnya, jauh sebelum hari ini mampir. Setelah mendengar Opa dirawat di St. Carolus karena diseruduk mobil patroli Satpol PP, aku tahu, saatnya sudah tiba. Jadi aku sama sekali tak terkejut dengan SMS dari Mama itu. Yang membuatku terkejut – bahkan amat sangat terkejut – justru ketika kemarin lusa tahu bahwa Opa ditabrak di atas zebracross, sebuah tempat yang menurut Opa paling ramah.

Opa memang dikenal oleh kami keluarganya dan masyarakat sekitar rumah sebagai orang yang giat mengkampanyekan budaya tertib berlalulintas. Bukan saja giat, tapi juga resek dalam hal ini. Ia tak segan berkata jorok dan makian pada pengendara sepedamotor yang seenaknya melintas di trotoar. Dengan santainya ia bisa menghampiri dan mengetuk kaca jendela mobil yang seenaknya buang sampah di jalan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa amat menyakitkan dan menjijikan. Tapi terhadapku, tak pernah kudengar darinya sehuruf, bahkan senafas pun, yang terkesan kasar atau menakutkan. Sebaliknya, tuturnya amat santun dan patut, hingga waktu ingusan dulu aku mengira ia menyortir kata dari kamus sebelum berbicara – yang kemudian kudapati bahwa aku keliru setelah membongkar isi tasnya atau meraba-raba kantong celana dan saku kemejanya, berharap menemukan kamus kecil atau buku saku.

Ia juga seorang dramawan yang baik – aku tak lupa soal ini. Begini ceritanya: pernah waktu aku masih duduk di kelas 3 SD, seperti biasa ia mengantarku berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya tak lebih dari duapuluh kali kabel gulungan dari rumah. Di tengah gang satu arah itu kami berhadapan dengan sepedamotor nekat yang berkendara melawan arah. Dengan spontannya Opa sengaja melebarkan jarak gandengan tangan kami agar sepedamotor itu tak bisa lewat. Berciuman dengan lembutlah roda sepedamotor buatan Jepang itu dengan telapak sandal Opa yang buatan Cina. Ketika sang pengendara membuka kaca helm, Opa memaki garang, “Tolol kamu! Bagaimana kamu bikin kamu punya mata sampai tidak melihat plang verboden di depan sana!?”, sambil menoyor kepala pengendara itu dan berlanjut lagi kekinya, “Sontoloyo!”.

Kemudian di hadapan tolakpinggang Opa, pengendara itu menjadi gentar. Diputarkannyalah sepedamotor buatan Jepang namun joknya permakkan Sawah Besar itu dengan perlahan. Tolakpinggang Opa baru reda setelah sepedamotor itu hilang menyelinap ke tikungan.

Opa pun terbahak bangga dan menanyakan pendapatku, “Bagaimana ekting Opa, Mas? Tidak kalah dengan Steven Seagel kan? ”. Belum kujawab, dan Opa tenggelam lagi dalam tawanya sambil kembali menuntunku sampai ke gerbang sekolah.

Papa malah punya cerita lain mengenai keganjilan – bagiku keheroikan – Opa. Dalam suatu kesempatan makanmalam, rupanya Papa senewen besar terhadap Opa akibat kejadian tadi siang. Senewennya itu dibawa-bawa hingga makanmalam yang berbuntut debat dengan Opa – di keluargaku, debat, bahkan dengan yang lebih tua sekali pun, diperbolehkan, malah diwajibkan.

“Apa Bapak pikir perbuatan Bapak tadi itu tepat?”, mulai Papa mengajukan tanya kepada Opa yang sedang duduk di kursi kebesarannya, persis sebuah persidangan.

Menjawab lelaki bernama Slamet itu Opa terkesan santai, “Perbuatan yang mana, Met?”.

“Soal tadi siang di mobil. Di lampumerah. Untuk apa sih Bapak turun dari mobil dan memberi kotbah anak muda bersepeda motor itu?”, nada Papa masih senewen.

“Oh. Itu bukan memberi kotbah, Met. Itu mengomeli namanya.”

“Terserah Bapak. Mau kotbah kek, mau ngomel kek, yang jelas aku malu! Masih untung orang itu tidak balik mengomel atau bahkan menjotos Bapak. Bisa repot urusannya!”, aksi cuek Opa membuat Papa makin senewen.

Pendek cerita, ternyata ketika Papa dan Opa di lampumerah, di mobil, Opa melihat seorang anak muda berkendara sepedamotor berhenti di depan garis stop, bahkan sampai ke areal zebracross. Seperti tabiatnya yang biasa, turunlah Opa tanpa ragu dari mobil, menghampiri orang itu, mengomeli dan menjewernya supaya memundurkan sepedamotor hingga ke tempat yang patut.

“Itu bukan kampanye budaya namanya, tapi pemaksaan keyakinan!”, Papa menutup debat dengan sewot. Dan kami sekeluarga menutupnya juga dengan cara sendiri-diri: aku dan Ririn tertawa mengakak, Mama tersenyum mengeleng-geleng, dan Opa cekikikan hingga terbatuk.

***

Bertahan selama 2 hari di ruang ICU, bagi seorang lelaki tua macam Opa adalah sebuah kehebatan tersendiri bagiku, dan mungkin juga bagi keluargaku: Papa, Mama, Ririn adikku semata wayang yang duduk di bangku kuliah, juga kerabat yang lain. Sikapnya yang menolak tunduk pada nasib seperti ingin menunjukkan agar kami meniru laku hidupnya. Bagaimana tidak, Opa bukan saja mampu bertahan dalam ketidakpastian hidup, tapi ia justru masih sempat menghibur kami dengan senyumnya. Satu senyuman seorang yang tergeletak kritis mungkin sebanding dengan 2 kali naik-turun Gunung Gede secara maraton. Tapi Opa tidak memperlihatkan itu, dan melakukannya dengan tulus, seolah-olah ingin berkata, “Opa masih kuat kok”.

Terhadap senyum Opa itu, kami sekeluarga cuma bisa membalasnya dengan senyum pula, disertai airmata dan doa tentunya. Airmata – juga airkeringat – kami makin deras tatkala tahu bahwa kecelakaan itu dinyatakan sebagai kesalahan Opa oleh polisi.

***

“Anda menjadi polisi dengan pendidikan atau menyogok? Apa tidak pernah anda baca dalam ilmu marka jalan bahwa zebracross itu tempat untuk menyeberang?”, cecarku galak meniru Opa ketika di kantor polisi, siang hari setelah kecelakaan.

“Bung Onath, Bung harusnya tidak membiarkan lelaki setua ini keluyuran sendirian. Bung kan tahu sendiri kalau jalanan di Jakarta itu kejam. Di mana Bung berada ketika terjadi kecelakaan?”, polisi muda berpangkat Sersan Dua itu malah berbalik tanya.

Kontan aku langsung menubruk dengan nada tinggi, “Apa anda merasa bahwa saya perlu dituntut karena lalai menjaga Opa saya, sehingga pertanyaan tadi muncul dari mulut anda? Sebegitu tunduknyakah polisi berpendidikan seperti anda pada peraturan formil yang multitafsir itu ketimbang tunduk pada perasaan sendiri? Bapak Sersan yang budiman, sekali lagi saya katakan, Opa saya ditabrak di zebracross, bukan di lintasan balap!”.

Teman polisi itu rupanya gentar melihat mataku yang penuh marah, sehingga dibatalkannya menjawabi aku, yang kemudian yang berpangkat Sersan Dua-lah yang menjawab lagi, terus menerus. Begulat kata aku dengan dia. Aku cukup bengis.

Rupanya polisi berpendapat bahwa Opa menyeberang pada saat yang tidak tepat, yakni ketika kendaraan sedang laju-lajunya. Mereka menegaskan berulang kali bahwa Opa tidak mau bersabar menunggu jalanan agak lenggang baru menyeberang.

Aku tahu sendiri prinsip Opa soal zebracross. Bukan saja tahu, tapi aku masih hafal bahwa baginya, pejalankaki adalah raja ketika menginjak zebracross. “Kamu tidak perlu ragu menyeberang bila di zebracross. Sudah sepatutnya para penguasa jalanan itu sejenak memberi tempo pada pejalankaki ketika di garis putih-hitam itu”, suara Opa lamat-lamat menggema dalam tenggorokanku.

Oping, petugas Linmas di kompleks kami pun terkejut besar ketika tahu Opa kecelakaan. Sepulangku dari kantor polisi, Oping sudah nangkring di depan pagar. Rupanya ia menungguku untuk mencari informasi soal Opa.

“Mas Onath, bener kagak Opa Pram dihajar mobil patroli Satpol PP ‘eni pagi? ”, tanya Oping dalam Betawinya yang kental.

“Benar Bang Oping. Gak ada yang bertanggungjawab. Polisi malah menyalahkan Opa yang tidak sabaran katanya”.

“Berarti bener ye ceritanya si Mansur soal Opa Pram. Saya emang empet banget tuh ama Satpol PP! Romannya suka sok jago! Kasihan ye Opa Pram, Mas Onath…”

Kujawab hanya dengan anggukan pelan sekaligus minta diri masuk ke dalam rumah.

***

Berangsur-angsur wajah tua Opa semakin jelas pada ingatanku. Bila semula hanya bayangan atau sesapu kuas, kini menjadi raut sesungguhnya, lukisan seutuhnya, lengkap dengan keriput dan uban, juga beberapa helai rambut rontok di bahu kemejanya.

Badannya tidak pernah terlihat bungkuk ketika berjalan. Sebagai mantan atlet posturnya pun tetap terjaga. Bugar dan proporsional. Tidak juga tergantung kacamata pada pengelihatannya. Ia juga hafal nama-nama warga di kompleks, terutama yang sering datang pada pelatihan lalulintas yang sering Opa adakan di rumah Pak Syukur, Ketua RT kompleks. Sebagai duda pun, ia tidak cengeng, merengek, meratapi dirinya yang cuma sebatang setelah ditinggal Oma 12 tahun yang lalu.

Opa Pram akan dikubur di sebelah makam Oma, seperti pintanya dulu. Aku memang bersedih karena kepergiannya. Terlebih kepergiannya ketika aku sedang merencanakan pesta pernikahanku dengan Wulan tahun depan. Cita-citaku untuk membiarkan bocah-bocahku yang gemuk bermain dengan Opa-nya, berkejaran dengan Opa-nya, bahkan mengulang masa kecilku dulu: mengantarku ke sekolah, memaki ‘monyet’ pada supir taksi yang menerobos lampu merah, dan mencegat pengendara sepedamotor di gang satu arah, kandas sudah. Aku harus mengusir impian macam itu yang mungkin akan menyerang di dinginnya malam.

“Tlulululut…tlulululut…tlulululut…”, ponselku berteriak kencang.

”Mas, di mana? Mama dan Papa dari tadi menunggu di rumah sakit. Cepatlah Mas ke sini!”, terdengar suara lirih di seberang sana, suara Ririn adikku.

selusuri