Setidaknya ada 2 kemungkinan setiap seorang musisi muda pulang sedari menonton konser bermutu. Musisi muda itu akan termotivasi untuk berlatih lebih giat. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, ia akan berhenti belajar musik karena merasa ia tak akan mampu sehebat musisi yang ditontonnya.
MENGAMBIL tempat di Teater Kecil, Taman Ismail Jakarta, pada 20 April 2008, sore hari, sekelompok musisi muda dari Jepang mencoba mengurai kemungkinan-kemungkinan di atas dengan jalan kesenian yang mereka tempuh. Dengan dominasi alat tiup, kelompok yang menamai diri Chanchiki Tornade ini menghipnotis penonton yang hadir untuk menemani mereka hinga penampilan usai.
Konser yang bertajuk ‘Chanchiki Tornade from PASAR to PASAR at TIM’ ini adalah salah satu bagian dari rangkaian KITA!! Project yang diadakan oleh The Japan Foundation dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan persahabatan
Tampaknya Jepang bukan lagi sekelompok bangsa yang tertanam di benak kita sebagai penjajah. Lewat musisi muda mereka, misi kesenian yang dihidupkan ini berupaya mengakrabkan diri dengan saling mencicipi produk kesenian masing-masing. Publik
Itulah yang tergambar dalam pementasan di gedung pertunjukkan yang belum begitu karib dengan publik seni pertunjukkan, termasuk musik. Walau begitu, di tengah-tengah miskinnya pemerintah untuk mengapresiasi seni, sebagai gedung pertunjukkan, Teater Kecil patutlah dilirik. Bukan saja arsitektur luarnya yang mantap dan futuristik, nuansa interior di dalam ruangan pertunjukkannya pun cukup unik dan segar. Ditambah dengan akustik ruangan yang cukup baik, maka lengkaplah ia sebagai salah satu gedung pertunjukkan bermutu di
***
Di ruang gelap itu, ketika para penonton sudah menduduki bangkunya dengan rapih, beberapa perempuan Jepang, lengkap dengan kimono dan lentera, menyeruak di antara penonton. Mereka menyodorkan sesuatu. Rupanya kertas program acara.
Kemudian, di tengah-tengah riuh rendahnya suara penonton – publik musik
Ternyata suara-suara itu datang dari trompet dan klarinet. Kemudian mereka naik ke panggung, bergabung, membentuk formasi, dan memainkan sepotong karya yang mereka beri judul Romantic Circus Band.
Sambung karya kedua, dan BUM! Mendadak karya yang menggelegar ini membungkam kebisingan yang ada. Komposisi lagu berjudul Super Habotan ini langsung digarap mereka dalam formasi lengkap: 3 saksofon (alto, tenor, sopran), 1 flute, 1 klarinet, 1 trompet, 1 tuba, 1 trombon, 3 perkusi (triangle, snare, tam-tam), dan iringan dari piano.
Lewat pilihan motif-motif yang bervariasi, lagu ini dibawakan dengan amat cepat. Sesekali tenor, alto, dan sopran saksofon saling bersahutan. Membentuk sebuah kalimat yang ekspresif dan eksotis. Kekayaan ini pun diperkaya dengan iringan perkusi yang intensitasnya dijaga konstan.
Karya ketiga mengagetkan kembali. Setelah sebelumnya penonton diserbu musik yang ramai, yang berikut ini justru amat kontras. The Gentle Dessert of Coconut – nama karyanya – amat syahdu, intim. Melodi dibawakan oleh saksofon sopran yang diiringi piano oleh Shunsuke Okuchi.
Memainkan alat tiup memang cenderung mudah. Tapi untuk menghasilkan suara yang berkarakter tidak bisa dianggap sepele. Butuh ketekunan yang luar biasa untuk mencari warna suara yang personal. Suara saksofon dari Hiroshi Suzuki, pimpinan Chanchiki Tornade, setidaknya mempu menghasilkan suara yang khas. Bukan saja khas, tapi di usia yang masih muda, Hiroshi sudah memiliki kematangan. Ia tidak hanya memiliki kematangan instrumentasi, tapi juga musikal. Itu dibuktikannya dengan improvisasi yang begitu luar biasa. Kadang ia meringkih, atau melolong panjang lewat instrumen logam yang penciptaannya dikembangkan dari klarinet tersebut.
Belasan lagu yang lain dibawakan para musisi muda Jepang ini dengan amat lancar. Mereka tak lagi berbicara teknik. Tapi menukik ke dalam esensi bermusik dalam sebuah kelompok yang lebih membutuhkan kekompakkan dan kesehatian. Penampilan mereka dalam berbagai formasi – trio, duo, kwartet, lengkap – selalu melahirkan tepuk tangan panjang dan elu-eluan dari penonton.
Walau didominasi oleh nuansa minor harmonik khas timur tengah, namun lewat mereka nada-nada muram ini justru dibahasakan lain. Aransemen yang berupaya mengawinkan musik tradisi dengan modern kontemporer, memperlihatkan semangat orang muda yang mendobrak kemapanan. Mendobrak kekakuan dan kebakuan. Terus mencari, menggali, dan mendandani seni.
Namun, kelompok yang sehari sebelumnya tampil di Jogja (di sini mereka bermain musik di atas becak sambil berkeliling
Di lagu-lagu terakhir, tiba-tiba saja mereka turun panggung sambil memainkan instrumen. Lalu mengajak para penonton untuk menuju lobi gedung. Di
Dan mungkin saja, salah satu sentuhan yang diberikan mereka kepada para penonton, berbicara mengenai kemungkinan pertama, yakni memotivasi musisi muda



