Bukan saja dilarang sakit, tapi juga dilarang merengek. Camkan!

SEMOGA provokasi kalimat di atas membawa Anda pada baris ini. Bukan mengada-ngada atau sekedar mencari sensasi bila kalimat di atas menggelitik atau bahkan menjengkelkan Anda. Pasalnya, inilah yang terjadi di negeri kita tersayang Indonesia. Ketika orang miskin bukan saja dilarang sekolah, dilarang pandai, dilarang sukses, tapi juga dilarang sakit – mungkin suatu saat dilarang kentut!

Kegusaran ini mampir di benak saya ketika berobat ke rumah sakit beberapa hari lalu. Minggu lalu, tenggorokan saya sakit sekali – setelah sebelumnya ada sariawan yang berbaring asik di bawah pangkal lidah – silahkan bayangkan menderitanya saya ketika menyeruput kuah soto tongkar pedas. Karena tak kunjung sembuh walau sudah diobati sendiri – bagaimana mau sembuh kalau tiap malam kripik pisang dan kripik lainnya menjadi teman ketika menyaksikan pertandingan Euro – akhirnya dengan alasan demi masa depan tenggorokkan, saya hampiri rumah sakit khusus THT tak jauh dari rumah. Namanya RS THT Prof. Nizar.

Tak butuh waktu lama untuk mengantri. Tak lama setelah mendaftar, nama saya diteriaki, “Tuan Roy Thaniago…”, lumayan disapa Tuan sesekali, ledek saya dalam hati. Dokternya perempuan berjilbab. Cukup muda. Dari wajahnya saya tafsir angka di bawah 40 untuk usianya. Orangnya ramah. Namanya singkat: Zuniar.

Setelah menanyakan apa masalahnya, saya didudukkan pada sebuah kursi periksa yang mirip kursi dokter gigi. “Oh…hanya radang”, seru si dokter. Setelah izin untuk mengolesi sariawan saya dengan sebuah obat, pemeriksaan selesai. Dituliskannya beberapa resep untuk menebus obat. Saya jadi tahu mengapa dia meminta ‘restu’ ketika ingin mengoleskan obat pada sariawan saya: perih parah baged gila itu obat!!!

Di loket pembayaran, saya cukup kaget ketika melihat biayanya: Rp. 155.ooo. Tertulis tanpa dosa dalam perincian: Adm. Rumah Sakit Rp 30.000 + Konsultasi Rp. 125.000. Mencoba memaklumi dalam hati, “yah..wajarlah biaya itu di jaman sekarang. Tinggal ngambil obat nih…”.

Setelah memberi salinan resep di loket pengambilan obat, tak lama saya dipanggil. Sang petugas berujar, – yang kemudian membuat ledakan sepi di dalam diri saya – “Jadi dua ratus delapan belas ribu dua ratus empat puluh”. ASTAGA! BUSET! ALAMAK! GAWAT! PARAH! MONYET! SIALAN! Dan seterusnya, dan seterusnya – bahaya kalau diteruskan umpatan itu.

Obat yang berisi 3 macam obat, yang tiap jenisnya berjumlah 10 biji itu, dihargai dua ratus ribu lebih! Ternyata biaya 155.oo tadi tidak beserta obat. Sepanjang jalan menuju parkiran motor sampai di rumah – bahkan sampai di kamar, sampai minum obat, sampai berak dan kencing, sampai tidur dan bangun lagi, sampai detik ini – saya terus berpikir tentang nominal tadi. Pantas saja orang miskin enggan berobat. Jumlah tadi terlalu besar. Bukan bagi mereka saja, tapi bagi saya sendiri. Honor mengajar dan menulis bisa ludes kalau sering begini.

Sangat amat disesalkan ketika sebuah lembaga publik yang harusnya melayani masyarakat, malah membebani. Motif komersilnya malah memeras dan menimbun jengkel pada masyarakat. Apakah sebenarnya tujuan rumah sakit, sekolah, pengadilan, dan lain-lain? Bukan melayani masyarakat? Bukankah mengobati orang sakit, mendidik orang bodoh, dan menegakkan kebenaran? Kalau tujuan seperti ini yang melandasi, tentunya motif komersil tidaklah diperlukan. Kalau memang mau mengeruk laba sebesar-besarnya, dirikanlah perusahaan bangsat, jadilah makelar, bangunlah rumah bordil, rayakanlah perjudian!

Ketika saya merengek pada nyokap soal biaya, dia malah melarang, dan berujar, “yah emang segitu!”. Berarti, orang miskin pun dilarang merengek, terlebih protes. Atau nanti ada yang menyahut, “Siapa suruh miskin!”.

Sementara itu, saya baru saja membaca di halaman depan KOMPAS edisi 27 Juni ketika menunggu pengambilan obat. Pada judul ‘Cendikiawan Berkomitmen’ yang ditulis ST Sularto itu, tertulis di sana, “Cendikiawan harus memihak kelas atau kelompok tertentu. Justru kalau kaum intelektual terbenam dalam menara gading dengan moralitasnya dan abai memberikan sumbangan untuk masyarakatnya, mereka adalah intelektual yang tak bermoral.”

Masihkah ada dokter (baca: cendikiawan) yang bermoral di negeri ini? Pasti ada! Walau sejumput…

selusuri


Aku menemukan foto di atas ketika sedang iseng mengaduk-aduk isi bilik foto di komputer jinjingku. Aku berhenti lama pada foto ini. Memaksaku untuk diam, menatap, meneliti isi matanya. Sedang apa kamu di sana, Rizki?

KUTEMUKAN bocah dekil yang periang ini di Aceh. Hanya dua suku kata namanya, Riz-ki. Ia memanggilku Om – yah, aku tak suka dengan panggilan ini. Bocah ini begitu supel dan tidak malu-malu terhadap orang asing. Lewat sikapnya itu ia seperti ingin berkata, mau bersahabat denganku?

Rizki kukenal ketika aku menjadi relawan Obor Berkat Indonesia (OBI) (sebenarnya malu juga dibilang relawan, karena tidak berbuat apa-apa di sana). Sejak Tsunami terjadi, di tahun 2004 aku sudah berniat menjadi relawan, tapi batal karena orangtua tidak mengizinkan. Setahun pasca tsunami, ketika ada penawaran untuk menjadi relawan, tanpa pikir panjang, aku mau. Lagi-lagi orangtua melarang. Tapi larangan mereka kali kedua tak cukup kuat membendung tekadku.

15 Desember 2005 aku bertolak ke Aceh. Setelah terbang ke Medan dari Jakarta, kami – berlima – melanjutkan penerbangan dengan pesawat kecil ke Meulaboh esok paginya. Aku tak tahu persis jenis apa pesawat itu. Hanya tertulis ‘VH-SPG’ di badan pesawat. Dan karena tulisan Mission Aviation Fellowship, tahulah aku itu nama institusi pemilik pesawat ini.

Mungkin kamu bertanya tentang kata ‘berlima’ yang kutulis di paragraf atas. Ya, ada aku yang mengajak Willi Souw. Aldi teman kampusku mengajak temannya pula, Ian namanya. Lalu keikutsertaan Yoan, mahasiswi beda jurusan di kampusku yang asli Aceh menggenapkan keberlimaan kami.

Singkat kisah, dari bandara kecil di Meulaboh yang sudah rusak – tempat di mana kami mendarat dengan jantung kempas-kempis – kami meneruskan perjalanan darat ke Rigaih dengan menggunakan mobil yang memakan waktu kurang lebih lima jam. Yoan tidak ikut, tapi tinggal di Meulaboh untuk membantu posko kesehatan di sana. Sepanjang jalan rusak yang dilewati, pemandangan rumah hancur dan alam yang merintih menghiasi jendela kaca mobil. Aku nyaris menjerit – tentunya dalam hati – ketika melihat sebuah lokasi bekas penjara yang sudah memuing. Sang sipir tewas karena berusaha membukakan jeruji penjara bagi para narapidana ketika tsunami terjadi, tutur Berber, jenderal di Posko OBI di Rigaih yang menyupir.

Sampailah kami di Rigaih ketika langit hampir ditutupi gelap. Para relawan di Posko menyambut dengan hangat. Tak ketinggalan sambutan dari Bongkar, anjing peliharaan para relawan. Di sinilah aku bertemu Rizki. Sesosok bocah yang bagiku amat menarik, juga amat karib dalam bayangku. Ia agak lain dari anak seusianya yang memilih mengintip kami yang asing dari balik tenda-tenda pengungsian. Rizki menyapa, bahkan membantu mengangkat tas kami.

Ketika kaki sang waktu berjalan, ketika itu pula pertemananku dengan Rizki dibangun. Aku ingat ketika di suatu pagi Ia dan beberapa temannya – Dirman dan aku lupa sisanya – mengajakku pergi ke rawa-rawa yang lokasinya berada di belakang posko kami. Ia mengajariku memancing udang dengan kail yang Ia bikin sendiri dari lidi. Gerakan Rizki perlahan, dan hap!, satu udang tertangkap dengan cara mengaitkan benang di ujung lidi ke mata udang. Ia dan teman-temannya menertawakanku ketika berulang kali aku gagal mendapatkan udang. Tawanya juga menderai ketika beberapa kali aku terperosok dalam rawa-rawa. Aku ceritakan ‘petualanganku’ dengan anak-anak Aceh ini kepada para relawan. Mereka cuma berkata kecil, itu lokasi kuburan massal loh.

Tiap sore turun, sepulang aku dari berpergian mengitari Rigaih, Rizki selalu ada dan menungguku di posko. Ia paling senang bila disuruh membelikan sesuatu, entah rokok atau minuman, di warung – dan aku tidak suka Ia disuruh-suruh. Ia juga senang duduk manis di sampingku ketika aku mainkan gitar. Kadang Ia dan teman-temannya meminta lagu dan ikut bernyanyi.

Pernah ketika sedang santai kutanyai Rizki tentang cita-citanya. Ia menjawab sederhana – yang bagiku amat menyakitkan – ingin seperti Bapak, jadi tukang batu. Aku siram semangat padanya. Kuhujani kalimat, cita-citamu harus tinggi…minimal jadi presiden. Rizki cuma tersipu, mesem-mesem, sesekali menyedot ingusnya yang hampir jatuh.

Suatu ketika aku dan Willi dipindahkan ke posko Blang Dalam, sekitar 1½ jam dari Rigaih bila ditempuh dengan mobil. Di Blang Dalam sepi dan kering. Tak ada anak-anak sekitar yang mampir ke posko – emm, maksudku, tak ada anak seperti Rizki. Kawanku, selain para relawan, ‘hanya’ laut dan pasir di tepian Samudera Hindia. Sesekali, kalau beruntung, langit merah oranye juga ungu menjadi teman di kala bola api pulang ke peraduan.

Sekembalinya aku ke Rigaih, Aldi berkata kalau Rizki sering menanyakanku. Tak lama aku dan Rizki mencengkram hari bersama, karena sudah 9 hari aku di Aceh, aku harus pulang. Tak ada air mata ketika kepulanganku. Aku hanya mengusap rambutnya yang apek sambil bersabda, rajin belajar, ya. Rizki tersenyum. Ia tidak pernah paham pada sebuah harap yang kubebankan pada dirinya.

Tsunami bukan saja menghempaskan desa, sekolah, teman-teman, dan keluarga Rizki dan anak-anak Aceh lainnya. Tapi Tsunami juga menidurkan asa mereka untuk menjelajahi mimpi. Dalam Rizki – maksudku dalam matanya – aku menemukan sebuah dunia yang kudamba, di mana pelacur dan pendeta berpesta, perampok dan dokter menari, heyna dan rusa minum di telaga yang sama. Lingkungan dan kehidupan boleh dirampas dengan seketika dan semena-mena, tapi jangan harap kedamaian kecil (di mata Rizki) dapat ikut tercabut.

Beratus kilometer dari sana, aku, di Jakarta, mengirimkan tanya, yang mungkin terdengar melankolik, sedang apa kamu, Rizki? Ah…aku tak yakin suaraku mampu bersaing dengan suara alat-alat berat yang bergeliat di tanah rencong itu.

Rizki, kamu mendengarnya…?


Foto oleh Willi Souw

selusuri

: Gabriel Jefri

Setelah Emakmu, mungkin akulah orang yang paling tahu kamu – setidaknya aku tahu dosa-dosamu.

AKU melewati rentang masa dari beberapa julukanmu: Gantung, Kakek, Encek, dan Japra. Bukan saja melewati rangkaian julukan itu, tapi setidaknya aku turut mempopulerkan sebagian julukan tersebut karena ikut memakainya. Dan karena itu, makanya aku berani bilang kalau aku sangat tahu kamu, terutama dosa-dosamu – itu pun kalau dosa memang benar-benar ada, bukan karangan para agamawan tengik.

Bukan saja julukan yang kulewati, tapi juga kendaraan yang membopong tubuhmu yang tak bakat gemuk. Dari mobil antar jemput Pak Dadang, numpang mobil Sally, mikrolet 08, Vespa birumu, Yamaha Cham, sampai Yamaha Vixion. Semuanya kukenal dengan amat baik. Bukan hanya kenal, tapi aku turut ‘menggagahi’ sebagian dari mereka.

Tahun 1995 – kurasa – lelaki ceking sepertimu mulai kukenal. Kelas 4 SD ketika itu. Dalam daftar absensi kamu dipanggil Jefri B, untuk membedakannya dengan Jefri lainnya. Waktu itu, kita sama-sama masih sulit mengeja kata de-mo-kra-si, marx-is-me, ka-pi-ta-lis-me, atau pun ge-ron-to-kra-si. Tapi lucunya – mungkin lebih tepat anehnya – kita sama-sama lancar melafal nama-nama binatang atau bahasa lain untuk kata reproduksi biologis kalau sedang jengkel – ya, mungkin biar dicap sebagai jagoan cilik.

Aku pikir – mungkin kamu juga pikir ini – rasa-rasanya dulu kita tidak pernah sebangku ketika SD juga SMP. Tak ada keintiman antara kita. Kita hanya saling tahu. Saling kenal. Main bersama. Tak lebih dari itu. Memang, kita pernah beberapa kali sebagai remaja sok gaul ketika itu pergi bareng ke plasa atau tempat-tempat gaul lainnya. Kita juga terlibat dalam pertandingan-pertandingan sepak bola melawan sekolah lain – yang selalu berakhir dengan berkelahi – walau kamu lebih banyak dicadangkan. Tapi tak ada kedalaman di sana, kurasa kamu pun mengakuinya. Jarang kita terlibat dalam dialog emosional atau adegan spiritual yang serius. Karena itu, aku amat heran, mengapa kamu menjadi satu-satunya sahabatku yang paling awet. Aku berani bersumpah, bahwa ketika dulu aku tak pernah memasukkanmu ke dalam daftar teman yang hendak kuajak pergi. Namamu pun tidak ada dalam kertas kumel yang kucoreti nama teman-teman yang kususun dalam tim kesebelasan impian di sekolah. Terlebih – ya, kau boleh tersenyum lega karena aku mengakuinya sekarang – kau tidak pernah kutebak untuk menjadi sahabat dalam hidupku.

Kalau sekarang, di garis akhir masa remaja, kita tetap berkawan, kurasa bukan karena mauku, juga maumu, terlebih maunya Tuhan. Ini hanya sebuah kebetulan, bukan kesengajaan. Ya, ke-be-tu-lan. Perlu kueja sekali lagi? KE-BE-TU-LAN!

Justru karena kebetulan ini, yang tidak diskenariokan sebelumnya, masing-masing kita merasa bebas. Tak perlu merasa terikat atau terbebani. Tapi kita merasa mengikat dan membebani satu sama lain. Maksudnya, kita sama-sama tidak merasa harus patuh terhadap ‘aturan’ antara kita. Tapi kita sama-sama merasa perlu mengikatkan, mengaitkan kehidupan kita. Kita sama-sama tak merasa terbebani yang membuat saling tak enakan, tapi justru saling membebani dan merasa tidak berdosa melakukan itu – walau kuakui itu membuatku menderita, terutama ketika aku dibebani hutang olehmu.

Jef – izinkan kupanggil sesopan ini di hari ini saja, hanya di hari ini – kau ingat apa yang kusesali ketika kita sama-sama menyaksikan seorang tukang bajaj yang dipukul pengendara motor di Gambir, sepulang kita membeli barang keperluan kemping di Senen? Kau tahu apa yang kuucap dalam hati ketika kutahu cerpenku tidak menang dalam sebuah lomba? Kau berpikir apa ketika aku mati-matian melawan ketidakadilan di Paroki? Kau sadar apa yang kutentang dalam agama dan konsep tuhan mereka? Kau paham apa yang kusuarakan dalam tulisan-tulisanku. Tanpa kau jawab aku tahu jawabanmu: ya.

Aku berani bilang begitu karena kau ada di masa-masa itu. Masa di mana kita saling menanam harap, mengurai kebenaran, mengumbar air mata, merayakan masa muda, atau melawan hidup. Kita sama-sama ada dan bersemangat pada situasi macam itu. Dan kita sama-sama percaya, kita dibesarkan di dalamnya.

Kini, ketika kita tidak lagi anak kelas 4 SD, ketika tidak lagi gemar menyeruput es teh manis Si Kumis, ketika kita sudah sama-sama gelisah pada kehidupan dewasa yang baru ini, ketika kehidupan berjalan lebih cepat dari apa yang kita tahu, percayalah pada diri sendiri. Kalau belum yakin benar, tengoklah bahuku, di sana masih tersedia kekuatan untuk sekedar memberimu sandaran.

Sandaranku jelas tak akan mampu mengubah suara sengaumu menjadi sedikit berwibawa, bodi kripikmu sedikit lebih berisi, dompet kempesmu sedikit lebih tambun, atau muka culunmu menjadi sedikit lebih gahar – dan karenanya aku suka sembunyi untuk menertawakannya. Yang kuyakin satu hal, jelas sandaranku mampu mengubah air matamu menjadi sebuah narasi yang layak kita rayakan dalam fragmen-fragmen kehidupan.

Jef, kalau aku menyelipkan sedikit rasa kagum pada dirimu, itu tidaklah berlebihan. Pasalnya kau memiliki syarat yang pantas untuk dikagumi. Selain katrok, tentunya kau mampu beropini, bersikap. Kalau Pram dalam novelnya berkata, ia menyayangi seseorang karena menulis, sedang aku menyangi dirimu karena punya sikap. Kau tidak gentar ketika memilih – atau terpanggil? – untuk menjadi idealis. Ketika kita lebih sering habiskan sepotong malam dengan rangkaian diskusi super rumit dibanding dugem atau main di warnet.

Aku mengagumi dirimu. Bukan saja karena kerendahan dan kebesaran hatimu – aku ingat kamu berani datang kepadaku untuk menanyakan kenapa aku tak menyapamu lagi – tapi juga ketahananmu terhadap kehidupan. Berjuang, adalah nama tengahmu – walau itu tidak terbukti ketika kau sakit perut. Berjuang untuk tetap ada di dalam garis yang kita sepakati: tidak tunduk pada nasib!

Hari ini, 25 Juni 2008, kau mencoba mengulang sejarah – tentunya sejarah hidupmu. Kalau di hari ini, di usia barumu di duapuluhdua, kamu masih mendapat rangkaian aksara dariku, bergegaslah membangun hidup. Karena aku berharap di dua, tiga, empat, bahkan lima kali lipat usiamu yang sekarang, suratku ini masih bisa terbaca olehmu.

Selamat ulangtahun, selamat merayakan angka-angka…

selusuri

Dalam dunia musik klasik, jarang sekali ada karya untuk gitar yang dikenal begitu luas oleh masyarakat musik di luar gitaris atau pecinta karya gitar. Sekali pun ada, apresiasinya tak setinggi karya untuk piano, biola, atau simfoni. Di sedikitnya karya gitar yang dimaksud, juga di tengah minimnya karya untuk gitar dalam sebuah orkestra, tercuatlah satu karya yang paling populer, Concierto de Aranjuez.

KARYA di atas tidak bisa lagi diklaim sebagai repertoar wajib gitaris profesional. Karena bagaimanapun juga, karya milik Joaquin Rodrigo (1901 – 1999) ini sudah menjadi repertoar yang dimiliki seluruh masyarakat musik klasik. Musikalitas serta cara Rodrigo membagi ide musikalnya dalam karya ini, membuat Concierto de Aranjuez menjadi amat populer, bahkan menjadi semacam lagu kebangsaan warga Spanyol, negara di mana Rodrigo berasal. Bukan itu saja, satu per satu musisi dunia pun menyempatkan diri untuk menjajal repertoar dengan nuansa Spanyol yang kental ini. Hal ini jugalah yang mengilhami musisi legendaris Jazz macam Miles Davis dan Chick Corea dalam mencipta musik mereka masing-masing.

Rodrigo, yang mengalami kebutaan sejak kanak-kanak, juga membuat 4 komposisi gitar lainnya yang berbentuk concerto, namun Concierto de Aranjuez­-lah yang paling terkenal. Lewat karya ini, memperlihatkan bagaimana ia sadar akan pentingnya mempelajari dan mengkoreksi karya-karya komponis pendahulunya beserta karyanya. Ia mengkombinasikan pengetahuan musikologinya dengan karya-karya komponis sebelumnya menjadi sebuah mahakarya komposisi yang fenomenal dan amat dipuja sepanjang masa.

Karya ini agak unik dengan bentuknya yang masih berpegang pada bentuk karya musik di zaman Klasik, tapi punya karakter musik zaman Romantik pula. Gaya Klasik terlihat dari bentuknya yang pada umumnya dipakai di zaman Klasik, yakni terdiri dari tiga bagian: Allegro con Spirito, Adagio, dan Allegro Gentile, yang mana bagian pertama dimainkan dengan tempo cepat, kemudian lambat pada bagian kedua, dan cepat kembali di bagian terakhir. Sedang karakter Romantik terlihat dari penggunaan nada-nada kromatik dan cara memainkannya yang memakai tempo rubato.

Uniknya, Rodrigo tidak sepenuhnya memakai bentuk concerto yang lazim dipakai di zaman Klasik, yakni dengan memulai lagu dari suara orkestra baru kemudian solois. Tapi dia menyimpang dari kebakuan tersebut, dia melakukan sebaliknya, yaitu mendahulukan solis (gitar) baru kemudian disusul dengan suara orkes sebagai imitasinya.

Concierto de Aranjuez adalah sebuah komposisi yang ditulis pada tahun 1939 yang sebenarnya diperuntukkan bagi instrumen gitar yang diiringi orkestra. Namun pada analisa di bawah ini, repertoar yang dipakai adalah transkripsi untuk duet gitar dan piano.

Historis Karya

Sejarah karya ini dimulai ketika di tahun 1938, Rodrigo diundang untuk mengajar di universitas yang terletak di bagian utara Spanyol, University of Santander, pada musim panas. Sekembalinya ke Paris di bulan Agustus akhir, ia mengatur pertemuan dengan Regino Sainz de la Maza, seorang gitaris yang Rodrigo jumpai sejenak di salah satu kota di Spanyol, San Sebastian. Regino Sainz de la Mazza kemudian menawarkan diri untuk membawakan karya yang akan dicipta Rodirgo dan akan dimainkan pertama kali di Madrid dengan dipimpin konduktor Jesus Arrambarri. Rodrigo sangat antusias menerima tawaran ini yang kemudian membuatkan sebuah karya concerto yang didedikasikan untuk sang gitaris tersebut.

Namun, sekembalinya Rodrigo ke Paris, ia menghadapi banyak sekali kesibukan seperti bekerja untuk Radio Paris, mempersiapkan resital kecil, dan menulis karya yang lain. Hingga tahun 1939, ia juga tak memulai menulis komposisi tersebut. Di tahun itu pula, Victoria Kamhi, istrinya yang seorang pianis berdarah Turki yang dinikahinya tahun 1933, sedang mengandung anak pertama mereka. Naasnya, kandungan tersebut mengalami keguguran. Semasa pemulihan Kamhi di rumah sakit, Rodrigo sering menyendiri di rumahnya, menghabiskan malam, dan memainkan bagian kedua karya tersebut, Adagio di dalam kegelapan. Dia mengatakan bahwa ketika memainkan tema lagu ini, ia seperti terkenang pada masa bulan madunya yang bahagia, ketika mereka berjalan di taman Aranjuez, dan ketika itu, itulah lagu cinta mereka. Karena alasan-alasan tersebut, Rodrigo menamai karya ini, Concierto de Aranjuez.

Aranjuez sendiri adalah sebuah kota kecil di Madrid, Spanyol. Di sana terletak sebuah bangunan bernama Palacio Real de Aranjuez tempat kediaman Raja Spanyol kala itu, Philip II. Bangunan tersebut dirancang oleh Juan Bautista de Toledo dan Juan de Herrera. Pada masa sekarang, tempat tersebut menjadi situs Kerajaan Spanyol dan dibuka untuk umum.

Analisa Bagian Pertama: Allegro con Spirito

Seperti yang sudah diurai di atas, bahwa Rodrigo mengadopsi bentuk musik di zaman Klasik yang biasanya terdiri dari tiga bagian, yang mana pembukaan dan penutup bertempo semangat dan cepat, sedang di bagian tengah dibuat berlawan yang sangat kontras, lambat. Dan uniknya, Rodrigo melawan pakem dengan solois (gitar) menjadi pemulai, bukan orkestranya.

Lagu dibuka oleh teknik rasguado pada gitar dalam tangga nada D Mayor. Dalam birama 6/8, lagu ini menghadirkan efek ritmis. Hanya dua akor yang digunakan, D dan G/D. Perlahan, dinamika yang berawal pianissimo ini menaikkan tensinya dengan menggunakan dinamika yang perlahan naik, serta pemakaian oktaf yang makin tinggi. Hal ini berlangsung sampai birama kedelapanbelas, atau setara dengan mengulangi gaya ritmis di awal sebanyak tiga cara (tiga oktaf). Lalu disusul dengan solo melodi pada bass gitar yang disahut oleh suara piano pada register atas.

Birama keduapuluhenam, piano masuk dan mengimitasi suara ritmis gitar. Dengan bentuk yang sama persis seperti yang dibawakan gitar (dinamika dan permainan oktaf), pada birama keempatpuluh lima, melodi (tema) do-mi-sol ditambahkan. Dan hal ini yang kemudian dilakukan juga oleh gitar pada bar keenampuluhsatu (tema dua).

Membaca uraian teks di atas, terlihat bagaimana bentuk musik Rodrigo yang masih mengacu pada bentuk concerto Klasik. Namun, umumnya, pada concerto milik Mozart misalnya, selalu dibuka oleh ritornello, yakni sebuah frase singkat dalam pasasi musik yang berulang atau diulang kembali. Baru kemudian diikuti tema yang dimainkan solois, lalu ritornello di tengah-tengah yang memimpin untuk masuk pada sesi free development dengan frase transisi yang mengantar menuju rekapitulasi dan diakhiri dengan ritornello kembali. Frase transisi terlihat pada birama ketujuhpuluhempat yang selanjutnya mengantar pada sebuah tema baru (tema 3) di birama kedelapanpuluhtiga

Masih mengacu pada bentuk concerto zaman Klasik, bagian pertama dari karya Rodrigo ini memakai bentuk sonata yang terdiri dari dua potongan: potongan pertama dalam tonik mayor (D Mayor), dan dominan minor (A minor) pada potongannya yang lain.

Dominan minor ini terdengar pada birama keseratusduabelas yang dimainkan piano, setelah sebelumya dijembatani oleh solo gitar. Pada nuansa minor ini, pola ritmik dan motif melodi sama dengan bagian mayor. Rodrigo hanya mengambil bahan terdahulu, dan mengembangkannya dengan permainan dinamika, modulasi, dan solo melodi yang cepat. Terlihat sekali pada bagian minor ini ingin menunjukkan virtuositas solois.

Sekali lagi, Rodrigo memperlihatkan idenya yang cemerlang. Walau memakai bentuk concerto Klasik, namun ia mencoba untuk memodifikasinya. Ini terlihat dari sesi minor ini. Biasanya, pada concerto sesi kedua, tonalitas yang dipakai adalah dominan mayor dari tema satu. Tapi Rodrigo dengan santainya membuat dalam dominan minor. Bukan itu saja, nuansa minor yang dimainkan piano ini kemudian disahut oleh solois (gitar) dalam akor A Mayor. Terdengar sekali suara yang dihasilkan amat kontras. Namun ini tak berlangsung lama, karena setelah melewati akor A Mayor yang hanya 4 birama ini, Rodrigo langsung membelokkannya menjadi A Minor.

Setelah puas dalam tangga nada minor yang serasa diajak masuk pada sebuah imaji, dan menunjukkan virtuositas gitaris (hal yang lazim digunakan pada zaman Klasik), kembali tema dua terdengar dari piano. Dan setelah coda yang singkat, tema pertama muncul kembali dan mengakhiri bagian ini.

Analisa Bagian Kedua: Adagio

Bagian kedua ini dalam Concierto de Aranjuez, memang yang paling dikenal luas oleh publik musik klasik. Bagian ini dimainkan dalam relatif minor (B Minor) dan mempunyai 3 sesi dan coda. Isi dari bagian Adagio ini sebenarnya hanyalah potongan 3 not sederhana (neighboring note) yang dikembangkan dan divariasikan terus menerus hingga akhir bagian.

Dengan bertempo lambat dan dalam birama 4/4, bagian ini dimulai dengan gitar sebagai pengiring. Melodi utama (tema utama) muncul pada birama kedua dan dikembangkan sepanjang 5 birama. Pada waktu ini, terdapat nada yang bergerak turun (descending scale), dan terdapat nada A natural, tapi dilawan oleh nada A# pada gitar.

Setelah itu melodi yang sama dijawab oleh gitar sepanjang 5 birama pula. Melodi ini tidak sama persis, karena diberi dekorasi not yang direpetisi dan terdapat perubahan harmoni dasar yang diinversi. Kemudian, dengan akor mayor pada gitar yang bergerak turun (GM, F#m, Em), tema utama dimainkan kembali oleh piano namun pada nada 4 tingkat lebih tinggi.

Selanjutnya, pada bagian ini (birama ketujuhbelas), tema dimainkan lagi oleh gitar namun dengan pengembangan dan tensi yang semakin naik. Terdapat banyak tambahan not sebagai unsur dekoratif. Lalu menyusul suara piano yang melanjutkan melodi pada gitar tadi. Dan terjadi pergantian akor dominan (F#m) pada birama keduapuluhempat yang kemudian berpindah lagi menjadi F#M pada birama berikutnya (gitar).

Di sesi kedua (ada 3 sesi di bagian Adagio), gitar kembali membawa melodi namun dalam akor B7. Sesi ini hanyalah terdiri dari pengembangan sesi sebelumnya (tema utama) dan ditambahkan dengan cadenza.

Pada birama ketigapuluhtujuh, gitar memainkan melodi dan iringan secara mandiri (solo) dalam akor Em. Rodrigo yang termasuk dalam golongan komposer akhir Romantik bahkan cenderung modern ini, tidak lupa memberi ciri itu pada karya ini. Itu terlihat pada solo gitar ini yang disisipkan not enharmonic (C natural). Kemudian, sebuah teknik trill pada gitar yang disambung dengan not kromatik yang bergerak naik dengan amat cepat, dan terus menggiring (bersama piano) dengan terjadi perubahan tempo menjadi lebih cepat untuk sesaat, lalu masuk pada cadenza.

Cadenza dimainkan oleh solo gitar pada register rendah (bass) dalam tangga nada baru (G#m). Pada waktu ini, motif pada tema utama dipakai kembali. Walau seluruh not ditulis pada partitur, namun pada bagian ini terkesan adanya nuansa improvistoris pada gitar. Gitar secara mandiri membawakan melodi dan bass bergantian, membentuk sebuah kalimat/frase tanyajawab yang terus diolah semakin intim, intensif, dan mengarah ke pra-klimaks. Namun setelah pra-klimaks ini, suasana yang tenang hadir, tapi tak lama, karena usaha untuk membangun suasana menuju klimaks terjadi lagi. Strumming cepat di gitar menunjukkan titik klimaks pada bagian Adagio ini yang kemudian langsung dijawab oleh piano dengan tangga nada baru lagi, yakni F#m.

Pada suara piano ini pulalah terjadi rekapitulasi. Tema yang dimainkan dalam tangga nada baru ini digandakan dalam permainan oktaf, yang dijawab oleh echo tema. Sedang bassnya memakai bahan tema gitar pada tema utama di awal bagian Adagio. Lalu setelah pola ini berjalan sepanjang 5 birama, ada melodi dalam kelompok triol yang menggiring pada tema utama yang bermain dalam akor D Mayor. Dan pola jawaban echo tetap mengawal hingga solo gitar sebanyak 2 ½ birama yang berbentuk kontrapungtal tanya jawab.

Bagian Adagio ini ditutup dengan coda singkat sebanyak 4 birama dengan nuansa piu tranquillo dan frase akhir ini dikembalikan pada tonik, yang sebelum ditutup didahulukan oleh akor dominan (F#M) pada gitar dan berakhir di akor BM dengan permainan harmonik pada gitar.

Seperti pada bagian pertama, Allegro con Spirito, pada bagian Adagio ini melodinya pun sangat dibatasi pada rentang nada, mungkin mengingat kemampuan gitar dan piano (atau orkestra) dalam hal jangkauan nada amatlah berbeda. Namun dalam hal keselarasan suara, Rodrigo amat seimbang menentukan porsi suara gitar (solois) maupun piano (orkestra). Melodi pada bagian kedua ini terdiri dari beberapa frase singkat yang memberi kesan liris.

Analisa Bagian Ketiga: Allegro Gentile

Bagian Allegro Gentile ini mempunyai susunan komposisi yang sebenarnya mirip dari bagian Adagio. Dengan berstruktur sederhana, tema utama dan variasinya, bagian ini hanya memakai sedikit sekali not yang dijadikan tema dan kemudian digarap (pengembangan), dan diberi penyelesaian akhir.

Allegro Gentile artinya cepat dan lembut. Maka sejak awal karakter lincah dan riang pada bagian ini amat terasa. Ide temanya hanya terdiri satu kalimat musik yang panjangnya tidak lebih dari 5 birama. Dalam 1 tema ini terdapat 2 motif tanya jawab. Sedang ide ritmiknya terdiri dari 2 macam sukat, yakni 2/4 dan 3/4. Sukat 2/4 dimainkan dalam 3 birama yang kemudian selalu dibalas sukat ¾ hanya dalam 1 birama.

Dimulai dengan anacrusis, akor pertama adalah B7 (dominan mayor). Tema di awal tadi diulang-ulang dengan variasi oktaf dan harmoni sampai birama keduapuluh. Kemudian suara piano memainkan tema tersebut namun dalam harmoni yang berbeda, D Mayor (tonika). Setelah duapuluh birama dari piano itu, kemudian masuk pada sesi pengembangan tema yang melodinya dibawakan gitar. Pengembangannya belum terlalu auh dari tema, hanya progresi harmoninya yang sedikit berubah dan menyisipkan beberapa akor minor seperti Cm dan F#m. Di sesi ini pula, ide ritmik di awal dengan masing-masing sukat 2/4 berjumlah 3 birama, dan 3/4 1 birama, tidak berlaku.

Pengembangan kedua (birama limapuluhempat) memakai bahan yang lebih mendekati tema namun dalam akor E Mayor. Sesi ini tidak berlangsung lama karena kemudian di birama tujuhpuluh, solois (gitar) memainkan melodi pada bass yang disahut oleh piano setiap 3 birama.

Pada birama kedelapanpuluhenam terjadi persiapan menuju modulasi. Hal ini terlihat dari pemakaian tanda kres dan mol yang banyak. Intensitas nada pun dibawa menjadi lebih tinggi dan lebih berani memainkan progresi harmoni yang lebih variatif. Kadang ada satu dua harmoni yang tidak harmonis, dan itu memang disengaja oleh komposer modern seperti Rodrigo untuk menimbulkan efek tertentu.

Setelah sesi ini, pengembangan tema menjadi semakin kaya. Meski tetap berpegang pada tema, tapi Rodrigo dapat membuat nuansa-nuansa yang berbeda pada pengembangan-pengembangan ini. Seperti pada birama keseratustigapuluhsembilan, gitar yang bermain dalam not 1/16, pada piano sesekali terdengar alur melodi yang dibunyikan sepotong-sepotong.

Bagian Allegro Gentile ini kemudian ditutup oleh coda yang mengambil bahan tema utama tapi dalam bentuk chordal. Hingga sampai pada solo gitar yang nadanya bergerak turun (descending scale) dan berefek decrescendo.

Penutup

Melalui karyanya Concierto de Aranjuez ini, Rodrigo memperlihatkan bagaimana usahanya dalam merekonstruksi semangat musik zaman Klasik. Bentuk dan ide musikalnya, amat menunjukkan bahwa ciri Klasik amat berpengaruh. Apalagi bila melihat bagian Adagio dan Allegro Gentile yang mempunyai bentuk tema dan variasi, yang semakin menunjukkan ciri musik zaman Klasik. Rodrigo sendiri pun mengakui bahwa karyanya ini dikerjakan sebagai sikap hormatnya kepada dua komposer besar abad 18 yang banyak berkarya di Spanyol, Domenico Scarlatti dan Padre Antonio Soler.

Concierto de Aranjuez adalah satu karya Rodrigo yang menginterpretasikan musik zaman Klasik, tapi berkarakter Spanyol yang Romantik. Ketertarikannya pada sejarah Spanyol juga menambah kesempurnaan karya ini, sehingga mempunyai cira rasa Spanyol yang pas.

Kiranya kejeniusan, kegigihan, dan ketekunan, serta sikap anti kemapanan yang menolak untuk menuruti kebakuanlah yang membuat Rodrigo mendapat tempat tertinggi sebagai salah satu komponis raksasa di dunia musik. Dan Aranjuez, sebuah kota berjarak 50 kilometer di sebelah Selatan Madrid ini menjadi begitu terkenal berkat karya Concierto de Aranjuez yang ditulis seorang komponis kelahiran Valencia, Spanyol, 1901, Joaquin Rodrigo.

***

Daftar Refrensi:

  1. Internet: Wikipedia dengan kata kunci ‘Joaquin Rodrigo’, ‘Concierto de Aranjuez’, ‘Palacio Real de Aranjuez’, ‘Regino Sainz de la Maza’, dan ‘Concerto’. (diakses tanggal 15 Mei 2008)
  2. Internet: http://www.aichi-gakuin.ac.jp/~jeffreyb/draftF02/rie.html. (diakses tanggal 15 Mei 2008)
  3. Buku: Hand in Hand With Joaquin Rodrigo: My Life at the maestro side, Victoria Kamhi Rodrigo, Real Musical
  4. Buku: Kamus Musik, Pono Banoe, Kanisius
  5. Video: Joaquin 100 Anos, Spain: EMI-Odeon
  6. Video: Eduardo Fernandes in Orhestra
  7. Video: Maria Esther Guzman Recital in Japan
selusuri

Saya ingat sepuluh tahu lalu ketika masih kencur. Ketika masih berseragam merah putih dan ketakutan melihat keramaian. Saya tidak tahu menahu. Hanya sebuah kata yang jadi akrab di kuping setelah itu: reformasi. Kata koran-koran, kakak-kakak mahasiswalah yang melahirkannya.

BAYANGAN saya ketika itu, sungguh seru punya titel mahasiswa. Kalau ditanya orang dari mana, tinggal jawab, dari kampus. Kalau di bis uang untuk ongkos kurang, tinggal bilang, mahasiswa, Bang. Kalau diledek karena cuma bisa makan nasi plus mie instan, bisa jawab jahil, namanya juga mahasiswa.

Buat saya yang masih kencur ketika itu, menjadi mahasiswa identik dengan kebebasan. Merdeka. Tidak harus pakai baju seragam. Tidak harus ikut upacara tiap senin. Rambut boleh gondrong. Merokok pun tak ada yang jewer. Pokoknya hanya diri sendiri yang berhak menentukan sikap.

Perlahan saya mengagumi dan memimpikan untuk menjadi mahasiswa. Saat itu, saya sudah dianggap dewasa oleh orang-orang. Saat itu, orang tidak boleh mengomeli saya sembarangan lagi. Saat itu, saya bangga memakai status baru, dari siswa menjadi mahasiswa. Ternyata bukan Tuhan saja yang bisa maha, manusia juga.

Sekarang, ketika sudah memakai predikat mahasiswa, saya jadi bertanya kembali, masih ‘maha’-kah mahasiswa? Mahasiswakah saya? Apakah ‘maha’ – yang berarti sangat, ter-, paling, tak dapat dijangkau – masih pantas disematkan pada pemuda-pemudi 20-an tahun yang akrab dengan frasa penelitian, tokoh intelektual, demo, tapi juga dugem, tawuran, dan narkoba ini?

Cukup Maha-kah?

Sebelum aksi-aksi demo beberapa waktu belakangan ini, saya berpikir dengan skeptis terhadap mahasiswa. Saya berpikir, udara reformasi yang sudah berusia 10 tahun ini hanya dimaknai mahasiswa dengan anteng saja. Saya takut melihat mahasiswa sudah merasa mapan pada alam baru di era Indonesia pasca Orde Baru ini. Mahasiswa hanya menggumuli harinya dengan pesta, games, otomotif, asmara, cari duit, main-main, hingga tenggelam dalam belajar dan buta akan keadaan sosial.

Pikir saya, mahasiswa sebagai angkatan muda penerus bangsa hanyalah pion-pion yang dijalankan sistem yang sudah dirancang penyelenggara negara dan pemilik modal. Mahasiswa tak lebih dari tukang-tukang yang tengah mendapatkan pelatihan demi persiapan menghadapi dunia kerja sistematis yang mapan dan membosankan. Mahasiswa bak kumpulan anak penyu yang tengah ditangkarkan untuk siap dibebaskan di pantai lepas yang ganas. Mahasiswa hanya dicetak untuk siap bertahan hidup, bukan mengolah hidup, terlebih menentukan hidup. Tidak juga menentukan hidup sendiri, apalagi kehidupan bangsanya.

Namun, pikiran skeptis di atas menjadi keliru ketika menyaksikan mahasiswa bergiat dalam forum-forum diskusi yang membahas masalah bangsa dan mulai turun-turun ke jalan secara intuitif (saya yakin ini desakan hati nurani). Mahasiswa tidak lagi berbisik-bisik untuk menyuarakan penderitaan rakyat, tapi berteriak lantang.

Tapi ke-maha-an mahasiswa menjadi cacat ketika mereka bersuara demi diri sendiri, demi kepentingan kelompok, demi segelintir elit politik yang menyetir. Gelar itu menjadi cacat ketika mahasiswa bertindak demi melayani emosi tak terkendali mereka, memuaskan naluri hewaniah manusia yang buas.

Peran Mahasiswa

“Hanya angkatan muda yang bisa menjawab”, begitu orasi Pramoedya Ananta Toer ketika ditanya bagaimana membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Almarhum Pram amat menyadari bahwa angkatan muda punya peran yang sangat sentral terhadap kehidupan suatu bangsa. Angkatan muda punya potensi untuk membenahi benang kusut bangsa, bukan malah membuatnya bertambah kusut.

Beberapa waktu belakangan ini, banyak teman-teman mahasiswa yang ‘terpanggil’ untuk turun ke jalan demi memperlihatkan sikap penolakan akan kenaikan harga BBM. Mereka yang dengan niat luhur, menunaikan kegiatan ini seperti ibadah. Maka tak heran mereka rela mengorbankan waktunya demi menyuarakan kesakitan rakyat kecil.

Pada tahap ini, tindakan mahasiswa sudah tepat. Mahasiswa hadir untuk merefleksikan keadaan rakyat yang semakin sulit dan terjepit. Mahasiwa dengan kemerdekaannya berani menyuarakan apa yang selama ini dibuat bisu. Memang itulah peran mahasiswa, untuk menjadi pengingat, untuk menjadi gerakan korektif terhadap pemerintah yang mulai main mata dengan ratu bohong.

Tapi ketika aksi mahasiswa hanya menambah kusut situasi, sudah selayaknya mahasiswa memeriksa diri, apakah kendali mereka terhadap oknum-oknum cukup kuat? Banyak oknum mahasiswa yang menjadikan momen ini sebagai ajang untuk bebas dari rutinitas kuliah, ajang untuk melampiaskan emosi, ajang untuk unjuk diri, ajang untuk menunjukkan, gue mahasiswa loh!

Sudahkah mahasiswa melengkapi kelompok dengan perhitungan matang ketika melakukan aksi demo sehingga tidak perlu melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau membuat kemacetan yang malah merugikan masyarakat luas karena menghambat laju ekonomi rakyat yang tengah mereka perjuangkan? Apakah mahasiswa berani untuk menyebut bahwa mereka memang diduduki, tapi yang menduduki adalah rakyat, bukan elit politik?

Mahasiswa harus tetap berada di jalan selama pemerintah masih mengalpakan rakyat kecil. Mahasiswa harus terus menekan pemerintah dengan menggalang gelombang kekuatan yang lebih besar dan fokus terhadap tuntutan. Mahasiwa yang menginginkan demokratisasi harus juga berlaku demokratis di tubuh mereka dengan menerima kenyataan bahwa mahasiswa yang tidak ikut demo punya alasan sendiri, bisa karena memang tak peduli, atau melakukan sesuatu dengan cara lain, atau karena terbentur struktural kampus yang tidak akomodatif.

Maka, bersatulah mahasiswa se-Indonesia! Perlakukan ‘maha’ dengan sebaik-baiknya! Yang perlu kita ingat, kita sekarang hidup di atas darah mereka yang mendirikan reformasi. Jangan kecewakan darah mereka!


*Judul diinspirasikan dari perkataan seorang teman, Gabriel Jefri.

*Dua kalimat terakhir milik Berto Tukan.

Foto diambil dari Flickr.com

selusuri

Apa yang Anda pikirkan dengan kata ‘orkestra’?

BANYAK dari kita pasti mengasosiasikan orkestra sebagai sesuatu yang mewah, prestisius, konsumsi jetset, seni bernilai tinggi, kaku, konservatif, dan lain-lain. Kalau nonton orkestra harus duduk tenang di ruang gelap, tanpa gerak, tanpa suara, kalau bisa tanpa kedip – agar dianggap berbudaya. Duduk pun diatur diri sedemikian anggun, kostum pun harus dipilih teliti, minimal setara dengan pakaian pesta.

Kalau Anda tetap berpikir – atau berandai? – seperti itu, siap-siap untuk merasa keliru bila menyaksikan orkes yang satu ini. Karena, di tangan mereka, persepsi tentang orkes yang selama ini melekat di pikiran dibuat jungkirbalik. Pesannya menjadi begini kira-kira: orkestra itu menyenangkan!

Untuk lebih meyakinkan Anda, selain membaca catatan kecil ini, sebaiknya Anda berada di Balai Sarbini pada 9 Juni 2008 lalu. Di sana, dua kelompok orkes besar melebur menjadi satu, Nusantara Sympony Orchestra (NSO) dan Tokyo City Philharmonic Orchestra (TCPO). Mungkin lewat mereka, Anda paham apa yg dibicarakan pada paragraf di atas.

Malam itu, konser dua kelompok orkes yang sama-sama terkemuka di negaranya masing-masing, Indonesia dan Jepang, mengadakan konser yang dikhususkan bagi pelajar. Maka tak heran, sejak di pelataran gedung wajah-wajah muda menyesaki suasana menjelang pementasan. Kesesakan itu ditambah dengan ikut melubernya penonton berkebangsaan Jepang. Jelas saja, konser ini memang digelar dalam rangka 50 tahun persahabatan Indonesia – Jepang.

Di bawah baton Hikotaro Yazaki, orkestra mengalunkan nomor-nomor karya yang sudah populer, bahkan oleh awam sekalipun. Misalnya saja sebagai nomor pembuka mereka membawakan karya W.A. Mozart (1756-1791) yang berjudul Overture from Operas ‘Le Nozze di Figaro’. Karya yang termasuk dalam jenis opera Buffa, yang menceritakan tentang perseteruan antar rakyat golongan atas dan bawah ini dimainkan dengan amat ringan. Sejak not pertama dibunyikan, kesan melayang milik komposisi jaman Klasik ini sudah terasa. Sapa menyapa antar instrumen terjadi dengan amat rukun.

Symphony No. 5 milik Beethoven (1770-1827) yang sudah dibawakan pada konser NSO 24 Mei lalu, dibawakan kembali, namun dalam kesan yang berbeda. Kali ini tidak seringan dahulu, tapi lebih bertenaga. Tentu saja memang karena jumlah pemain yang lebih banyak. Namun selain itu, ini menandakan bahwa musik tak perlu ditafsir berulang dengan cara yang sama. Musik haruslah dinamis dan terus berkembang jelajah tafsirnya, bahkan bila dimainkan oleh orang yang sama –maksudnya konduktor yang sama. Karya komponis Jerman ini hanya babak pertama yang dimainkan.

Karya dari Leroy Anderson (1908-1975) komponis Amerika menjadi amat menghibur. Ada Typewriter yang mencoba mengolah imitasi suara mesin tik dalam sebuah orkes. Sang solois yang duduk di sebelah Yazaki menggunakan mesin tik sungguhan yang menghasilkan efek ritmis perkusif sepanjang lagu. Seperti mesin tik, suara ketika menggeser kertas dan bunyi bel penanda juga diimitasi oleh perkusi.

Syncopated yang ditulis pada tahun 1945 juga tidak kalah seru dan jenaka. Namun yang membuat semakin cair suasana di Balai Sarbini ada pada lagu Plink Plank Plunk. Yazaki tanpa malu-malu bergoyang pinggung mengikuti irama. Sesekali ia berikan tanda sebelum not up beat masuk sehingga para pemain berbunyi dengan seragam. Suara jenaka instrumen gegek yang di-pizicatto ini makin menarik ketika pemain contrabass memutar-mutarkan instrumen layaknya musisi jazz.

Menambah semaraknya suasana, karya dari komponis muda Selandia Baru, Chris Watson (1976) berjudul Jangeran didaulat untuk dibawakan. Karya ini menjadi menarik, karena selain berdasar komposisi orang Indonesia – melodi ditulis oleh Otto Sidharta – karya ini merupakan simbol pertemuan antar Barat dan Timur. Sekaligus menegaskan hubungan baik dua negara yang amat berbeda secara politik, ekonomi, kepercayaan, juga budaya, tapi mampu melebur harmonis dalam kesenian. Diambil dari bahan asli Indonesia (Bali) kemudian diolah dalam medium yang khas Barat (orkes). Namun ciri keduanya, Barat dan Timur, tetap terasa dalam identitasnya masing-masing.

Sekelompok pemain gamelan pimpinan I Gusti Kompiang Raka bersinergi dengan orkestra membawakan melodi. Kemudian untuk melayani kebutuhan visual, penari Bali, Anak Agung Gede Ariawan, ditampilkan. Lampu merah marun keunguan menyiram tubuh sang penari yang begitu asli membawakan tanpa modifikasi gerak.

Karya-karya dari Peter Ilyich Tchaikovsky, Jean Sibelius, dan Georges Bizet kemudian susul menyusul menambah nikmatnya penonton menyaksikan – atau untuk yang pertama kali berkenalan – dengan orkestra. Yazaki dan pasukan musiknya yang berdinamis – bukan kompromi – dengan publik Indonesia yang agak asing dengan musik Barat ini, dilempari panjangnya tepuk tangan dan elu-eluan dari berbaris-baris kursi. Sehingga Yazaki melempar balik pulalah hadiah encore sebanyak dua buah milik Bizet dan Redetzki March yang terkenal milik Richard Strauss.

Jadi, bagaimana orkestra menurut Anda?

selusuri

Ia berdiri, bersikeras menyampaikan sesuatu lewat gerak dan mimiknya. Kalau ia tidak bersuara, bukan berarti ia seorang bisu.

WAJAHNYA nyaris ditutup putih kalau bibirnya tidak diwarnai merah. Posturnya tinggi dengan rambut ombak beruban yang tampaknya tidak pernah disisir. Ia, lelaki itu, bicara banyak hal mengenai kehidupan. Tapi bukan Bizot namanya kalau ia menggunakan suara untuk bercerita. Cukup gerak dan mimik. Itu saja.

Bizot adalah seorang pemain pantomim dari Prancis. Sabtu, 7 Juni 2008 lalu, ia tunjukkan seni berkomunikasinya itu pada khalayak ramai di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Dengan setelan kemeja putih yang jauh dari kesan rapih, serta dipadu celana panjang hitam, ia berhasil bercerita tanpa suara sedikit pun. Tapi sungguh, bohong bila ada yang bilang tidak mengerti. Karena Bizot mengolah tubuhnya sedemikian detil untuk berpantomim.

Sehari sebelumnya, 6 Juni, Bizot sudah pentas di Gedung Kesenian Jakarta. Tapi, seniman yang sudah bergelut 30 tahun lebih ini merasa perlu untuk membagi pengalaman kultural ini kepada publik yang lebih luas dan beragam. Itulah sebabnya, acara yang diselenggarakan CCF dalam rangka Festival Seni Budaya Prancis 2008 ini, dirayakan dengan lebih merakyat di Taman Menteng.

Di salah satu sudut lapang yang pelit penerangan, dan ditingkahi berpuluh anak muda yang bermain skate board di sudut lainnya, di situlah Bizot menyapa khalayak dengan amat personal, intim. Sejak lakon pertama digulir ia sudah menjadi daya tarik. Karena itu, puluhan orang mengerubunginya, persis seperti semut yang mengerubungi gula. Toh, seni pantomim yang ditampilkan Bizot memang manis. Bahkan mungkin menjadi salah satu pengalaman termanis sebagian orang yang jarang disapa dengan intimitas kesenian.

Pantomim adalah sebuah seni gerak yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Mesir Kuno dan India, menurut Aristoteles. Aristoteles menguatkan pendapatnya ini dengan memperlihatkan bahwa banyak sekali diketemukan relief-relief pada candi dan piramida yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang sedang melakukan gerakan, tapi bukan tarian.

Secara estimologis, pantomim berasal dari bahasa Yunani yang berarti serba isyarat. Jadi, pantomim memang tidak membutuhkan bahasa verbal untuk menyampaikan pesannya. Maka itu sering disebut seni bisu. Tapi justru dalam keheningannya itu, pantomim mengajak manusia untuk mempertanyakan, menertawakan, menelanjangi diri sendiri.

Setidaknya hal itu yang kita bisa lihat dari pertunjukkan Bizot. Ada beberapa lakon seperti Pantai, yang mempertontonkan kedunguan manusia. Atau lakon dadakan, Menjadi Perampok (diminta penonton), yang menelanjangi sifat naluri manusia yang tamak, juga gagal – lakon diakhiri dengan kisah sang pencuri yang ketika berhasil membuka kode brankas, setelah dibuka ternyata ada polisi di balik pintu.

Bizot sangat sederhana dalam mengolah gerak, ia tak memakai metafora yang berlebihan, atau konsep semiotika yang rumit, tapi bukan berarti membuatnya menjadi sangat sepele. Gerakannya memang tanpa basa-basi, tapi tetap membutuhkan proses berpikir untuk penonton mencernanya. Gerakannya yang sederhana tentunya bukan berarti sesederhana itu proses menekuni pantomim. Pada babak di mana para penonton diberi kesempatan untuk mengajukan tema lakon, Bizot tanpa pikir panjang mampu mempertontonkan tubuhnya dengan amat menarik dan imajinatif. Pasti banyak bacaan, diskusi budaya, dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, yang memperkaya eksplorasi pantomim Bizot.

Lewat kesederhanaan dan intimitas gerak dan mimiknya, Bizot mengajarkan pada penonton untuk memaknai hidup lewat gerakan. Kecintaannya pada pantomim, membingkai lakonnya menjadi sebuah cermin refleksi bagi kita semua. Ada yang sadar?

selusuri

Avip Priatna bukanlah Harry Potter. Tapi dari kedua tangannya tahulah kita bahwa ia sama seperti Potter, bisa menyihir.

KEDUA tangan – tanpa baton – itulah yang mengkomando sekelompok paduan suara dan orkes kamar untuk mengalunkan musik, yang kemudian dari sinilah kita mahfum, sihir apa yang dimaksud. Ya, lewat ujung-ujung jarinya itulah, bala pasukan musik di depannya patuh untuk mengikuti apa maunya. Kadang bersorak riang, kadang mengalun syhadu, atau meratap penuh ampun. Ingat, hanya dua tangan. Di sinilah magisnya.

Berbekal pengalamannya yang segudang di bidang direksi musik dan olah vokal, Avip Priatna menuntun kelompok paduan suara Universitas Parahyangan (Unpar) dan Jakarta Chamber Orchestra (JCO) untuk menerjemahkan musik yang lebih akrab sebagai sesuatu yang sakral menjadi lebih dinamis dan menghibur. Semangat itu kiranya yang coba diusung mereka dalam konser amal bertajuk Swing in Soul pada 6 Juni lalu di Balai Kartini, Jakarta.

Sebagai penampilan pembuka, karya komponis Amerika, Steve Dobrogosz (1956), berjudul Mass dibawakan dengan kurang teliti. Sekilas, karya yang ditulis tahun 1992 ini terdengar berat dan malu-malu. Paduan suara tampak masih enggan untuk melepaskan beban yang mereka pikul. Mereka bernyanyi dengan tidak lepas.

Kelompok soprano bermasalah pada artikulasi dan dinamika mereka. Hal ini amat terdengar ketika mereka sering menjatuhkan not dengan tidak seragam satu sama lain. Belum lagi volume mereka yang terdengar samar karena dimakan bass dan tenor. Entah, apa Avip menyadarinya dan kemudian mengarahkan untuk menyeimbangkan suara.

Karya ini sendiri adalah sebuah karya yang dibuat untuk melayani kebutuhan ibadah umat Katolik. Keenam bagiannya – Introitus, Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus, Agnus Dei – adalah urutan dalam sebuah misa (upacara ibadat). Nuansa Jazz yang dijanjikan pada konser ini belum terdengar utuh. Hanya pada bagian Agnus Dei – yang berarti Anak Domba Allah – dengan permainan walking bass pada contrabass, nuansa Jazz baru sedikit terasa. Walau pada bagian-bagian sebelumnya, sebenarnya sudah ada usaha memberi warna jazzy lewat permainan piano Alpin Limandau dan harmoni yang dipakai.

Agak sulit menikmati karya pertama ini. Pertama karena memang banyak kekurangan secara teknis di sana-sini seperti nada sesi gesek yang sering fals ketika bermain dalam dinamika piano. Kedua, yang paling menggangu, adalah ketidaktegasan panitia dalam ‘mendidik’ penonton. Tiap satu bagian selesai dimainkan, berbondong-bondong penonton yang telat masuk dengan tidak tertib dan membuat kegaduhan. Bahkan pada bagian-bagian lain, penonton bisa dengan asik berjalan-jalan sementara para interpreter berusaha melawan gaduh di atas panggung.

Konser yang diselenggarakan oleh Rumah Kita, sebuah unit kegiatan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), yang memusatkan diri dalam membantu para perempuan dan anak korban kekerasan ini, menyajikan pameran lukisan ketika istirahat. Lukisan yang terjual, dananya dipakai untuk membiayai usaha mulia mereka ini.

Setelahnya, penonton kembali diajak bertekun untuk mendengar sajian musik berikutnya yang berjudul Magnificiat. Didaulatlah Fitri Muliati, soprano, dan Farman Purnama, tenor, sebagai solois. Dengan tambahan kibor, drum dengan tabuhan brush stick, dan saksofon sopran, babak kedua ini seperti membayar keragu-raguan di babak pertama. Nuansa jazzy terdengar amat manis menyelimuti karya yang biasanya haram dimainkan di luar pakem tata liturgi.

Paduan suara pun terdengar, juga terlihat, lebih rileks. Suaranya tidak lagi tertawan tapi bersorak mantap. Sopran yang sejak tadi terdengar samar, tampaknya mulai unjuk gigi setelah terlihat bahwa mic untuk mereka didekatkan posisinya. Apalagi kedua solois pun mampu membawakan lagu dengan rasa yang baru. Secara tekstur terdengar klasik dan akademis, tapi tidak secara rasa. Dua kubu sakral dan jazz dikawinkan dengan sempurna.

Karya ini diciptakan oleh seorang musisi yang dikenal sebagai virtuoso permainan tuba. Bahkan ada yang menjulukinya ‘Mozart-nya tuba’. Kejeniusan dan kedalaman musikalitasnya mengantarkan dia pada tantangan baru: menjadi komponis. Komponis muda Hungaria ini bernama Roland Szentpali.

Lewat karya Szentpali ini, babak kedua disajikan dengan amat menghibur. Sehingga kedua tangan Avip bukan saja menyihir bala pasukan musiknya, tapi juga menyihir penonton untuk tersenyum, menghentakkan kaki dan kepala mengikuti irama musik. Kedua tangan itu pula yang menyihir seisi ruangan untuk menghadiahkan tepuk tangan panjang yang dibalas olehnya dengan memberi beberapa encore yang tak kalah manis. Ah, dasar Avip Potter!

selusuri

Pada mulanya adalah sepi. Kemudian datang bunyi menggulung sepi itu dalam gelap.

ITULAH sepenggal nuansa yang terjadi di Gedung Kesenian Jakarta pada 3 Juni 2008. Nuansa itulah yang mengawali pertunjukkan musik Freres Ferre. Panggung yang awalnya gelap dan kosong, sunyi dan sepi, diusir oleh permainan gitar akustik milik dua kakak beradik itu, Boulou dan Elios. Dan mereka menghantam malam dengan musik yang mereka namakan gitar gipsi.

Sederhana dan santun. Kesan semacam itulah yang tertangkap dari permainan mereka berdua. Dengan santai dan tidak banyak basa-basi, Boulou, sang kakak, membiarkan penonton mencicipi permainan solo gitarnya untuk mengawali pembukaan. Kemudian denting gitar dari Elios menyusup dan terjalinlah dialog musikal yang manis di atas panggung.

Mendengar musik mereka berdua, kita semua akan sepakat untuk mengasosiakannya dengan musik jazz, bukan gipsi – seperti apa yang mereka akui. Pasalnya, segala syarat sebagai musik jazz – sinkopasi, improvisasi, blue note, swing­ – amat dipenuhi oleh mereka berdua. Mungkin label gipsi mereka usung sebagai gambaran akan musik mereka yang doyan menjelajah, menjajal kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakoni. Persis seperi ruh kaum gipsi di Eropa yang nomaden dan karenanya menempa hidup lebih keras dari masyarakat kebanyakan.

Kaum Gipsi adalah sebuah kelompok masyarakat yang sudah ada sejak lama di Eropa. Mereka hidup tidak menetap dan senang berpetualang. Nasib mereka yang mengalami banyak penolakan di sana-sini, membuat budaya mereka bertumbuh dalam pembauran budaya lokal setempat yang mereka singgahi. Sebagai kaum pinggiran, bahkan pernah diperbudak, kesenian mereka berkembang sebagai sebuah ekspresi kepedihan.

Freres Ferre mungkin mencoba mengolah persepsi gipsi sebagai kembara lewat musik yang mereka mainkan. Maka mereka sering mencampuradukkan berbagai gaya dan elemen musik. Misalnya, di lagu pertama ketika sedang berimprovisasi, Boulou memasukkan berbagai penggalan karya musik dunia seperti Simfoni No. 40­ milik Mozart, Asturias milik Isaac Albeniz, gaya-gaya virtuoso Fransisco Tarrega, sampai tema dari karya Gershwin yang populer, Rhapsody in Blue. Penjelajahan lain bisa kita lihat dari lagu yang lain, bagaimana Elios beberapa kali memakai tangga nada diminished dan blues ketika berimprovisasi.

Lain hal, di entah lagu yang keberapa – karena fungsi buku program acara tidak dipakai dengan semestinya, yakni memberi keterangan mengenai karya yang dibawakan – mereka berdua memainkan musik ala flamenco tradisional yang disisipi beberapa unsur modern. Sesekali di tengah improvisasi, Boulou bersorak, meneriaki diri atau lawan mainnya, persis seperti yang dilakukan musisi flamenco tradisional yang mengiringi penari.

Tapi selain itu, musik yang mereka bawakan tidaklah menawarkan sesuatu yang khas (kalau tidak mengatakan baru). Banyak sekali musisi jazz, bahkan dari Indonesia, yang mampu bermain seperti mereka, bahkan lebih baik secara teknik. Kedua musisi kakak beradik ini sering kali ‘terpeleset’ ketika sedang menunjukkan kebolehan. Kecepatan jari mereka tidak diimbangi dengan kesempurnaan produksi suara yang jernih, bersih, dan presisi. Padu padan suara gitar mereka berdua pun tidak akur. Gitar Boulou lebih melankolis, sedang Elios sangat lantang (karena penggunaan pick), tidak peduli bagaimana suasana lagunya.

Bagaimanapun, usaha Freres Ferre yang bermain dalam rangka Festival Seni Budaya Prancis ini patut mendapat apresiasi yang tinggi. Dengan tulusnya, musisi gaek ini menawarkan persahabatan yang hangat lewat misi kesenian mereka. Di akhir konser, musisi yang pernah meraih penghargaan Django d’Or pada tahun 2006 ini, membawakan satu karya yang manis, yang menutup malam itu dengan anggun. Sehingga setelahnya, panggung kembali sepi, disusupi malam yang dingin dan bisu.

Dimuat di KoKi (Kompas Kita)
selusuri

Dalam sepakbola, mungkin hanya Real Madrid, sebuah kesebelasan yang paling terobsesi untuk menyatukan pemain-pemain sepakbola terbaik dunia dalam satu klub.

SENADA dengan itu, rasa-rasanya Nusantara Symphony Orchestra (NSO) sebagai sebuah orkes musik klasik, memiliki obsesi yang sama bernafsunya dengan Real Madrid. Bedanya, NSO tampaknya sudah menunaikan obsesinya tersebut. Ya, musisi-musisi terbaik di tanah air berguyub di sana.

Setidaknya hal itu yang bisa terlihat dari pertunjukkan NSO pada 24 Mei 2008 lalu. Bertempat di Balai Sarbini, Semanggi, dan dengan mengenakan tajuk konser ‘Heart and Passion’, puluhan musisi di dalamnya menyuguhkan sebuah pertunjukkan musik yang jarang dipentaskan di Indonesia, pertunjukkan orkestra. Dan tentu saja, berbekal kemampuan tiap individu yang sudah matang, NSO berhasil memperdengarkan sajian musik yang bermutu malam itu. Dengan begitu, pantaslah kalau NSO mendeklarasikan diri sebagai salah satu kelompok orkes terbaik yang dimiliki negeri ini.

Meluncurlah sebuah karya simfoni sebagai hidangan pembuka. Tak tanggung-tanggung, karya Ludwig van Beetoven (1770 – 1827) yang amat populer dibawakan sebagai ‘pemanasan’. Symphony No. 5 nama karya itu. Di bawah arahan konduktor berkebangsaan Jepang, Hikotaro Yazaki, tanpa basa-basi lagu tersebut langsung memukau penonton.

Karya yang terdiri dari 4 bagian ini – Allegro con brio, Andante con moto, Scherzo, Allegro-Presto – dibuka dengan lugas dengan temanya yang hanya terdiri dari motif empat not. Empat not yang pendek-pendek-pendek-panjang inilah yang kemudian menjadi ide dasar karya yang ditulis antara tahun 1804 – 08 ini. Beethoven sangat tahu mengolah ide musikalnya menjadi begitu besar (banyak) dengan bahan yang sedikit saja. Karena hanya dari tema utama empat not itulah – yang berfungsi sebagai melodi juga sebagai pola ritmik – karya ini dikembangkan.

Karya yang bertonalitas C minor ini, mempunyai banyak pilihan interpretasi. Ada yang mengolahnya menjadi karya yang mengalun berat. Ada juga yang menjadikannya sedikit ringan. Penampilan NSO malam itu, dalam komando Yazaki, sang konduktor, tampaknya memilih tafsir yang kedua. Maka sejak awal penonton serasa diajak melayang bersama padu-padan bunyi orkes lewat alunan yang lembut ringan itu, tanpa mengurangi porsi karakter Bethoven yang emosional.

Lewat nuansa karya ini, kita bisa mengenal perangai Beethoven. Karya ini tidak memperlihatkan sisi lembut Beethoven, namun justru mewakilkan sisi ekstrovert dan emosionalnya. Pilihan tonalitas C minor pastinya bukan tanpa maksud, tapi untuk mengentalkan karakter Beethoven itu. Dan NSO, cukup tahu bagaimana menghidupkan ruh komponis Jerman ini kembali. Dinamika yang dibangun sedemikian mulus dan menyita kesempatan penonton untuk sejenak menghela napas panjang.

Kesempurnaan itu sebenarnya bisa semakin lengkap bila suara instrumen tiup logam (brass) – khususnya french horn – dapat melebur lebih padu. Pasalnya, sesi tiup tersebut serasa memiliki jarak warna suara yang jauh antara instrumen lainnya, dan ini menganggu keutuhan jalinan suara orkes yang padu. Hal ini amat terdengar jelas pada bridge pendek sebelum masuk tema kedua.

Seusai jeda, karya opera yang sangat terkenal dijajal musisi-musisi NSO untuk diolah dan disajikan ke hadapan penonton. Opera yang ditulis Georges Bizet (1838 – 1875) ini diberi judul Carmen Suite. Bizet yang orang Prancis, ketika mudanya pernah hidup di Italia, negara di mana opera berkembang, selama beberapa tahun. Kemudian, opera yang berdasar pada sebuah novel milik Prosper Merimee dengan judul yang sama ini, ia selesaikan pada tahun 1874 karena permintaan direktur musik tempatnya bekerja.

Opera yang berlatar di Spanyol ini, mengkisahkan tentang seorang perempuan gipsi cantik bernama Carmen. Perempuan temperamental ini terlibat kisah asmara dengan Don Jose, seorang kopral tentara, yang sebenarnya sudah bertunangan dengan Micaela. Lalu munculah satu tokoh lagi yang memperebutkan Carmen, Escamillo. Kisah ini berakhir tragis karena Carmen akhirnya mati dibunuh oleh Don Jose.

Setelah dibuka dengan pembukaan yang bersemangat, dimulailah adegan pertama yang menampilkan Carmen. Tokoh Carmen ini dibawakan oleh mezzo-soprano, Sarah Sweeting dari Inggris. Dengan centilnya, Sarah amat fasih membawakan karakter Carmen yang menggairahkan, urakan, tapi mempesona laki-laki. Suaranya yang bertenaga menegaskan bahwa Carmen yang buruh memang tidak terbiasa dengan aturan kesopanan. Usaha Sarah untuk melakoni Carmen sangat lengkap. Ia mencoba untuk mengeksplorasi warna suaranya untuk memberi pemahaman emosi musikalis. Gestur tubuh dan raut mukanya pun turut berbicara banyak.

Sayang, penampilan yang ekspresif dan sedikit teatrikal dari Sarah tidak diimbangi dengan lawan mainnya Ndaru Darsono (tenor sebagai Don Jose), Aning Katamsi (soprano sebagai Micaela), dan Harland P. Hutabarat (baritone sebagai Escamillo). Ketiganya tampak dingin dan enggan meladeni Sarah. Tapi di sisi lain, ketiganya membuktikan, lewat suara, bahwa merekalah penyanyi terbaik di tanah air. Vokal bening Aning, walau tidak sekuat Sarah sangat santun didengungkan. Harland dan Ndaru pun berseloroh tak ketinggalan untuk meramaikan dialog demi dialog.

Yazaki yang ekspresif sepertinya juga amat tahu untuk selalu tampil beda. Ini terlihat kita sesi tiup mengambil posisi di balkon, menjauhi panggung. Mereka memainkan tema pada bagian pembukaan berulang kali dan membuat penonton tertawan untuk tetap tekun mendengar bahasa bunyi yang disampaikan. Tapi sayang, akustik Balai Sarbini yang tidak sempurna, membuat sesi ini kurang greget. Namun hal ini tidaklah mengurangi apresiasi penonton dengan tetap memberikan tepuk tangan panjang. Andai apresiasi yang sama juga hadir lewat pencantuman nama-nama musisi di buku acara, bukan hanya deretan nama-nama petinggi dan sponsor.

Di atas panggung yang dibuat tanpa dandanan itu, yang tidak melayani kebutuhan visual, Yazaki dan bala tentaranya masih membuktikan, bahwa kesenian bukanlah sebuah produk jadi. Melainkan sebuah proses yang harus terus menerus dimaknai dan dilagukan dalam keseharian. Lewat kelompok orkes sekelas NSO, kita diingatkan bahwa kesenian, khususnya musik klasik, membutuhkan apresiasi agar konteks seni dan realita yang sering didebat dapat berbenturan dan menemukan jawabnya. Semoga.

selusuri