Setidaknya ada 2 kemungkinan setiap seorang musisi muda pulang sedari menonton konser bermutu. Musisi muda itu akan termotivasi untuk berlatih lebih giat. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, ia akan berhenti belajar musik karena merasa ia tak akan mampu sehebat musisi yang ditontonnya.

MENGAMBIL tempat di Teater Kecil, Taman Ismail Jakarta, pada 20 April 2008, sore hari, sekelompok musisi muda dari Jepang mencoba mengurai kemungkinan-kemungkinan di atas dengan jalan kesenian yang mereka tempuh. Dengan dominasi alat tiup, kelompok yang menamai diri Chanchiki Tornade ini menghipnotis penonton yang hadir untuk menemani mereka hinga penampilan usai.

Konser yang bertajuk ‘Chanchiki Tornade from PASAR to PASAR at TIM’ ini adalah salah satu bagian dari rangkaian KITA!! Project yang diadakan oleh The Japan Foundation dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia dengan Jepang.

Tampaknya Jepang bukan lagi sekelompok bangsa yang tertanam di benak kita sebagai penjajah. Lewat musisi muda mereka, misi kesenian yang dihidupkan ini berupaya mengakrabkan diri dengan saling mencicipi produk kesenian masing-masing. Publik Indonesia pun tak kalah ramah. Mereka mebalas dengan merangkai puja-puji atas usaha yang ditekuni Chanchiki Tornade.

Itulah yang tergambar dalam pementasan di gedung pertunjukkan yang belum begitu karib dengan publik seni pertunjukkan, termasuk musik. Walau begitu, di tengah-tengah miskinnya pemerintah untuk mengapresiasi seni, sebagai gedung pertunjukkan, Teater Kecil patutlah dilirik. Bukan saja arsitektur luarnya yang mantap dan futuristik, nuansa interior di dalam ruangan pertunjukkannya pun cukup unik dan segar. Ditambah dengan akustik ruangan yang cukup baik, maka lengkaplah ia sebagai salah satu gedung pertunjukkan bermutu di Jakarta.

***

Di ruang gelap itu, ketika para penonton sudah menduduki bangkunya dengan rapih, beberapa perempuan Jepang, lengkap dengan kimono dan lentera, menyeruak di antara penonton. Mereka menyodorkan sesuatu. Rupanya kertas program acara.

Kemudian, di tengah-tengah riuh rendahnya suara penonton – publik musik Jakarta belum mengerti mengapresiasi seni, dan kebisingan mereka mengganggu – muncul suara-suara dari atas panggung. Lalu, samar-samar, seperti ada suara tambahan yang melagu dari kejauhan. Suara-suara itu bergerak mendekat. Menyusup dari arah belakang penonton yang mengisi celah di kanan dan kiri bangku.

Ternyata suara-suara itu datang dari trompet dan klarinet. Kemudian mereka naik ke panggung, bergabung, membentuk formasi, dan memainkan sepotong karya yang mereka beri judul Romantic Circus Band.

Sambung karya kedua, dan BUM! Mendadak karya yang menggelegar ini membungkam kebisingan yang ada. Komposisi lagu berjudul Super Habotan ini langsung digarap mereka dalam formasi lengkap: 3 saksofon (alto, tenor, sopran), 1 flute, 1 klarinet, 1 trompet, 1 tuba, 1 trombon, 3 perkusi (triangle, snare, tam-tam), dan iringan dari piano.

Lewat pilihan motif-motif yang bervariasi, lagu ini dibawakan dengan amat cepat. Sesekali tenor, alto, dan sopran saksofon saling bersahutan. Membentuk sebuah kalimat yang ekspresif dan eksotis. Kekayaan ini pun diperkaya dengan iringan perkusi yang intensitasnya dijaga konstan.

Karya ketiga mengagetkan kembali. Setelah sebelumnya penonton diserbu musik yang ramai, yang berikut ini justru amat kontras. The Gentle Dessert of Coconut – nama karyanya – amat syahdu, intim. Melodi dibawakan oleh saksofon sopran yang diiringi piano oleh Shunsuke Okuchi.

Memainkan alat tiup memang cenderung mudah. Tapi untuk menghasilkan suara yang berkarakter tidak bisa dianggap sepele. Butuh ketekunan yang luar biasa untuk mencari warna suara yang personal. Suara saksofon dari Hiroshi Suzuki, pimpinan Chanchiki Tornade, setidaknya mempu menghasilkan suara yang khas. Bukan saja khas, tapi di usia yang masih muda, Hiroshi sudah memiliki kematangan. Ia tidak hanya memiliki kem
atangan instrumentasi, tapi juga musikal. Itu dibuktikannya dengan improvisasi yang begitu luar biasa. Kadang ia meringkih, atau melolong panjang lewat instrumen logam yang penciptaannya dikembangkan dari klarinet tersebut.

Belasan lagu yang lain dibawakan para musisi muda Jepang ini dengan amat lancar. Mereka tak lagi berbicara teknik. Tapi menukik ke dalam esensi bermusik dalam sebuah kelompok yang lebih membutuhkan kekompakkan dan kesehatian. Penampilan mereka dalam berbagai formasi – trio, duo, kwartet, lengkap – selalu melahirkan tepuk tangan panjang dan elu-eluan dari penonton.

Walau didominasi oleh nuansa minor harmonik khas timur tengah, namun lewat mereka nada-nada muram ini justru dibahasakan lain. Aransemen yang berupaya mengawinkan musik tradisi dengan modern kontemporer, memperlihatkan semangat orang muda yang mendobrak kemapanan. Mendobrak kekakuan dan kebakuan. Terus mencari, menggali, dan mendandani seni.

Namun, kelompok yang sehari sebelumnya tampil di Jogja (di sini mereka bermain musik di atas becak sambil berkeliling kota) belum berani memasang wajah mereka dengan tegas. Untuk disebut pop, mereka terlalu cerdas. Untuk disebut jazz, itu pun kurang pas. Juga tidak pas untuk sebutan kontemporer, karena mereka masih malu-malu menuju ke arah itu. Tapi entah mengapa, keragu-raguan sikap musik mereka justru menghadirkan kekayaan tersendiri. Karena kita bisa mendengar bunyi-bunyi hasil perkawinan musik tradisi, jazz, dan kontemporer secara bersamaan.

Di lagu-lagu terakhir, tiba-tiba saja mereka turun panggung sambil memainkan instrumen. Lalu mengajak para penonton untuk menuju lobi gedung. Di sana mereka membangun sebuah panggung imaji. Imaji akan sebuah ruang publik yang ramai seperti pasar. Di mana kemapanan untuk sementara ditanggalkan, lalu berganti menjadi ajang saling memberi. Di situ Chanchiki Tornade memberi sentuhan kesenian yang khas buat publik musik Indonesia.

Dan mungkin saja, salah satu sentuhan yang diberikan mereka kepada para penonton, berbicara mengenai kemungkinan pertama, yakni memotivasi musisi muda Indonesia untuk bergiat dalam musik. Sebuah jalan panjang yang tidak mudah untuk dicintai. Karena mencintai berarti berkorban.

selusuri

untuk sahabat yang menangisi peti mati ayahnya


dinding hatimu tergenang air

betulkah kawan?

aku merasakannya

ketika air itu tempias di jiwaku

relungkupun becek kepedihan


cucurannya semakin deras

menyusuri pipimu yang gemuk

tatkala kerinduan menatap sampai di sini


aku hanya menakur

melingkarkan lengan di pinggangmu

berusaha teriak:

aku bertakziah


kuatlah…

aku sudah mentitahkan

rembulan dan sahabatnya

juga sang malam

menemanimu bertawakal

kuatlah…


26 april’04

kamar, petojo


Dimuat di [berita/spekan]_19/III/mei/04 edisi khusus

selusuri

Pernahkah Anda duduk santai di ruangan gelap, bertekun dalam melek atau terbelalak, dan membenamkan diri dalam bunyi hingga kuyup?

LEWAT sebongkah benda hitam mengkilap, yang menyulitkan empat dewasa sekalipun mengangkatnya bersamaan, dan di salah satu bagiannya terdapat papan hitam putih berjumlah 88 buah itulah, kita sekalian, tuan-puan, dapat menjawab dengan bergairah sepotong pertanyaan di atas.

Dengan produksi suara yang kaya, piano selalu menjadi primadona di atas panggung-panggung pertunjukkan. Bukan saja panggung, tapi juga menempati ruang-ruang dingin di rumah-rumah. Entah diperlakukan fungsional sebagai alat musik, atau pun simbol identitas. Namun siapa sangka, instrumen tua ini – masuk Indonesia sekitar 200 tahun lalu lewat penjajahan Belanda – dapat disajikan dengan berbagai wajah. Salah satunya dalam permainan 4 tangan pada satu piano.

Mungkin karena ketangguhan piano lewat luasnya rentang suara, beragamnya dinamika, hingga kestabilan nada menginspirasikan banyak komponis untuk melakukan eksplorasi. Karya 4 tangan adalah karya yang mulai ditekuni W.A. Mozart (1756-1791) sejak kecil. Pelacakan eksistensi repertoar permainan piano 4 tangan ini bertitikmula dari Mozart kecil dengan kakak perempuannya, Maria Anna, yang melakukan resital harpsichord di London (1765). Setelah itu, komponis lain seakan tersihir akan pesona piano yang dimainkan 2 orang, sehingga berlomba-lomba menjajal piano dengan wajah barunya. Salah satunya adalah Franz Schubert.

Pada 12 April 2008, di kawasan Kuningan, Jakarta, sebuah tempat yang biasa digunakan sebagai kegiatan kesenian, yakni Erasmus Huis, boleh jadi ingin menjawab sepotong pertanyaan menggoda di kepala tulisan tadi. Dengan tajuk Piano Duo, pasangan pianis dari Belanda, Wyneke Jordans dan Leo van Doeselaar tahu benar bagaimana menjamu penonton dengan permainan piano 4 tangan. Bukan saja tahu menjamu, tapi mereka mengimani dengan pasti jalan kesenian yang mereka tempuh lewat ketekunannya mengolah detil-detil nada. Tak ayal, penonton yang hampir membuat sesak gedung konser ini datang dengan tidak percuma.

Diguyur pertama kali oleh serbuan bunyi dari karya J.S. Bach (1685-1750) berjudul Toccata en Fuga in d BWV 565 yang sudah akrab di telinga. Pasalnya karya Barok berstruktur polifonik ini sering dipakai untuk ilustrasi film (misalnya, The Phantom of the Opera), musik rock, bahkan video games. Dengan mantap, duo yang sudah bersama sejak lebih dari 20 tahun yang lalu ini, menerjemahkan Bach dengan gaya yang agak lain. Karya Barok yang cenderung menihilkan keluasan dinamika, justru dibawakan dengan dinamika yang beragam. Dari piano hingga fortissimo.

Adalah Rondo in A, op. 107, D.951 karya Franz Schubert (1797-1828) yang dijadikan nomor berikut yang membuat teduh pendengarnya. Dengan keintiman, Jordans dan Doeselaar seakan sedang saling bercerita tentang sebuah narasi kehidupan yang syahdu. Kadang Doeselaar yang bercerita, Jordans mendengarkan. Begitu sebaliknya. Dan penonton terlena, terbuai dalam dunia melankolik, sampai gemuruh tepuk tangan menyadarkan.

Tidak seperti dua komposer sebelumnya yang sudah dikenal baik oleh publik musik klasik, dua karya berikutnya datang dari dua nama yang jarang terdengar, yakni Julius Rontgen (1855-1932) dan Robert Nasveld (1955). Bahkan karya Nasveld yang berjudul Traumblatter baru pertama kali diperdengarkan pada publik. Dengan arah tonalitas yang kabur, serta bunyi-bunyi yang jauh dari konsep harmoni konservatif, karya ini mempertontonkan keindahannya dengan teknik yang sulit. Bahkan, pada teknik itu pula keindahan itu dihadirkan. Memperlihatkan pada penonton, bahwa teknik mampu menjadi mandiri lewat keindahannya, bukan melulu sarana menuju keindahan.

Babak kedua disajikan secara lebih menarik dan menghibur setelah sebelumnya babak pertama ditutup dengan 3 Legenden-nya Antonin Dvorak (1841-1904). Karya-karya untuk tarian dari Maurice Ravel (1875-1937), L’Enfant et les Sortileges dan William Walton (1902-1983) bernama Façade, memang amat pas ditaruh pada babak kedua. Setelah sebelumnya dijamu dengan karya-karya yang serius, kedua karya yang bernuansa riang ini memang menyegarkan. Maka tak heran, di babak kedua ini – khususnya pada kedua lagu ini – suasana lebih cair dan hangat. Penonton pun tak sungkan-sungkan memasang senyum sebelum, ketika, serta sesudah karya dibawakan.

Hingga pada Rhapsody in Blue yang sedikit jazzy milik George Gershwin (1898-1937), kita sekalian, tuan-puan, menjadi mahfum. Bahwa keuletan mereka berdua, Jordans dan Doeselaar, berhasil membuat penonton enggan beranjak dan memilih setia untuk dimandikan bunyi yang dihasilkan 20 jari. Bahkan terkesan ketagihan dengan meminta encore sampai dua kali. Dan dengan tulusnya, duo piano suami istri ini membayarnya dengan dua karya pendek milik Igor Stravinski (1882-1971) yang jenaka.


Dimuat di Sinar Harapan, 19 April 2008

Dokumentasi foto oleh Michael Budiman Muliadi
selusuri

BANYAK hal menggiurkan di dunia ini. Kita dihadapkan pada begitu banyak tawaran yang amat menjanjikan. Namun, kebanyakan dari tawaran tersebut tak jarang membuat kita tersesat dan membuat kita merasa bodoh.

Salah satu hal sesat itu adalah tawaran mendapatkan uang secara cepat dan mudah. Budaya instan sudah menjangkit pikiran manusia modern abad ini. Tanpa mau bersusah payah, tapi mengharapkan hasil yang besar. Kebahagiaan itu dibeli dengan keringat!

Belakangan ini, saya pun diserang penyakit serupa di atas: instan! Saya disetir oleh keinginan sesaat yang sesat, yakni bisnis via internet. Mulai dari iklan berbayar yang dipasang di blog, sampai ketololan untuk mendapatkan uang dengan cara mengklik iklan. Yang pertama mungkin cukup oke untuk memotivasi saya untuk terus menerus menulis, demi mencapai lalulintas yang sibuk pada blog saya, dan tentunya menghasilkan pemasang iklan. Tapi saya kira tidak pada yang kedua.

Ada-ada saja cara para manusia instan mencari uang. Hanya dengan mengklik iklan, minimal 2 jam sehari, kita akan mendapat uang sekitar 600 ribu per bulan. Atau dengan mengisi survei, setiap darinya kita diganjar dengan sejumlah uang. Atau melakukan usaha pertemanan mirip Friendster, bedanya ini pertemanan yang tidak tulus, itupun diganjar sejumlah uang. Intinya, ada usaha yang dilakukan hanya berujung pada uang. Pada egoisitas pribadi. Sehingga menihilkan kesempatan untuk mengembangkan diri, menggunakan talenta dengan akal dan hati.

Sering kali, dunia kita dipenuhi dengan manusia-manusia pekerja. Mereka bekerja gila-gilaan demi mempertahankan hidup. Dan uang menjadi ‘tuhan’ demi melangsungkan harapan. Tak heran bila paradigma orang muda (juga orangtua) yang mengatakan bersekolah untuk mencari kerja, belajar demi mendapat uang. Padahal bukan begitu. Sekolah adalah tempat untuk belajar bersosialisasi, belajar mengembangkan diri, belajar ilmu pengetahuan, dan melatih nalar demi persiapan menghadapi realita dunia yang tidak selalu bersahabat. Intinya dengan ketekunan kita dalam belajar, dengan sendirinya kita diimbali dengan tawaran pekerjaan yang baik. Hal ini kemudian berlanjut pada pendapatan uang yang baik pula, kualitas hidup yang nyaman pula, keluarga yang harmonis pula, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bila paradigma manusia sekarang berhenti hanya pada usaha mempertahankan hidup (dengan hanya mencari uang), berarti apa bedanya dengan hewan yang melakukan hal serupa? Hewan pun juga bertekun dengan pekerjaannya. Tapi apa yang ada di kepala mereka adalah hanya untuk bertahan hidup. Segala apa yang mereka lakukan dengan giat adalah usaha agar tidak punah. Kita, manusia, bekerja bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk mengembangkan diri sendiri, orang lain, dan dunia untuk mencari bentuk kehidupan yang jauh lebih baik.

Jutaan semut, layaknya pebisnis, juga tekun bekerja mengangkat makanan ke sarang mereka tiap hari. Soal pengetahuan, seekor anjing juga tahu mana makanan yang bisa mereka makan, dan mana yang tidak. Intinya, binatang hanya belajar hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya. (Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri)

Lebih lanjut, menurut Jujun, manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Manusia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya, semuanya itu ingin menunjukkan bahwa pada hakikatnya manusia mempunyai tujuan hidup yang lebih tinggi dari sekedar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dan itulah yang membuat manusia menjadi khas.

Kembali ke usaha mencari uang via internet. Ada seseorang teman yang mengatakan bahwa dengan berbisnis ini, kita menjadi berkarya. Baik dengan membagi ilmu seputar bisnis, dan bersama-sama menjadi sukses dalam bisnis. Intinya, ia menolak pikiran saya mengenai motivasi hidup yang saya anggap keliru ini. Memang, dengan membagi informasi itu juga berkarya. Tapi kembali ke analogi hewan tadi. Bukankah ini hanya sekedar usaha bertahan hidup? Tidak lebih. Karena tidak ada yang berkembang karena itu selain pertambahan uang. Pribadi tetap miskin. Karakter tetap tak terlatih.

Bersandar dari pemikiran macam inilah, saya hentikan semua usaha tolol saya dalam mencari uang secara instan yang dengan sendirinya menafikan diri dari hakikat sebagai manusia. Saya rasa (juga pikir) uang bukanlah tujuan. Tetap hidup bukanlah tujuan. Namun dengan bertekun dengan karya kita, terhadap pekerjaan kita, dengan memaknai hidup dengan sungguh, dan berusaha mengembangkan diri dan dunia, kita layak mendapat bonus berupa uang dan kehidupan yang nyaman.

“Yah..saatnya kembali pada latihan gitar dan saksofon, mengajar, dan menulis…”, gumamku seseorang di dalamku yang bukan aku.

selusuri

sebutir nasi dalam makan siangku

memakiku ganas

aku tak terkejut

ini yang kelima dalam selasa ini

:menanyakan nasibnya

aku jadi sebal dibuatnya

bukan lantaran makiannya,

tapi provokasinya terhadap penghuni piring

tongkol, tahu, dan labusiam ikut-ikutan memaki

bahkan kuah kari berlagak pandai di depan hidungku


“makilah aku, dan kalian mati”,

aku tak mau kalah

“kukunyah dan kuhancurkan kalian

dengan gigigigiku yang terkenal bengis

kulelap ke dalam kerongkongan

dan kupenjara dalam perutku yang rakus berhari-hari”,

sambungku mengumpat

“gelaplah kalian, matilah tarian!”


sebutir nasi tetap memaki

dibarengi orkestra lauk pauk dengan tatapan sinis

mereka makin keras teriak

setelah garpu di tangan kiriku jatuh ke kolong meja

dan tak bisa diambil

sendok menjadi pengecut setelah sendiri

ia tersenyum menatap makian

aku dipojokkan

aku diadili


sebutir nasi yang terpulen berhardik keras

kali ini,

“keluarkan pernyataan terhadap nasib kami!”

susul tahu tak mau ketinggalan:

“ya! setelah kami hilang ditelan waktu,

kehidupan yang baru harus bernyanyi dengan merdeka!”

seisi penghuni piring makin riuh

mereka membikin tarian ombak di lautan ricuh

mengacung-acungkan kepal ke mukaku


jurus diplomatis kuperaga,

“kita lihat besok apa yang kukeluarkan,

di jamban”


seisi piring senyap

sebutir nasi bersembunyi di bawah labusiam

dimakan angin mereka


4 april’07 yang baru

kos raflesia, karawaci

selusuri

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membuat banyak kemungkinan bidang lain, bahkan baru, untuk dikembangkan secara lebih serius dan akademis. Hampir segalanya yang dulu tak mungkin, sekarang menjadi mungkin. Karena manusia punya dasar sebagai pemimpi. Manusia bermimpi untuk bisa terbang, karena itu pesawat diciptakan. Manusia berharap dunia menjadi lebih mudah, karena itu lahir listrik, mobil, lampu, hingga sekarang era internet menjadi umum bagi kehidupan modern.

Kemajuan itu ternyata sangat berpengaruh terhadap banyak disiplin ilmu. Satu disiplin ilmu, kini menjadi bercabang banyak. Bahkan banyak hal yang kini dapat dipelajari secara akademis di tingkat pendidikan tinggi. Ilmu kedokteran saja sudah bercabang berpuluh-puluh. Filsafat dan teknik pun demikian. Namun ada satu cabang yang amat baru berada di Indonesia. Nama disiplin ilmu itu adalah Tekno Biologi (nama pouler: Biotech).

Mari kita simak wawancara berikut untuk mengetahui secara singkat dan dasar apa itu Biotech. Wawancara dilakukan pada tanggal 4 Maret 2007 di Kemakmuran, Jakarta Pusat kepada seorang mahasiswi semester IV jurusan Biotech Unika Atma Jaya, Jakarta, bernama Eveline Ayu.

Tanya (T) : Kenapa kamu ambil jurusan ini?

Eveline (E) : Waktu itu saya melihat buku Biologi di SMU. Di buku itu menyebutkan ada satu terminologi bernama Biotech. Saya baca-baca, kok ternyata sangat mengasikkan ya. Lalu saya mulai cari tahu banyak tentang ilmu ini. Ternyata lebih banyak kerja di laboratorium. Saya senang bekerja di lab sejak SMU. Dari teori yang dapat dari percobaan dan pengamatan di lab, saya bisa mengaplikasikan ke banyak hal. Pada dasarnya, saya suka dengan kehidupan lebih dalam mengenai makhluk hidup, khususnya yang berbau tumbuhan. Tapi terus terang saja, waktu itu saya nekat ambil jurusan ini.

T : Apa sebelum masuk jurusan ini, kamu melihat peluang kerja yang tersedia? Seperti prospek, misalnya?

E : Gak tau! Waktu itu saya hanya tahu begitu-begitu saja. Nah, kebetulan ada pameran pendidikan tiap tahunnya di sekolah saya dulu. Saya tahu dari situ saja. Saya gali berbagai informasi dari sana, termasuk prospek ke depannya. Tahu dari pameran pendidikan saja. Di Indonesia belum berkembang, ini sesuatu yg baru, justru lowongan kerja lebih potensial untuk digarap. Karena pesaingnya sedikit sekali. Biotech berhubungan erat sekali ke ilmu farmasi, kedokteran, atau teknik.

T : Universitas di Indonesia yang memiliki jurusan ini di mana saja?

E : Setahu saya cuma Atma Jaya (berdiri tahun 2002). Ada di IPB (Institut Pertanian Bogor) tapi dalam Fakultas Biologi, dan Biotech ada dalam jurusan itu. Beda dengan Atma yang memiliki fakultas tersendiri.

T : Mulai kapan istilah ini dipakai? Siapa yang menemukan?

E : Secara pastinya sih gak tahu. Tapi secara garis besar, ilmu ini sudah dikenal sejak lama dan dibagi dalam 4 zaman (walau istilah ini belum dipakai). Tuak adalah salah satu ilmu terapan Biotech. Orang zaman dulu sudah tahu cara pembuatan tuak. Begitu juga wine. Tapi secara pasti dipopulerkannya, saya kurang tahu. Mungkin sejak DNA ditemukan.

T : Apa saja yg dipelajarin dijurusan ini, karena agak rancu dengan ilmu kedokteran dan biologi?

E : Dalam kedokteran, misalnya belajar tentang cara kerja paru-paru atau lambung, hanya dibahas secara kulit luarnya saja, tidak mendalam. Dalam Biotech, semua dipelajari lebih mendalam. Istilahnya dipretelin sampai ke sel-sel. Bagaimana sel dalam kulit bekerja. Intinya kita mempelajari cara suatu sel membuat keputusan dalam tingkat mikroorganisme. Contohnya, bagaimana cara kerja otak sebuah bakteri dalam mengambil keputusan.

Dalam biologi, hal ini hanya dipelajari secara garis besar. Seperti namanya Biologi, Bio artinya kehidupan. Jadi hanya membahas bagaimana kehidupan sebuah makhluk. Dengan menambah teknologi di belakangnya, berarti kita mempelajari teknologi yang terkait kehidupan itu. Bagaimana ia hidup, bertumbuh, cara kerja otak, dan lain-lain yang lebih detil.

T : Negara mana yang menjadi acuan ilmu Biotech?

E : Sepertinya Thailand, karena banyak program pertukaran pelajar dari negara itu. Negara-nagara lain saya kurang tahu.

T : Lapangan pekerjaan seperti apa yang tersedia di bidang ini? Lalu lembaga apa yang identik dengan ilmu Biotech?

E : Bidang-bidang seperti farmasi, lingkungan (mengelola limbah), atau tanaman. Perusahaan-perusahaan seperti Boga Sari, Kalbe Farma, dan Nutri Food cukup dikenal di Indonesia sebagai lapangan pekerjaan ilmu Biotech. Lembaga seperti LIPI juga punya penelitian mengenai ilmu ini.

T : Peralatan wajib yang dibutuhkan apa saja?

E : Semua peralatan ada di lab. Alat-alat mikroskop dan tabung reaksi adalah yang paling wajib. Ada juga alat bernama PCR. Kabarnya di Indonesia sangat sedikit yang punya alat ini. Alat ini sangat mahal dan berfungsi untuk melakukan penelitian terhadap DNA. Atma ada kok. Alat lain adalah Auto Clef untuk sterilisasi alat-alat.

T : Buku teks dari mana yang paling banyak menerbitkan soal Biotech?

E : Amerika saya rasa masih menguasai dunia untuk bidang ini.

T : Apa di Indonesia kita punya tokoh ahli soal Biotech?

E : Ada, namanya Prof. Medi Suharsono, dosen di UPH. Dan satu lagi, Prof. Winarno.

Demikianlah wawancara singkat mengenai pendidikan ilmu Biotech di Indonesia. Wawancara ini bertujuan untuk mengenal pendidikan Biotech secara dasar yang masih amat baru berkembang di Indonesia. Melalui hasil wawancara dapat disimpulkan bagaimana pendidikan Biotech di Indonesia sedang dalam pekembangan. Banyak sekali lapangan pekerjaan yang tersedia bila para peserta akademik dapat melihat keterbukaan ini dengan lebih jeli. Kiranya kalau pemerintah dapat melihat potensi ilmu ini untuk dikembangkan, dapat dibayangkan berapa banyak lagi lapangan pekerjaan yang terbuka di Indonesia untuk mengatasi masalah pengangguran. Selain itu, citra Indonesia di mata dunia sebagai salah satu negara yang serius membina pendidikan ilmu ini, dapat menjadikan Indonesia lebih mudah berekspansi dalam banyak bidang.

Biotech bukan lagi menjadi ilmu pendidikan non-populer di kalangan mahasiswa Indonesia. Biotech menjadi primadona baru di pendidikan tinggi di Indonesia. Meninggalkan ilmu kedokteran dan biologi yang lebih sedikit peminatnya. Ada satu keyakinan yang mendasar, bahwa nantinya ilmu Biotech di negara kita dapat lebih berkembang dan dapat diaplikasikan dalam banyak bidang atau disiplin ilmu yang lain.

selusuri