PASKAH tahun ini agak berbeda buatku. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Paskah kali ini aku tak disibukkan oleh kegiatan berbau Katolik. Aku tak lagi menemukan diriku sedang sibuk mengatur barisan Misdinar yang melakukan persiapan di sakristi. Atau aku tak hanyut dalam begadang untuk mempersiapkan properti tablo Jumat Agung. Semua itu sudah tersimpan rapih dalam laci memoriku.

Tahun ini, aku melewati Paskah justru di gereja seberang. Masih saudara seiman, tapi mereka menjuluki diri Gereja Kristen Indonesia (GKI Samanhudi). Bukan saja menarik dan berbeda, tapi aku mengambil pelajaran berharga dari pengalaman kali ini.

Sudah 2 bulan ini aku akrab dengan komunitas Ensembel Galilea (EG). EG adalah sebuah kelompok musik rohani yang melayani jemaat (istilah mereka) pada kebaktian. Mereka merupakan metamorfosis dari sebuah kelompok musik sederhana yang awalnya ‘hanya’ memainkan ensembel recorder (suling) dan pianika, hingga kini bertumbuh raksasa menjadi sebuah orkes yang luar biasa.

Formasi mereka mendekati orkes profesional. Ada sesi gesek yang cukup lengkap, padu padan sesi brass dan woodwind juga tak kalah hebat, dan tambahan combo. Apalagi lagu-lagu yang dibawakan merupakan hasil aransemen-aransemen yang dibuat mandiri oleh beberapa anggota. Tak heran mereka bisa mencapai usia kesebelas di tahun ini. Andai Gereja Katolik mengikuti jejak mereka untuk mengembangkan musik. Tak harus sama, tapi setidaknya punya perhatian pada bidang ini. Ya, musik adalah salah satu sarana beribadah yang paling sentral.

Singkat cerita, aku main alto saksofon di EG. Ajakan ini berawal dari aktivitasku mengajar gitar klasik di Bina Musik Samanhudi (Bimus) sejak 1 tahun lalu. Bimus adalah sebuah sekolah musik yang dikelola oleh GKI tersebut. Lagi-lagi, kita lihat bagaimana GKI memetakan bidang musik dalam spiritual mereka.

Tanpa bermaksud berbicara soal musik, aku sebenarnya ingin mengajak pembaca sekalian untuk menyoroti kegiatan peribadatan mereka. Atau dalam istilah mereka disebut Kebaktian, dan dalam Katolik disebut Misa. Intinya sama saja, bahwa pada saat ini para umat/jemaat meleburkan diri ke dalam ke-Ilahian.

Apa yang Berbeda?

EG bermain untuk tiga kali Kebaktian pada Minggu Paskah, yakni jam 7.00, 9.30, dan 18.00. Aku pun turut bermain pada ketiga waktu tersebut. Dalam pengamatanku, selama tiga kali Kebaktian tersebut, aku hanya mendengar suara dering ponsel sebanyak dua kali. Tidak lebih! Aku jadi membandingkan bila ikut Misa berdurasi satu jam limabelas menit. Mungkin lebih dari lima dering ponsel kudengar.

Dalam berpakaian, terlihat bagaimana mereka menghormati dan menghargai waktu untuk beribadah. Mereka benar-benar mempersiapkan diri untuk beribadah dengan pakaian yang pantas. Aku tak melihat ada pria memakai celana pendek, bahkan anak kecil sekalipun. Kaum hawa pun tak kalah santun. Mereka tidak memamerkan tali kutang warna-warni, atau gaun mini yang lebih cocok buat kegiatan ­foreplay. Namun itu semua tidak mengurangi rasa tertarikku pada satu dua perempuan manis. Berbeda dengan kehidupan dalam Misa, kaum hawa justru berusaha memperlihatkan sebagian paha atau dadanya untuk membuatku melirik.

Sepanjang Kebaktian, pemimpin ibadat (pendeta) tidak diberi posisi sentral. Seluruh rangkaian ibadat dipimpin oleh pembaca acara. Pendeta hanya beraksi pada beberapa bagian penting seperti doa, kotbah, dan berkat. Selebihnya diam. Mensejajarkan diri sebagai jemaat. Ya, ini mungkin hasil reformasi Luther untuk tidak mendewakan pemimpin agama. Walau kita sadari bersama, dewanya tetap ada dan berganti wujud menjadi kaum Majelis (istilah Katolik: Dewan Paroki).

Memang ada beberapa kelemahan pada Kebaktian dibanding Misa. Namun kurasa itu tak perlu diurai di sini untuk mengumbar kelebihan Katolik. Yang perlu dipetik adalah nilai positif mereka yang sudah membudaya kuat. Tidak ada salahnya kan saling belajar?

Ah..aku jadi bingung, Tuhan yang kuanggap mati itu, milik umat mana ya? Lalu, di mana Tuhan berada ketika Misa? Jawabku, (t)uhan mereka ada di dalam ponsel, dompet, mobil mewah, waktu yang berharga, buah dada yang menggemaskan, rokok, pujian Pastor, rumah bordil, koleksi lukisan, game on-line, juga uang kolekte.


(t)uhan memang sudah mati. Maka kukirim ucapan belasungkawa ke tengah Misa. Biar Pastor melotot, dan umat menyanyi merdu, (t)uhan memang sudah almarhum.
selusuri

Dewasa ini, sesuatu yang tidak menjadi kebiasaan selalu menjadi momok bagi tiap orang. Sebagian yang dianggap ‘berbeda’ atau tidak biasanya oleh masyarakat kebanyakan dianggap kurang normal atau aneh.

DALAM kamus hidup kebanyakan orang, bekerja di kantor menjadi manajer, punya mobil dan rumah pribadi, hidup berkeluarga, menjalani hidup yang dilakukan kebanyakan orang adalah sesuatu yang selalu dipikirkan dan didamba. Dan dalam kamus hidup itu pula, kehidupan sebagai relawan di daerah-daerah konflik, mengurus pendidikan anak-anak jalanan dengan resiko hidup miskin, menjadi selibat, dan menempuh kehidupan membiara adalah sesuatu yang patut dihindari dan ditakuti.

Dalam kehidupan yang beriman Kristiani, tentunya kata ‘panggilan’ bukanlah sesuatu yang asing buat kita. Setiap dari kita punya kewajiban untuk mau dan mampu menjawab panggilan kita masing-masing sebaik-baiknya. Panggilan hidup tiap individu adalah berbeda-beda. Ada yang terpanggil menjadi ayah yang baik di keluarga, ada pula yang terpanggil menjadi pengurus sebuah organisasi sosial, ada yang menjadi seorang pelaku seni, pelajar yang berprestasi, pejabat di pemerintahan, ataupun seorang dokter di Rumah Sakit. Tapi berapa banyak yang mau menjawab panggilan sebagai biarawan/ti?

Ketika ditanya, apa yang terlintas secara spontan mengenai panggilan, Rachmat Karwan, seorang umat Paroki luar yang sering mengikuti Misa di Kemakmuran mengatakan, kesempatan dari Tuhan untuk melayani sesama. Menurutnya, panggilan bisa kita jawab melalui pelayanan kepada sesama yang belum seiman dengan kita. Bapak dari dua orang anak ini juga mengungkapkan bahwa semasa mudanya tak pernah terpikir untuk menjadi seorang Pastor.

Lain halnya dengan Kurniawan. Salah satu aktivis di Kemakmuran ini, pernah terpikirkan untuk menjadi seorang Pastor. “Tapi gua merasa unsur keduniawian gua terlalu kuat”, begitu lanjutnya. Saat-saat merasa ‘terpanggil’ itu menurut pengakuan karyawan muda yang tinggal di wilayah I ini adalah ketika mengikuti misa panggilan. Tapi seringkali perasaan itu hanya sesaat saja, kemudian timbul, tenggelam, timbul lagi, tenggelam lagi, dan seterusnya.

Yunita, umat Paroki Kampung Duri yang lebih aktif sebagai Mudika di Kemakmuran, pun sama seperti yang dialami Kurniawan. Dia pernah terpikir untuk menjadi seorang suster, melayani Yesus melalui sesama. Perasaan itu pernah hidup ketika ia sudah menjadi Katolik. Tapi sayang, sama seperti orang kebanyakan, perasaan seperti itu hanya sesaat dan hilang dengan cepat.

Di lain sisi, tampaknya hal di atas tak berlaku bagi Abraham, wilayah III dan Yogi Saputra Wanamarta, wilayah II. Pasalnya, baik Abraham maupun Yogi merasa mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi seorang Imam . Bram, panggilan akrab Abraham, ketika diwawancara lewat telepon, mengaku mengalami masa-masa itu waktu remaja. Berawal ketika ia pindah keyakinan dari Kristen Protestan ke Katolik. Kala itu ia prihatin dengan kekayaan spiritual umat Katolik. Banyak umat Katolik yang minim pengetahuan akan Alkitab. Motivasi awalnya itulah yang membuat ia ingin membantu umat yang lain untuk mengerti Tuhan dengan menjadi Pastor. “Yah…waktu itu masih aktif di PA deh!(Putera Altar – red)”, kenang Bram dengan gaya bicaranya yang santai dan ramah. Bram juga mengkisahkan bagaimana ia sempat berangkat ke Seminari Mertoyudan ketika berumur 24 tahun. Sayangnya, proses pembinaan yang ia tempuh di Seminari membuatnya mundur dan pulang. Sapaan dari Tuhan, dan dalam panggilan tidak semuanya terpilih, begitu ia menanggapi sebuah kata ‘panggilan’.

Yogi pun memiliki perasaan yang kuat untuk menjadi Pastor. Di usianya yang masih remaja ini, Yogi merasakan perasaan itu ketika masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Waktu itu, siswa kelas 2 SMP Regina Pacis ini, suka sekali membaca rubrik tentang orang kudus di majalah HIDUP yang ada di rumahnya. Karena keasikkannya dalam menghayati kisah-kisah orang kudus itulah yang menumbuhkam perasaan terpanggil dalam hidupnya. “Saya kaget ketika dulu ketika Yogi masih SD mengatakan ingin menjadi Pastor”, ujar ibu Yogi, Susanna Solihin. “…saya kira bercanda, tapi karena ia sering mengatakannya, saya percaya”, lanjutnya.

Metropolitan: Kota sejuta tawaran

Memang banyak sekali kisah-kisah yang menyangkut panggilan hidup seseorang. Ada yang menanggapinya biasa saja, ada yang ngotot, ada yang lucu, dan banyak kisah lainnya. Tentunya banyak juga cerita mengenai hambatan-hambatan yang dialami. Bram menerangkan, sedikitnya hambatan-hambatan itu adalah, orangtua melarang, kurang kejelian dari Pastor atau badan lain yang bersinggungan, dan kurang seringnya diadakan momen-momen khusus tentang panggilan seperti retret panggilan, seminar, dan lainnya. Sedangkan Kurniawan mengatakan karena faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap sepinya benih panggilan. Di kota asalnya dulu, Lampung, cerita mengenai seorang teman yang ingin menjadi biarawan adalah sesuatu yang tidak pernah ia dengar. Menjadi seorang biarawan/ti sangat tidak populer dan tidak diminati kebanyakan anak muda.

Keadaan kota Jakarta, kota metropolitan, kota penuh beragam tawaran duniawi yang mengenakkan juga menjadi faktor sepinya panggilan dari kota-kota besar. “Di sini (Jakarta – red) tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau agamis”, terang Rachmat. Ya, pilihan untuk hidup mapan, berkeluarga, sudah sangat lekat dengan pola pikir masyarakat hedonisme.

Orangtua yang sebenarnya berperan sebagai pendidik iman awal dari anak-anaknya, kadangkala malah sering mematikan potensi-potensi panggilan yang hidup pada anak-anaknya. Kebanyakan orangtua mempunyai persepsi yang keliru mengenai panggilan. Sebagian dari mereka mengharapkan anaknya menjadi orang sukses dan mampu membahagiakan keluarganya dengan harta. Ada juga orangtua yang takut bila anaknya menjadi Pastor nanti, siapa yang akan mengurusnya di hari tua mereka. Ketika disodorkan pada sebuah pertanyaan tentang izin anaknya untuk menjadi seoramg biarawan/ti, mayoritas dari mereka menjawab ya. Tapi entah bila dihadapkan pada sebuah realita. Hal itu dapat kita tangkap pada jawaban-jawaban yang diberikan Bram dan Rachmat. Mereka mengatakan bahwa mereka memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak-anak mereka. Begitupun dengan pengakuan Susanna, ibunda Yogi. Walau pada awalnya ia sangat terkejut dan takut mendengar ungkapan anaknya untuk menjadi Pastor, pada akhirnya ia pun merasa ia tak akan mampu melawan kehendak Tuhan pada nantinya. Sekarang, setelah bertahun-tahun melihat tekad kuat yang tumbuh dari anaknya dan mendengar masukan dari orang-orang terdekatnya, ia merasa harus berpasarah pada Tuhan dan membiarkan anaknya yang memilih.

Sebagai seorang Imam, Rm. Soesilasoewarna, MSC., merasakan hal-hal yang sudah disebutkan di ataslah yang membuat sepinya panggilan dari kota-kota besar. Dia pun dulu mengkisahkan bagaimana pergulatannya untuk menjadi Imam. Dia sempat mengalami ‘naik turun’. Tapi semua hal itu tak pernah membuatnya ragu-ragu besar. Imam senior ini juga memberi tips-tips untuk menjaga perasaan itu, yaitu perlunya aktivitas doa dan jangan kebanyakan menganggur. “Harus asyik dengan hidupnya!”, begitu lanjutnya semangat.

Romo Soes, sebagai Pastor Paroki, menerangkan bahwa Paroki belum mempunyai program secara serius mengenai ‘panggilan hidup’ di Paroki. Ini adalah bagian daripada program pembinaan umat, serunya lugas. Terakhir ia berkesimpulan bahwa, sedikitnya benih panggilan di Paroki, berarti menunjukkan kehidupan beriman umat Paroki. “Kalau belum ada bukti benih panggilan, berarti perlu dipertanyakan iman umat”, ujarnya serius.

Ternyata, realita yang ada di Paroki menunjukkan betapa sepinya benih panggilan yang ada. Minimnya panggilan menunjukkan kepedulian iman umat terhadap Gereja. Mungkin diperlukan penanganan yang lebih terfokus dari badan-badan yang bersinggunagan.

Ya, proses ini butuh waktu. Butuh pemahaman dan penyeragaman persepsi umat Katolik yang lebih mendalam mengenai hal ini. Karena, kebanyakan dari kita hanya berhenti pada keraguan saja. Kita takut berpikir, takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan diri yang pada akhirnya jawaban yang lebih sering didapatinya adalah kesakitan dan kekecewaan.

Dimuat di JENDELA Kemakmuran vol. 3, edisi 05/06

selusuri

gelap

panjang

hampir tiap malam

tapi ini beda

semua berubah

tak kukira


basah

tiap helai rambutku

sekujur punggungku

selingkar mata kakiku

dan

mata hatiku

juga mata sipitku

basah


air dalam air

tertawa

sambil mengunyah

sebuah kesakitan

milik seorang bocah


5 okt’03

kamar, petojo
selusuri

Semut yang diinjak tidak selamanya diam dan pasrah meladeni nasib. Ada kalanya semut-semut itu meluapkan amarah dan berbalik menuntut nasibnya. Mereka tidak selamanya ingin diinjak.

ILUSTRASI di atas mungkin tidak sepenuhnya sesuai untuk menggambarkan bagaimana semangat feminisme yang sedang bergejolak. Perempuan memang tidak seremehtemeh semut. Namun sikap ‘tidak selamanya ingin diinjak’ itulah yang kiranya tepat untuk menggambarkan bagaimana sikap perempuan, dewasa ini.

Perempuan hidup dalam dunia yang sangat lekat dengan konsep patriarki selama berabad-abad. Di mana perempuan selalu inferior terhadap laki-laki. Posisi perempuan hanya sebatas pendamping. Sebatas pelengkap. Sebatas perangkat. Mereka tak pernah diposisikan (atau memposisikan) sebagai pemain utama. Kalau ada, itupun sebatas catatan pengembira. Tidak lebih.

Apa yang dilakukan perempuan-perempuan dalam pentas teater monolog ‘Perempuan Menuntut Malam’ mungkin mau menyampaikan sebuah pemaknaan yang berbeda terhadap posisi perempuan. Bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, mereka mencoba menuangkan suatu produk kesenian yang mereka suarakan sebagai sesuatu yang kreatif, kritis, dan indah. Tanggal pementasan yang dipakai pun tidak main-main. Sengaja mereka pilih tanggal 8 Maret 2008 yang memang dirayakan sebagai Hari Perempuan Internasional.

Di atas panggung yang berlatar minimalis, empat babak lakon disuguhkan. Pentas yang naskahnya ditulis oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Faiza Mardzoeki ini terselengara atas kerjasama Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka. Diawali oleh penampilan aktris kawakan Niniek L. Karim yang berperan sebagai seorang ibu rumahtangga yang mengalami kekerasan dalam keluarga lewat suaminya. Sialnya, putrinya yang sudah menikah juga mengalami perlakuan yang sama dari suaminya. Putrinya bersikukuh untuk bertahan dengan sebuah alasan yang mungkin romantis namun tak berlogika: cinta!

Panggung yang luas itu, beberapa buah papan putih besar dijejerkan sebagai latar. Kemudian dari balkon sebuah proyektor menembakkan gambar-gambar yang memperkuat nuansa lakon. Di depan papan-papan itu, Niniek berlagak dengan lembut. Mengisi keheningan dan kegelapan panggung dengan menyuarakan kebisuan. Kebisuan khas perempuan.

Dikisahkan Niniek sebagai Ranti tua yang ‘terjebak’ dalam latar dapur. Di depan matanya, di atas meja panjang, bahan-bahan makanan dan perlatan memasak menungguinya dengan sabar. Menunggu giliran untuk dijamah. Di sudut depan meja, berjarak 3 meter-an, sebuah televisi diletakkan sebagai properti. Kemudian berganti-gantian, gambar latar yang ditembakkan dari proyektor tadi saling mengisi. Ada beberapa video pembaca berita, yang kesemuanya perempuan, dari berbagai saluran televisi yang muncul saling bergantian. Bergantiannya pun cukup unik, karena didasarkan pada kebutuhan menghadirkan ritmis musik. Mirip DJ (Disc Jockey) yang sedang beraksi. Sesekali gambar tadi beralih ke video adegan memasak. Ada video memotong sayuran, mengaduk nasi di kuali, juga api kompor.

Niniek dalam monolognya lebih banyak berisikan keluhan. Menyuarakan suara tertindas perempuan yang selama ini tidak terdengar (atau tidak didengarkan). Namun aktingnya tidak prima. Olah vokalnya kedodoran, gesturnya monoton. Gaya itu mungkin lebih cocok pada medium sinetron atau film yang memang dibantu oleh teknologi. Namun tidak pada seni teater yang mesti memanfaatkan kelebihan olah suara dan penyampaian bahasa tubuh yang komunikatif. Berbeda dengan medium film yang terbingkai dalam kamera yang mampu mencatat ekspresi dengan detil dan akrab.

Musik yang mengawal pada babak ini cukup unik. Suara pisau yang memotong sayuran, serta suara osengan yang beradu dengan badan kuali, disulap oleh Balance Perdana Putra, sang penata musik, menjadi sebuah efek perkusif yang menemani ilustrasi musik.

Pada babak kedua, gantian Rieke Dyah Pitaloka yang bermonolog. Ia memerani Ani. Seseorang politisi perempuan yang sudah berkeluarga. Namun ia kesal karena perlakuan bias dari media dan masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah tentang politik atau hal di seputarnya, melainkan bagaimana keadaan rumahtangganya, mengurus anak, dan sebagainya yang khas infotainment.

Babak ini dibuka dengan amat menarik, dan pastinya membuat para pria ketar-ketir. Bagaimana tidak, Rieke menampilkan adegan mandi di bawah pancuran. Meski hanya sebuah siluet, namun lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Rieke kemudian bergegas menyudahi mandinya untuk mengangkat telepon yang berdering panjang.

Di sini Rieke lebih banyak mengolah satire muatan politik. Ia bicara banyak soal politik. Partai A begini, pejabat B begitu, dan seterusnya. Sayang, pada babak ini, temanya cenderung kabur dan melebar. Perspektif yang diangkat bukan lagi dari kacamata perempuan. Bisa dibilang pada lakon ini, penonton menyaksikan diplomasi khas Butet Kertaradjasa atau sentilan khas Teater Koma yang menyublim dalam diri Rieke.

Babak ketiga sebenarnya sangat menarik, bahkan dilematis. Dilematis antara membenarkan perbuatan seorang pelacur, atau membenarkannya demi alasan tertentu. Justru ke-dilematis-an ini yang menarik. Sayangnya hal ini pun tak digarap dengan baik. Tak terlihat dengan jelas apa tawaran pemikiran yang khas perempuan mengenai masalah ini. Kata-kata jorok yang diucap malah terkesan unjuk gigi penulis naskah dalam mengeksploitasi kata-kata tersebut, dibanding usaha untuk menerjemahkan lakon lewar alur atau karakter yang kuat. Ya, mungkin meniru usaha para penulis perempuan yang sudah-sudah, yang ‘hobi’ berkutat pada kata-kata sensasional semata.

Terlepas dari naskah yang buruk, lakon ini dimainkan dengan amat baik oleh Ria Irawan. Berperan sebagai pelacur jalanan, yang biasa mangkal di bawah lampu pinggir jalan, Ria masuk dengan amat sempurna pada perannya. Kepiawaiannya dalam menghadirkan sosok pelacur jalanan ke tengah-tengah panggung sangat berhasil dengan amat memukau lewat perangai dan olah vokalnya.

Rieke tampil lagi sebagai penutup di babak ke empat. Panggung minim cahaya, dibuat remang dengan sengaja. Tubuh Rieke yang dililit tali sekan ingin mengartikan sebuah simbol akan posisi perempuan yang terbelenggu. Tali-tali yang mencengkram tubuh molek Rieke menjadi simbol patriarki yang mengakar kuat dan karenanya membisukan perempuan.

Dalam ikatannya itu, Rieke meneriakkan slogan-slogan perjuangan khas perempuan. “Kami ingin bebas, kami ingin merdeka!”, begitu kira-kira. Babak ini ditutup dengan kemenangan perempuan. Lilitan tali yang dikoyak Rieke, dan berhasil meloloskan dirinya, dapat mengartikan semangat kemerdekaan bagi perempuan.

Membaca utuh lakon empat babak ini, seakan menyaksikan serangkaian puzzle yang belum jadi. Sebuah lakon yang kehilangan bagian-bagian. Sebuah lakon yang tidak berkerangka jelas dan lengkap. Konsep ‘perempuan menuntut malam’ tidak terjawab dengan jelas. Kalau hanya terinspirasi dari gerakan ‘Reclaim the Night’ yang diorganisir aktivis perempuan di Roma pada tahun 1976, dan melupakan pemaknaan tentang tajuk, naskah ini belum siap dilahirkan. Karena akan terasa prematur. Yang ada, naskah ini hanyalah kloningan dengan naskah-naskah teater yang sudah ada dan akrab dikenal masyarakat sebagai lakon kritik sosial.

Alhasil, penonton dibuai dengan sebuah pertunjukkan teater yang sekadar melawan lupa. Melawan lupa yang berdiam anteng dalam masyarakat, yang sering membuat perempuan seakan alpa. Sehingga pertunjukkan ini pun lupa untuk menyampaikan pesan kebaruan pikiran, kelayakkan seni pertunjukkan, dan kekhasan perempuan yang menyuarakan kebisuannya.

selusuri

Pemasangan iklan majalah Globe Asia edisi Februari di Kompas (11/2) yang memajang pemeringkatan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, diikuti dengan opini keras dari rektor ITS, Priyo Suprobo, yang memajang protesnya pada harian yang sama (15/2).

IKLAN yang mencolok mata itu menampilkan survei mereka tentang 10 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik se-Indonesia. Yang mana majalah tersebut ternyata diterbitkan oleh kelompok perusahaan yang satu atap dengan Universitas Pelita Harapan (UPH).

Menariknya, majalah itu menempatkan UPH sebagai PTS terbaik dengan skor 356, dan UI sebagai PTN terbaik dengan skor 366. Kemudian di kategori PTS disusul oleh Trisakti (263), Tarumanegara (242), dan Atmajaya (243). Sedang pada kategori PTN, berturut-turut di bawah UI adalah UGM (338), ITB (296), dan IPB (283). Atau dengan kata lain, skor 356 pada UPH menempatkannya pada posisi kedua dalam 20 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia mengalahkan UGM, ITB, dan IPB.

Priyo menganggap pemberitaan ini adalah sebuah bentuk penipuan baru terhadap masyarakat. Karena kriteria penilaian yang dipakai Globe Asia menunjukkan kejanggalan akan sebuah rekayasa yang diatur demi memenuhi kebutuhan pemasaran (marketing). Sebagai contoh, bobot penilaian untuk fasilitas kampus sebesar 16 %, mengangkangi penilaian bagi kualitas staf akademik dan kualitas riset yang hanya dibobot 9 % dan 7 %. Padahal dua faktor tadi lebih relevan dengan sebuah institusi pendidikan dibanding hanya dengan mengobral kemewahan fasilitas penunjang.

Konsekuensi logisnya, citra dari PTS dan PTN yang selama ini lebih dikenal secara mutu mendadak jeblok. Sedangkan UPH malah mengeruk laba yang besar lewat rekayasa ini. Sebuah pemutarbalikkan fakta yang rapih, manis, dan terlihat elegan. Namun sayang, kebenaran tak bisa dibelokkan layaknya fakta. Kebenaran akan terus hidup dan menguap ke atas langit pencerahan.

Ruang Publik

Konsep ‘ruang publik’ adalah sebuah konsep yang ranah pemahamannya meliputi hidup berdemokrasi dalam suatu masyarakat kompleks. Konsep ini membantu untuk memberi pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat milik umum, bukan privat.

Publik berasal dari bahasa Latin, ‘publicus’ , yang memiliki dua arti: pertama, milik rakyat sebagai satuan politis atau milik negara; dan kedua, sesuai dengan rakyat sebagai seluruh penduduk atau umum. (F. Budi Hardiman, 2008). Dengan demikian, penyelenggara hidup publik (pemerintah), pelayan publik (pejabat), orang publik (selebritis) dibedakan dengan badan/orang ‘privat’. Ada sebuah dikotomi besar yang berlanjut pada konsekuensi untuk membedakan pengeksekusian pemaknaan terhadap dua kata tersebut.

Dalam masa sekarang, ruang publik tersebut meliputi pemerintah, rumah sakit, polisi, media massa, maupun lembaga pendidikan. Mereka ada dan dituntut keberadaannya untuk menjawab persoalan-persoalan kolektif masyarakat. Intinya, ruang publik berdiri karena adanya sebuah tugas untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat publik.

Berbeda dengan ruang privat yang tidak mempunyai tugas untuk memenuhi kebutuhan publik. Keberlangsungannya hanya untuk wilayah privatnya saja. Dan ia pun tidak dituntut secara publik untuk bertindak demi kepentingan umum.

Universitas adalah sebuah produk jadi dari konsep ruang publik. Dan dengan sendirinya, bila sebuah universitas bertindak demi kepentingannya sendiri, maka ia masuk wilayah privat, dan sekaligus menafikan dirinya sebagai pelaku ruang publik. Pengingkaran inilah yang kemudian menghambat proses berdemokrasi dalam suatu masyarakat yang kompleks. Sekelompok masyarakat yang membutuhkan kebenaran publik demi menuntunnya menuju sebuah kehidupan yang lebih baik.

Kampus Privat

UPH yang menunggangi media massa untuk menciptakan testimoni positif dari masyarakat atas dirinya, menyisakan pertanyaan-pertanyaan kritis, apa media massa masih bekerja untuk kepentingan umum? Apakah media berdiri hanya sebagai komplementer sebuah korporasi untuk mendongkrak laba setinggi-tingginya, dan citra positif sebaik-baiknya? Pada kasus ini tentu saja jawabannya ya. Atau untuk lebih yakin, perlulah kita untuk memeriksa dengan cermat berita mengenai pemeringkatan Perguruan Tinggi ini lewat harian Suara Pembaruan (29/1) yang menulisnya dengan tidak kritis.

Logika ini pun menyeret pada sepotong pertanyaan ironi, apakah universitas (tidak hanya UPH), yang berperan sebagai institusi pendidik masyarakat, masih setia berjalan pada koridor yang diimani? Masih berpihakkah mereka terhadap usaha mencerdakan kehidupan bangsa ketimbang mengepakkan sayap bisnis demi mengeruk keuntungan finansial semata?

Karena apa yang terjadi selama ini, banyak kampus dan juga lembaga pendidikan lainnya, yang hanya disibukkan dengan usaha meningkatkan pemasukan, dibanding meningkatkan mutu pendidikan. Lihat saja institusi pendidikan yang sibuk mengejar target pasarnya dengan mengadakan open house ketimbang merancang suatu produk inovatif yang berbasis pendidikan. Atau kampus yang sibuk mengganti namanya menjadi bahasa Inggris ketimbang sibuk dalam menyusun program agar mahasiswanya mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Bahkan ada kampus yang sibuk memanjakan mahasiswanya dengan berbagai fasilitas yang berorientasi pada gaya hidup (kantin mewah, perpustakaan mewah, penerbitan kartu pintar yang mampu membayar segala jenis keperluan akademik maupun non-akademik) dibanding mendorong mahasiswanya agar sibuk melakukan penelitian.


Atau memang kampus di Indonesia sudah menjadi wilayah privat? Yang kualitas manusia di dalamnya ditentukan oleh selera pemilik modal saat itu. Bukan ditentukan oleh pemenuhan akan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan publik

selusuri
(Karena banyaknya desakan untuk memperjelas fakta dalam berita ini, serta tuduhan bahwa berita ini gosip belaka, dan juga atas nama kebenaran, maka saya lengkapi saja)

Aksi kekerasan terjadi lagi di dalam lingkungan yang mengaku berpendidikan.

Kali ini aksi yang mencoreng dunia pendidikan itu datang dari sebuah kampus elit di Karawaci. Pada Rabu, 21 Februari 2008, seorang dosen Universitas Pelita Harapan bernama Baskoro yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Desain Produk mengawali paginya dengan mengirim bogem mentah ke wajah seorang mahasiswi jurusan musik bernama Len (nama samaran).

Kejadian ini bermula ketika mobil mahasiswi tersebut menyalip mobil dosen yang sedang mengantri untuk masuk ke lokasi parkiran dosen. Sang dosen yang panas langsung turun dari mobil, menghampiri mobil mahasiswi itu, dan memberi tinjunya berkali-kali ke wajah. Sampai satpam melerai, pukulan baru dihentikan. Alhasil, mahasiswi tomboy tersebut mengalami luka dan memar di sekitar wajah.

Kabar terakhir yang didapat, dosen tersebut diminta untuk mengundurkan diri dari UPH.

Satu kejadian memalukan lagi dari lingkungan yang mengaku berpendidikan, juga mengaku elit.

Pasang mata, pasang telinga, catat semuanya!

selusuri